Ironi Larangan Honorer: Administrasi Tertata, Sekolah Krisis Guru

Kondisi pendidikan di sekolah di Kabupaten Bone Sulsel tengah berada dalam titik yang ironis. Kini sejumlah sekolah mengalami krisis guru di tengah upaya menata administrasi kepegawaian dengan aturan larangan guru honorer.

Ketua Kelompok Kerja Kepala (K3S) Kecamatan Bengo, Muh Akib mengatakan, hingga saat ini di wilayah Kecamatan Bengo banyak sekolah yang alami kekurangan guru. Pihak sekolah pun dilematis untuk merekrut tenaga guru honorer karena terbentur aturan.

Ia berpandangan, aturan pelarangan penerimaan atau pengangkatan guru honorer, semacam sukses menata administrasi kepegawaian sekolah. Namun disisi lain dalam proses itu, sekolah tengah mengalami kekurangan guru.

ADVERTISEMENT

“Di Bengo banyak Sekolah yang kekurangan Guru, tapi belum ada regulasi untuk merekrut tenaga honorer. Jadi teman-teman belum berani menerima tenaga honorer, ” ungkapnya kepada FAJAR PENDIDIKAN baru-baru ini.

Baca Juga:  Khidmat dan Penuh Semangat, SD Komp Galangan Kapal Peringati Hardiknas 2026 di Karebosi dan Lingkungan Sekolah

Kepala UPT SD Negeri 145 Mattirowalie ini menyebutkan, untuk di sekolah yang dipimpinnya, guru masih tercukupi. Hanya saja, kata dia, kekurangan operator sekolah lantaran yang sebelumnya lulus di luar provinsi.

Salah satu sekolah yang alami kesenjangan antara kebijakan administratif dan realita lapangan ini yakni di UPT SD Inpres 5/81 Lili Riawang. Sekolah ini kekurangan guru olahraga, namun tidak bisa menerima guru honorer, sehingga pelajaran olahraga murid berjalan tanpa guru olahraga.

ADVERTISEMENT
Baca Juga:  Dua Sekolah di Ulaweng Raih Juara Umum Perkemahan PKS

“Di sini masih kurang guru olahraga, kita tak bisa juga menerima guru honorer. Jadi biasa saya yang isi atau guru, tapi beda kalau guru olahraga, memang maksimal,”ungkap Kepala UPT SD Inpres 5/81 Lili Riawang, Hj Rosdiana.

Hal senada juga diakui Ketua K3S Kecamatan Ulaweng, Zainal Abidin. Ia mengatakan sejumlah sekolah di Kecamatan Ulaweng juga mengalami krisis guru olahraga dan guru kelas, sehingga proses belajar mengajar kurang maksimal.

“Ada beberapa sekolah kekurangan guru olahraga atau guru kelas. Bahkan ada guru jadi Plt/Plh Kepsek, jadi kalau misal nanti defintif, lebih kurang lagi gurunya, ” ungkapnya.

Bagikan:

BERITA TERKAIT

ARTIKEL POPULER

BERITA TERBARU