Kisah Nabi Nuh AS selalu identik dengan bahtera raksasa yang menjadi sarana keselamatan makhluk hidup dari banjir besar. Kapal tersebut bukan sekadar alat transportasi, melainkan mukjizat Allah SWT yang menyelamatkan kehidupan di bumi dari kehancuran total.
Pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana berbagai jenis makhluk hidup dapat bertahan hidup di dalam kapal selama banjir berlangsung, serta jenis apa saja yang diangkut dalam bahtera tersebut.
Mukjizat Bahtera Nabi Nuh AS
Sebelum peristiwa banjir besar terjadi, Allah SWT telah membekali Nabi Nuh AS dengan mukjizat berupa kemampuan membangun kapal berukuran sangat besar. Hal ini dijelaskan dalam buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul karya Aifa Syah.
Kapal tersebut dibangun atas perintah langsung dari Allah SWT sebagai persiapan menghadapi azab berupa banjir yang akan menenggelamkan seluruh bumi. Meski kaumnya menertawakan dan menganggapnya sebagai sihir, Nabi Nuh AS tetap teguh melaksanakan perintah tersebut.
Ketika banjir benar-benar datang, bahtera Nabi Nuh AS mampu bertahan mengarungi air bah dalam waktu yang lama hingga akhirnya bumi kembali mengering.
Hewan-Hewan yang Masuk ke Kapal Nabi Nuh AS
Dikisahkan dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin al-Qalyubi, setelah bahtera selesai dibangun, Allah SWT membuat kapal tersebut berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami manusia. Bahtera itu menyatakan dirinya sebagai perahu keselamatan bagi siapa saja yang beriman dan menaikinya.
Atas perintah Allah SWT, Nabi Nuh AS kemudian memanggil seluruh jenis makhluk hidup—mulai dari hewan buas, burung, hingga hewan melata—untuk masuk ke dalam kapal sebelum azab diturunkan. Nabi Nuh AS juga menyiapkan kandang-kandang khusus agar setiap hewan dapat hidup dengan tertib.
Malaikat Jibril AS diturunkan untuk mengawasi dan menjaga ketertiban di dalam kapal, sehingga kelangsungan hidup makhluk-makhluk tersebut tetap terjaga.
Allah SWT memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membawa sepasang dari setiap jenis hewan, sebagaimana tertuang dalam Surah Hud ayat 40. Perintah ini menjadi dasar keberlangsungan spesies makhluk hidup di bumi hingga hari ini.
Riwayat Menarik Tentang Hewan Pertama dan Terakhir
Dalam penjelasan Ibnu Katsir yang bersumber dari riwayat Ibnu Abbas RA, disebutkan bahwa:
- Hewan pertama yang masuk ke kapal Nabi Nuh AS adalah burung kakatua.
- Hewan terakhir yang menaiki kapal adalah keledai.
- Iblis dikisahkan ikut masuk ke dalam kapal dengan bergelantung pada ekor keledai.
Riwayat lain menyebutkan bahwa para pengikut Nabi Nuh AS sempat khawatir hidup berdampingan dengan hewan buas seperti singa. Namun, atas izin Allah SWT, singa diturunkan penyakit demam sehingga menjadi jinak. Riwayat ini juga menyebutkan bahwa demam adalah penyakit pertama yang diturunkan ke bumi.
Selain itu, ketika para pengikut mengeluhkan tikus yang merusak persediaan, Allah SWT mengilhamkan singa untuk bersin, lalu keluarlah kucing darinya. Kehadiran kucing membuat tikus-tikus bersembunyi. Meski demikian, sebagian ulama menilai riwayat ini berstatus mursal.
Manusia dan Hewan sebagai Cikal Bakal Kehidupan
Dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, dijelaskan bahwa orang-orang yang berada di dalam bahtera Nabi Nuh AS merupakan nenek moyang manusia saat ini. Hal yang sama juga berlaku bagi hewan-hewan yang diselamatkan.
Makhluk hidup yang tidak masuk ke dalam bahtera musnah oleh banjir, sedangkan yang diselamatkan berkembang dan melanjutkan kehidupan di bumi.
Susunan Isi Kapal Nabi Nuh AS
Riwayat menyebutkan bahwa bahtera Nabi Nuh AS disusun secara bertingkat dengan pembagian sebagai berikut:
- Tingkat pertama: Dihuni sekitar 80 laki-laki dan perempuan, serta Tabut yang berisi peninggalan suci seperti Adam dan Hawa, Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, serta tongkat para nabi.
- Tingkat kedua: Ditempati hewan buas, hewan melata, dan hewan sembelihan.
- Tingkat ketiga: Diisi oleh berbagai jenis burung.
- Tingkat keempat: Berisi berbagai jenis pohon.
- Tingkat kelima: Ditempati hewan bercakar seperti harimau dan singa.
- Tingkat keenam: Diisi oleh ular dan kalajengking.
- Tingkat ketujuh: Diperuntukkan bagi gajah.
Kisah bahtera Nabi Nuh AS bukan hanya menggambarkan kedahsyatan azab Allah SWT, tetapi juga menunjukkan kasih sayang-Nya dalam menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi melalui iman, ketaatan, dan mukjizat.
Wallâhu a‘lam.
