Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 190–191 Kurikulum Merdeka: Materi menceritakan kearifan lokal secara runut dan runtut menjadi bagian penting dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas XII Kurikulum Merdeka. Pembahasan ini terdapat dalam buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK/MA Kelas XII karya Bambang Trimansyah pada halaman 189–191, terbitan Pusat Perbukuan Kemendikbudristek tahun 2022.
Dalam materi tersebut, siswa diarahkan untuk mampu menjelaskan sebuah kisah atau informasi dengan urutan yang jelas, logis, dan mudah dipahami audiens. Penyampaian cerita juga perlu disertai contoh konkret serta intonasi yang sesuai agar pesan kearifan lokal dapat diterima secara utuh.
Sebagai penguatan, siswa diingatkan kembali pada materi sebelumnya mengenai penyusunan cerita dengan alur maju maupun sorot balik, serta pengorganisasian informasi berdasarkan urutan tahapan (hierarkis) dan urutan proses (prosedural). Pendekatan ini membantu siswa menyusun cerita dari umum ke khusus, dari awal ke akhir, atau berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Pada Bab 5 Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal, siswa diminta menyimak video tentang kehidupan masyarakat Baduy. Selanjutnya, pada halaman 190–191 bagian Ayo Berlatih, siswa ditugaskan mengungkapkan kembali isi video tersebut secara lisan dan mencari contoh kearifan lokal lain di lingkungan sekitar.
Berikut ini kunci jawaban yang dapat dijadikan referensi belajar dan pendampingan.
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 190–191
Ayo Berlatih
1. Mengungkapkan Kembali Isi Video tentang Kearifan Lokal Suku Baduy
Masyarakat suku Baduy yang bermukim di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam dikenal sangat teguh memegang adat leluhur dengan membatasi diri dari pengaruh modernisasi. Ciri khas mereka tampak dari pakaian putih polos dan ikat kepala sederhana sebagai simbol kesucian dan kepatuhan terhadap adat.
Sementara itu, Baduy Luar menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap dunia luar, termasuk dalam hal komunikasi dan interaksi sosial. Meski demikian, kedua kelompok tetap disatukan oleh nilai utama kehidupan, yaitu menjaga keseimbangan alam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur atau Karuhun.
Kearifan lokal Baduy tercermin jelas dalam tata ruang permukiman dan arsitektur rumah. Rumah-rumah dibangun berbentuk panggung untuk menyesuaikan kondisi alam pegunungan yang lembap dan dingin. Arah bangunan yang menghadap selatan juga memiliki makna spiritual sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan. Dalam kehidupan sehari-hari, tungku masak tidak boleh menyentuh tanah secara langsung karena diyakini dapat merusak keseimbangan alam.
Selain itu, masyarakat Baduy sangat menjaga kelestarian Sungai Ciujung dengan aturan ketat terkait aktivitas di sekitarnya. Sungai dipandang sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dari hulu hingga hilir. Dalam bidang ekonomi, mereka mengandalkan hasil alam secara bijak, seperti pembuatan gula aren yang dilakukan secara tradisional di tempat khusus agar keamanan kampung tetap terjaga.
Ketahanan pangan masyarakat Baduy juga terlihat melalui sistem leuit atau lumbung padi. Padi disimpan dalam jangka waktu lama dan hanya digunakan untuk kebutuhan adat atau kondisi darurat. Tradisi ini menunjukkan perencanaan hidup yang matang serta sikap hemat dan bertanggung jawab terhadap alam.
Meskipun sebagian masyarakat Baduy Luar mulai memanfaatkan teknologi sederhana seperti telepon genggam untuk belajar secara mandiri, nilai kebersamaan tetap dijaga melalui tradisi ngawangkong atau berkumpul bersama pada malam hari tanpa listrik. Pilihan hidup sederhana ini bukanlah bentuk keterbelakangan, melainkan kesadaran untuk menjaga alam dan warisan budaya sebagai identitas bangsa.
2. Contoh Kearifan Lokal di Lingkungan Masyarakat
a. Contoh Kearifan Lokal
Salah satu contoh kearifan lokal yang masih hidup hingga kini adalah tradisi Sasi di wilayah Maluku dan Raja Ampat. Sasi merupakan aturan adat yang melarang pengambilan sumber daya alam tertentu, baik di laut maupun di darat, dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Tujuannya adalah memberi kesempatan alam untuk memulihkan diri agar ekosistem tetap seimbang.
Pelaksanaan Sasi dipimpin oleh tokoh adat dengan pemasangan tanda khusus sebagai penanda wilayah yang ditutup. Selama masa tersebut, masyarakat dilarang memanen hasil alam hingga tiba waktu Buka Sasi.
b. Bukti Tradisi Masih Dilaksanakan
Tradisi Sasi masih dijalankan hingga sekarang karena diyakini membawa manfaat nyata. Di wilayah Raja Ampat, Sasi Laut diterapkan untuk melindungi teripang, lobster, dan lola. Masyarakat percaya bahwa pelanggaran terhadap Sasi akan mendatangkan sanksi adat maupun sosial. Ketika masa Buka Sasi tiba, hasil panen terbukti lebih melimpah dan menguntungkan.
Selain itu, upacara Tutup dan Buka Sasi masih dilakukan secara sakral dan melibatkan seluruh warga desa. Bahkan, tradisi ini kini didukung oleh lembaga konservasi modern karena terbukti efektif menjaga keberlanjutan lingkungan.
c. Laporan Kegiatan
Laporan hasil kegiatan disusun berdasarkan tanggapan, pertanyaan, dan pendapat audiens yang hadir saat pemaparan. Isi laporan dapat disesuaikan dengan kondisi dan hasil diskusi masing-masing kelompok.
Disclaimer:
Jawaban ini disajikan sebagai referensi pembelajaran. Soal bersifat terbuka sehingga jawaban siswa dapat bervariasi sesuai pemahaman, sudut pandang, dan konteks lingkungan masing-masing.
