Tuesday, July 7, 2020

Mahasiswa Unhas Olah Kotoran Sapi dan Limbah Pertanian jadi Pakan dan Pupuk

Takalar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang tergabung dalam Penerima Beasiswa Yayasan Kalla yang bekerja sama dengan Unhas Reski Amalia (Peternakan 2017) dan Fajar (Sospol 2015) melakaukan pengabdian di Desa Balangtanaya Kabupaten Takalar sealama kurang lebih satu bulan.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut salah satu kegiatan yang dilakukan adalah Pelatihan Pengolahan limbah pertanian dan peternakan jadi pakan dan pupuk.

Kegiatan tersebut mengundang fasilitator dari Dosen Peternakan Unhas Sema, M P., yang membawakan teori dan praktik pengolahan limbah peternakan dan pertanian menjadi pakan ternak dan pupuk.

Turut Hadir Sekertaris Dinas Pertanian Takalar, Kordinator Penyuluh Kecamatan Polombangkeng Utara dan Kelompok Tani se Desa Balangtanaya. Masyarakat antusias dalam mendengarkan dan turut berptisipasi dalam membuat pakan dan pupuk.

Kepala Desa Balangtanaya Dewagun Hasyim dalam sambutannya sangat berterima kasih kepada Yayasan Kalla dan Unhas yang telah menyempatkan untuk berpartisipasi dalam memberikan pelatihan kepada Masyarakat Desa Balangtanaya dan berharap kelak sampah-sampah pertanian dan kotoran ternak di Desa Balangtanaya bisa menjadi Dollar.

“Saya selaku pemerintah Desa sangat berharap dengan kedatangan Yayasan Kalla dan Universitas Hasanuddin di Desa Balangtanaya kelak bisa membawa Masyarakat Balangtanaya bisa lebih sejahtera kedepan dan mengharapkan masyarakat bisa mengubah sampah-sampah dan kotoran sapi jadi Dollar,” tutupnya.

Sementara itu Sema salaku fasilitator berharap kepada masyarakat agar tidak segan-segan untuk memulai dan bertanya jika ada hal-hal yang dibutuhkan dalam pengolahan limbah pertanian dan ternak.

“Saya berharap ini bisa ditindaklanjuti oleh masyarakat dan mau sedikit demi sedikit meninggalkan penggunaan bahan kimia menjadi organik, ini demi keberlanjutan Balangtanaya kedepan agar tetap berkelanjutan dan terhindar dari efek negatif penggunaan baham kimia yang terlalu berlebihan, saya siap datang di Balangtanaya jika dipanggil lagi. Tetapi di waktu libur yakni Sabtu dan Minggu,” kata Dosen Muda yang akrab dipanggil Sema itu. (FP/*)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

Tiga Peserta UTBK Berkebutuhan Khusus Ikut Ujian di UNM Makassar

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Tiga peserta Ujian Tes Berbasis Komputer (UTBK) dengan berkebutuhan khusus mengikuti ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN)...

Pendaftaran UMPTKIN 2020 Ditutup, UIN Alauddin Peringkat Pertama Kampus Paling Diminati

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) tahun 2020 telah resmi ditutup pada Minggu (5/7/2020). Dari...

Pustakawan dan Organisasinya

REFLEKSI HUT IPI KE 47 | 7 JULI 1973 -  7 JULI 2020Oleh: Tulus Wulan Juni (Pustakawan Madya Dinas Perpustakaan Kota Makassar)

Dosen Unhas Segera Lakukan Rapid Test, Berikut Jadwalnya

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Upaya melakukan pemutusan rantai penularan Covid-19, sebanyak 1.652 dosen Universitas Hasanuddin dari seluruh fakultas dan program studi akan segera...

Dear Mahasiswa, Ini Syarat Penerima Bantuan Keringanan Biaya Kuliah di Masa Pandemi

FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemerintah mengeluarkan aturan keringanan uang kuliah tunggal bagi mahasiswa yang terkena dampak Covid-19. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun...

REKOMENDASI