Barru – Gedung UPTD SD Negeri 181 Barru di Desa Lampoko, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, kini tampak memprihatinkan.
Bangunan yang baru diresmikan pada 13 Februari 2024 itu sudah mengalami kerusakan di sejumlah bagian meski usianya belum genap dua tahun.
Pantauan di lokasi, Senin (29/9/2025), terlihat rangka besi dan atap terlepas serta menggantung berbahaya. Dinding dan tangga juga mulai retak sehingga memicu kekhawatiran terkait keselamatan siswa dan guru.

Kerusakan ini memunculkan tanda tanya besar mengenai kualitas pembangunan gedung sekolah yang seharusnya menjamin kenyamanan dan keamanan proses belajar mengajar.
Kepala SD Negeri 181 Barru, Suraidah, menyebut kerusakan atap disebabkan sambungan besi hollow yang tidak kokoh. “Saat angin kencang, atap langsung terbang. Saya juga sudah melaporkan hal ini, bahkan ke bagian bencana alam,” ujarnya kepada Fajar Pendidikan.
Menurutnya, pembangunan gedung tersebut semula dianggarkan Rp2,4 miliar, namun setelah proses lelang turun menjadi Rp2,2 miliar.
“Bahkan meja sekolah habis dipakai tukang untuk memanjat. Memang tidak pernah ada pengadaan kursi dan meja di sini. Saya juga disuruh memasang prasasti gedung, padahal itu bukan kewajiban saya,” keluhnya.
Suraidah juga menyinggung adanya material sekolah yang ikut dipakai untuk pembangunan musholla.
“Batu-batu sekolah kemarin dipakai, tapi sampai sekarang tidak diganti,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki kerusakan tersebut agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu dan keselamatan siswa tetap terjaga.

Terpisah, Kepala Inspektorat Kabupaten Barru, Abdul Rahim, saat dikonfirmasi menyebut kerusakan gedung itu kemungkinan akibat bencana alam.
“Tapi saya akan tindak lanjuti nanti, Pak,” singkatnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Barru, Andi Adnan Azis, belum memberikan komentar meski sudah dihubungi melalui pesan WhatsApp.
Di sisi lain, Ismail dari bidang Prasarana menjelaskan bahwa pembangunan gedung sekolah tersebut masih dalam masa retensi pada 2024, sementara kerusakan baru terjadi pada 2025.
“Itu bencana. Memang ada laporan bencana, mungkin saja tidak tercantum dalam RAB-nya,” jelasnya.
Hengki
