Friday, August 14, 2020

Rektor Unhas Pantau Langsung Rapid Test Massal Bagi Dosen

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. memantau secara langsung penyelenggaraan rapid test massal bagi seluruh dosen lingkup Unhas.

Kegiatan berlangsung di GOR Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Rabu (08/07).

Rapid test kali ini rencananya akan diikuti oleh 1.652 dosen Universitas Hasanuddin dari seluruh fakultas dan program studi. Dosen-dosen yang akan mengikuti rapid test dijadwalkan sesuai fakultas.

Dalam kunjungannya, Prof Dwia melihat secara langsung jalannya rapid test. Menurutnya, rapid test menjadi salah satu langkah Unhas dalam mendukung program pemerintah memutus mata rantai penyebaran Covid-19, sekaligus memastikan sumber daya manusia (SDM) Unhas dalam keadaan sehat sebelum menyambut mahasiswa baru.

“Kita harapkan semua dosen bisa berpartisipasi untuk memeriksakan diri mereka. Jangan takut untuk ikut, niat kita baik untuk melindungi mereka dan orang-orang sekitar. Semoga antusiasme dosen untuk test sesuai dengan yang kita harapkan,” jelas Prof Dwia.

Sebelumnya, Unhas telah melakukan test massal kepada para pegawai dan tenaga kependidikan. Saat ini, Unhas fokus untuk kembali melakukan test massal kepada dosen lingkup Unhas. Selain sebagai upaya pencegahan, hal ini dilakukan sebagai langkah edukasi kepada masyarakat luas yang sebelumnya menolak rapid test.

Sesuai jadwal, test massal untuk dosen ini akan berlangsung hingga 10 Juli mendatang. Olehnya itu, Prof Dwia berharap agar seluruh pimpinan fakultas bisa berkoordinasi dan mengarahkan dosen dosen mereka untuk memanfaatkan fasilitas test massal ini guna mengetahui kondisi kesehatan sebelum melakukan aktivitas akademik dan bertemu dengan banyak orang.

Pada hari pertama, ditemukan sebanyak delapan orang dosen yang reaktif, berasal dari empat fakultas yang berbeda, yaitu Fakultas Hukum (satu orang), Fakultas Ilmu Budaya (dua orang), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (satu orang), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (empat orang).

Dosen-dosen yang reaktif tersebut segera ditangani oleh dokter, dan diminta untuk melakukan isolasi mandiri.

Selanjutnya, dosen-dosen ini akan dilakukan pengambilan sampel swab untuk melakukan test PCR.(*)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak
MAJALAH FAJAR PENDIDIKAN

TERKINI

OPINI : Sekolah Tatap Muka Antara Harapan dan Minimnya Persiapan

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Pandemi Covid-19 saat ini masih belum usai, selama hampir 4 bulan lebih Indonesia Lockdown yang berarti segala aktivitas seperti sekolah,...

Hasan Sijaya: Seni Budaya Kita di Sulsel Tidak Kalah Dengan Daerah Lain

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh. Hasan Sijaya, membuka acara Festival Tari Pakarena Turiolo dan Tunrung Rinci...

Wadan Lantamal VI Bersama Forkopimda Sulsel Ikuti Rakorsus Tingkat Menteri Melalui Vidcon

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Wakil Komandan (Wadan) Lantamal VI Kolonel Laut (P) Baroyo Eko Basuki, S.H., M.M., bersama Forkopimda Sulsel mengikuti Rapat Koordinasi...

Jalin Silaturahmi, STIE Nobel Indonesia Jajaki Potensi Kerjasama dengan HIPMI Sulsel

FAJARPENDIDIKAN.co.id - STIE Nobel Indonesia melakukan pertemuan dengan jajaran pengurus DPD HIPMI Sulsel yang dihadiri langsung oleh ketua dua lembaga tersebut, Dr...

Rasa dan Wanginya Beda-beda, Ini nih Jenis Beras Putih Lokal Favorit Orang Indonesia

FAJARPENDIDIKAN.co.id - Nasi adalah makanan pokoknya orang Indonesia. Nggak heran kalau ada ungkapan, ‘Belum makan namanya kalau belum makan nasi’. Saking vital...

REKOMENDASI