Renungan Harian Kristen, Sabtu 11 Maret 2023: Ketaatan pada Penglihatan dari Surgawi

Renungan Harian Kristen hari ini, Sabtu 11 Maret 2023 berjudul: Ketaatan pada Penglihatan dari Surgawi.

Bacaan untuk Renungan harian Kristen hari ini diambil dari Kitab Kisah Para Rasul 26:19

Renungan harian Kristen hari ini mengisahkan tentang Ketaatan pada Penglihatan dari Surgawi.

- Iklan -

Kisah Para Rasul 26:19 – Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat.

Pengantar:

Renungan hari ini berbicara tentang makna visi surgawi dalam hidup kita.

- Iklan -

Namun, visi itu tidak pernah mendapat tempat bagi penggenapannya dalam hidup kita karena kita terjebak oleh berbagai kesibukan.

Renungan ditutup dengan, “… jika kita memilih sendiri tempat kita akan ditanam oleh Allah, kita akan terbukti kelak tidak produktif seperti ‘kulit kacang yang hampa’”.

Renungan Harian Kristen Sabtu 11 Maret 2023

Jika kita kehilangan “penglihatan yang dari surga” yang telah diberikan Allah kepada kita, kita sendirilah yang bertanggung jawab — bukan Allah.

- Iklan -

Kita kehilangan visi surgawi itu karena kurangnya pertumbuhan rohani kita sendiri.

Jika kita tidak menerapkan kepercayaan kita tentang Allah ke dalam urusan hidup kita sehari-hari, visi yang diberikan Allah kepada kita tidak akan pernah digenapi.

Baca Juga:  "Sujud Sahwi" Bila Ada Kelupaan dalam Salat

Satu-satunya cara untuk mematuhi visi surgawi adalah memberikan seluruh pengabdian kita untuk meninggikan-Nya — yang terbaik dari kita untuk kemuliaan-Nya.

Hal ini dapat terlaksana hanya bila kita bertekad untuk terus mengingat dan mengingat kembali visi Allah.

Akan tetapi, ujian bagi ketaatan kita kepada visi tersebut adalah dalam detail hidup sehari-hari kita — dalam setiap detik atau menit-nya — bukan hanya pada saat doa pribadi atau ibadah kebaktian.

“Sebab penglihatan … apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu …” (Habakuk 2:3).

Kita tidak dapat menggenapi visi atau penglihatan itu dengan usaha kita sendiri, tetapi harus hidup di bawah ilham-nya sampai visi itu digenapi.

Kita dapat begitu sibuk dengan kegiatan sehingga kita lupa akan visi tersebut. Pada awalnya kita memberikan perhatian, tetapi kita tidak menantikannya.

Kita dikejar-kejar oleh kegiatan dan ketika visi digenapi, kita bahkan tidak dapat melihatnya lagi.

Menantikan penglihatan yang “berlambat-lambat” merupakan ujian sesungguhnya dari kesetiaan kita kepada Allah.

Baca Juga:  Mengetuk Pintu Langit di Bulan Ramadan (1)

Kita sesungguhnya membiarkan hidup jiwa kita dalam bahaya dengan membiarkan diri kita terperangkap dalam berbagai kesibukan kegiatan kita sehingga kehilangan penggenapan dari visi atau penglihatan tersebut.

Perhatikanlah (datangnya) badai Allah. Satu-satunya cara Allah “menanam” orang percaya adalah melalui pusaran badai-Nya.

Maukah kita ternyata hanya “kulit kacang yang hampa tanpa kacang di dalamnya”? Hal itu akan tergantung pada benar atau tidaknya kita hidup dalam terang visi yang telah kita lihat.

Biarlah Allah mengutus kita melalui badai-Nya, dan jangan pergi sebelum Dia melakukannya.

Jika kita memilih sendiri tempat kita akan ditanam, kita akan terbukti kelak tidak produktif seperti “kulit kacang yang hampa”.

Namun, jika kita mengizinkan Allah menanam kita, kita akan “berbuah banyak” (Yohanes 15:8). Penting bagi kita untuk hidup “berjalan dalam terang” visi Allah bagi kita (1 Yohanes 1:7).

Demikian Renungan hari ini Sabtu 11 Maret 2023 diambil dari Kisah Para Rasul 26:19 yang mengisahkan tentang Ketaatan pada Penglihatan dari Surgawi dan disadur dari Renungan Oswald Chambers//alkitab.mobi.

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU