Kamis, Januari 28, 2021

Riset: Dampak Psikologis Lockdown Bisa Kurangi Umur Manusia

FAJARPENDIDIKAN.co.id – Lockdown dan pembatasan sosial akibat pandemi virus Corona, punya dampak psikologis bisa mengurangi umur manusia. Makanya, jangan lupa bahagia saat di rumah saja.

Itulah hasil riset tim ilmuwan pada sebuah penelitian di Swiss yang diterbitkan di jurnal medRxiv. Ini adalah jurnal untuk peer review, yang artinya sedang dalam kajian antara para ilmuwan sebelum dipublikasikan dalam jurnal resmi.

Judul risetnya adalah: Years of life lost due to the psychosocial consequences of COVID19 mitigation strategies based on Swiss data. Ada 4 ilmuwan dipimpin Dominik Moser dari Institute of Psychology Bern, Swiss dan ada 6 universitas yang terlibat dari Swiss, Kanada dan Amerika.

Dalam publikasi yang dilihat detikINET, Selasa (19/5/2020) tim ilmuwan ini menjelaskan, strategi mitigasi sosial yang diterapkan pemerintah menyebabkan masalah kesehatan mental. Akibatnya, masalah psikologis ini berpotensi mengurangi umur manusia dari rata-rata usia harapan hidup manusia.


Inilah yang disebut ‘years of life lost’ (YLL) yaitu selisih usia dalam kasus kematian karena sebab tertentu dengan rata-rata usia harapan hidup di negara tersebut. Studi ini dilakukan di Swiss.

Para ilmuwan mencatat masalah psikologis akibat lockdown selama pandemi corona adalah bunuh diri, depresi, alkoholik, trauma anak akibat KDRT, perceraian dan isolasi sosial. Riset dilakukan selama 3 bulan lockdown.

Hasilnya cukup mengejutkan, rata-rata orang kehilangan 0,2 tahun umurnya karena dampak psikologis lockdown COVID-19. Tapi ada 2,1% populasi yang kehilangan umur sampai 9,79 tahun YLL.


Ketika dijabarkan per kategori kasus psikologis potensi umur berkurang atau hilang per orang berbeda-beda. Berikut adalah kasus dan jumlah umur yang hilang per orang:

1. Bunuh diri (34,4 tahun)
2. Perceraian (3,5 tahun)
3. Perceraian yang mempengaruhi anak (4 tahun)
4. KDRT yang mempengaruhi anak (2,37 tahun)
5. Depresi (6,82 tahun)
6. Alkoholik (17,67 tahun)
7. Pengucilan diri (12,03 tahun)

Kesimpulannya, tim ilmuwan ini menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan masalah kesehatan mental dalam membuat kebijakan terkait lockdown dan pembatasan sosial. Nah, bagaimana untuk kita sendiri?

Agak seram juga ya membaca hasil riset ini. Tapi kita bisa mengambil pelajaran, bahwa selama PSBB, work from home karena pandemi, adalah penting untuk menjaga pikiran positif dan jangan lupa untuk bahagia dengan berbagai cara. (WLD/*)

- Advertisement -

Ini kekeliruan dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.”

Seto Mulyadi

Pemerhati Anak

TERKINI

Kakan Kemenag Bone Sampaikan Ini. Kasubag TU, Kamad hingga Pincab Bank Langsung Berinfaq

Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id- Kepala Kantor (Kakan) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bone Wahyuddin Hakim menyampaikan niat baiknya untuk menginfaqkan gajinya di bulan Februari untuk...

Penyaluran BLT dan Dana Desa di Desa Madello Barru Sukses

Barru, FAJARPENDIDIKAN.co.id- Setelah sukses menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa Tahun 2020 tepat waktu, kini Desa Madello kembali menyalurkan BLT-DD Tahun...

Aksi Peduli Gempa Sulbar, Desa Marioritengnga Soppeng Berbagi

Soppeng, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Pengemasan bantuan untuk di berangkatkan ke Sulawesi Barat bersama Apdesi Soppeng yang insya allah pada jum’at 29 Januari 2021...

Dr H Moh Hatta Alwi Hamu Resmi di Lantik Menjadi Rektor IBK Nitro

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Institut Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro resmi melantik rektor baru periode 2021/2025 Dr. H. Moh Hatta Alwi Hamu. Menggantikan...

Pelaku Pencabulan Terhadap Anak di Bawah Umur Berhasil di Amankan

Wajo, FAJARPENDIDIKAN.co.id - Pelaku perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur berhasil di amankan oleh tim Resmob bersama unit PPA sat Reskrim...

REKOMENDASI