Safriansah, Bangun Budaya Literasi Siswa Melalui Pondok Baca

MIN 1 Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mulai bersolek dan tampak lebih nyaman dengan adanya dua tempat yang mungil untuk dijadikan tempat duduk-duduk membaca. Tempat tersebut berbentuk balai dan tempat duduk berpayung yang dibuat dari bambu sederhana, tripleks dan kayu-kayuan. Tertera di salah satu bangunan itu tulisan, “Pondok Baca”.

Bangunan ini adalah buah karya kepala madrasah, Safriansah, agar anak-anak tertarik membaca. Menyediakan tempat membaca yang mudah dijangkau dan menarik adalah salah satu strategi madrasah tersebut untuk meningkatkan minat baca siswa.

Walaupun sudah berkiprah di madrasah ini selama hampir sepuluh tahun, semangatnya untuk membangun madrasah tetap menyala-nyala. “Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini agar  madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” tutur  Safriansah bersemangat. Ide membangun tersebut berasal dari salah satu guru di sekolah tersebut yaitu, Azhar yang juga merupakan salah satu Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.

- Advertisement -

“Kalau mau membangun budaya baca, saya setuju, memang harus ada sarana yang mendukung, yang menarik dan menjadi ikon supaya anak-anak tergerak untuk membaca,” katanya.

- Advertisement -

Ia kemudian membuat desain bangunan taman baca tersebut. Setiap selesai jam sekolah, ia pulang kembali ke rumahnya, shalat, makan dan berganti baju seperti buruh kasar, pakai kaus atau baju lain yang tidak lagi memperlihatkan dia sebagai kepala madrasah. Dibantu oleh satpam dan cleaning service, ia memotong-motong bambu, menggergaji tripleks dan lain-lain, mewujudkan desain bangunan yang telah ia buat dari pukul 14:00-17:30 Wita.

Selama membangun, ia tidak kekurangan bahan-bahan dan juga makanan dan minuman.  Para guru ikut menyumbang secara sukarela tambahan biaya yang digunakan untuk membeli cat, paku, makanan dan minuman selama bekerja. Kepala sekolah sendiri juga sukarela mengeluarkan sebagian uangnya untuk pembelian bahan-bahan.

“Agar bangunan ini menarik anak-anak, maka catnya harus berwarna-warni dan tempatnya musti dingin,” jelasnya menerangkan desainnya. Untuk menghasilkan cat yang berwarna-warni, kepala madrasah membeli tiga warna cat, yaitu merah, kuning dan hijau dan kemudian sebagian dioplos untuk menghasilkan warna baru.

Setelah dikerjakan kurang lebih empat hari, dua bangunan pondok baca pun akhirnya berdiri. Satunya berbentuk seperti balai-balai lesehan dan satunya berbentuk payung dengan beberapa tempat duduk. Yang seperti balai-balai cukup untuk menampung 20 anak.

Ternyata respon siswa memanfaatkan tempat tersebut, baik untuk belajar maupun membaca sangat luar biasa. “Sangat menggembirakan bagi saya. Ternyata anak-anak tiap saat berebutan memanfaatkan tempat tersebut untuk membaca. Para guru juga sering duduk di situ menemani anak-anak membaca,” terang pria beranak tiga ini sangat gembira menikmati hasil kerjanya.

Melihat respon itu, ke depan, kepala madrasah akan menukangi tiga lagi model bangunan sejenis, supaya anak-anak tidak berebutan. “Saya akan membangun tiga taman baca lagi,” tekadnya.

Selain di luar kelas, kepala madrasah juga telah memerintahkan para guru membuat pojok baca di masing-masing kelas. Setiap kelas sekarang ini sudah memiliki pojok baca masing-masing. Orang tua siswa juga telah diminta untuk membantu dalam pengadaan buku-buku bacaan.

“Untuk pengadaan buku lebih lanjut, nanti saya juga minta siswa yang akan lulus menyumbangkan buku pada sekolah. Kalau ada 52 anak didik, setidaknya kita bisa dapatkan buku tambahan sejumlah itu,” ujar kepala madrasah yang madrasahnya merupakan salah satu mitra Program PINTAR Tanoto Foundation ini.

“Pak Safri merupakan contoh kepala sekolah yang sadar akan pentingnya membangun literasi bagi anak didiknya. Ia mencontohkan pada guru-guru di sekolahnya dengan langsung berbuat, sehingga guru-guru tergerak untuk melaksanakan program membaca di kelasnya sendiri-sendiri,” tutur Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kaltim.

Indonesia saat ini, sambungnya, merupakan negara yang tingkat literasinya sangat rendah. Berdasarkan penelitian dari Central Connecticut University tahun 2016 yang lalu, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. “Semangat yang pak Sapri lakukan, mesti menular ke banyak orang. Rendahnya minat baca di Indonesia adalah masalah yang serius karena menghilangkan potensi pendapatan ekonomi triliunan rupiah. Jika masyarakat Indonesia literate, pendapatan ekonomi pun akan cenderung meningkat dengan pesat,” ungkap Mustajib. (*)

Bagikan

REKOMENDASI UNTUK ANDA
- Advertisment -

POPULER: