Setitik Peluh Ibu, Takkan Pernah Bisa Terbayarkan

Setiap kali sinar fajar menyemburat bersama kabut tipis yang menyelimuti pagi, engkau selalu terucap dalam baris doaku.

Seperti kasih sayangmu yang tak pernah pudar oleh waktu. Seperti itulah aku mengingatmu di kota Rasulullah ini.

Walau aku tahu, baktiku takkan pernah bisa membayar setitik peluh yang menetes saat membesarkanku. Bahkan tidak untuk sepenggal malam, yang membuatmu terjaga karena tangisanku dulu.

- Iklan -
Baca Juga:  Kisah Inspiratif Kurniawan Dwi Yulianto, Asisten Pelatih Como 1907

Kado Terindah

Maaf bila tidak ada ucapan selamat untukmu, karena aku tak ingin menyelisihi Rasulullah yang mengkhususkan hari untuk merayakan kasihmu dan karena bakti, cinta serta kasih sayang, tak perlu waktu khusus untuk mengungkapkannya.

Maaf bila hari ini, tak ada kado untukmu. Namun, aku berjanji untuk menjadi kado terindah bagimu. Agar aku mendoakanmu disaat engkau masih ada maupun tiada. Semoga Allah menjagamu ibu.

Baca Juga:  Arthur Fischer, Pemegang 1.100 Lebih Hak Paten

Aku tahu kalau engkau takkan pernah membaca goresan pena ini. Namun, biarkan aku menulisnya untukmu dan untuk mereka yang ingin tetap mencintai kedua ibu bapaknya di sisa waktu yang ada. (Rumah Quran/qna)

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU