Asal Muasal Gelar Haji yang Hanya Digunakan di Indonesia

Tidak sah haji seseorang, tanpa melakukan wukuf di Arafah. Itulah sebab, seluruh jamaah, yang sakit pun, tetap diberangkatkan ke Arafah menjelang wukuf, meskipun harus berada di atas ambulance. Gambar ini, menanti detik–detik wukuf, sebagian besar jamaah beristirahat, untuk menyambut wukuf, besok pagi menjelang siang.

FAJAR Pendidikan

Insya Allah, tiga hari lagi, para jamaah dari segala penjuru dunia, yang berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah dan Madinah, sudah bisa menambah gelar di depan namanya, dengan initial H bagi laki–laki dan Hj bagi perempuan, setelah wukuf di Arafah,8 Juli 2022. Inilah musim Haji pertama, setelah pandemic Covid–19.

Betapa bangga dan bahagianya umat Islam yang bisa menginjakkan kaki ke Baitullah, terutama di musim Haji, yang menyebabkan dia bisa menyandang predikat Haji/Hajjah. Betapa tidak, sangat tidaklah mudah untuk dapat menjangkaunya, dengan panjangnya antrian. Di Indonesia, sudah mencapai antrian puluhan tahun.

BACA JUGA :   Sejarah Hari Guru Sedunia, Bentuk Wujud Rasa Peduli

Lalu mengapa, bila telah wukuf di Arafah, atau telah menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekah dan Madinah, bila berjalanan regular Pemerintah, hingga 40 hari, sudah bisa menyandang gelar Haji ? Seperti yang dilansir youtube, berikut awal mulanya.

Gelar Haji bagi umat Islam di Indonesia berawal dari mana?

Gelar Haji bagi umat Islam di Indonesia, ternyata mulanya sebuah siasat Pemerintah Hindia Belanda.

Kala itu muncul sentimen anti kolonialisme yang mempengaruhi para umat Muslim saat berada di Arab Saudi. Ketika banyaknya umat Islam berangkat ke Mekkah, Belanda khawatir mereka akan melakukan perlawanan.

BACA JUGA :   Sejarah Hari Guru Sedunia, Bentuk Wujud Rasa Peduli

Hal tersebut mulai terbukti ketika banyak tokoh – tokoh yang mendirikan organisasi Islam sepulangnya dari Haji. Karenanya pihak Belanda bersiasat dengan memberikan gelar Haji bagi mereka yang telah beribadah ke tanah suci.

Hal ini dilakukan agar Belanda lebih mudah melakukan pengawasan bagi jemaah haji yang mencoba memberontak. Dulu para kiyai sendiri tidak ada yang bergelar haji, karena haji merupakan suatu ibadah.

Namun, sejak disematkan pertama kali pada 1916, gelar haji tetap dipake hingga saat ini. (ana)

 

Bagikan:

- Advertisment -
REKOMENDASI UNTUK ANDA