Azra, Cendekiawan Independen Tanpa Pretensi

FAJAR Pendidikan

Oleh: Nasihin Masha

Saya mengenal namanya sejak remaja, dekade 1980an. Tetangga rumah — kepala desa yang juga pegawai Departemen Agama di Kabupaten Cirebon – berlangganan majalah Panji Masyarakat.

Walau bukan menjadi pembaca rutin, tapi kadang ikut membaca majalah tersebut. Hanya ingin tahu saja. Saat itu, Azyumardi Azra menjadi wartawan di majalah yang didirikan Buya Hamka tersebut. Ia bersama Fachry Ali, Bachtiar Effendy, dan Iqbal Abdurrauf Saimima.

Namun tak ada yang melekat di kepala apa saja yang mereka tulis. Hanya namanya masih saya ingat. Rupanya profesi wartawan tidak ia lanjutkan. Ia memilih menekuni sebagai dosen di UIN Syarif Hidayatullah. Di sini ia benar-benar tuntas.

Ia meraih gelar master dan doktor serta profesor, juga menjabat sebagai rektor. Jika Prof Harun Nasution adalah ruh dan peletak dasar pemikiran di UIN Syarif Hidayatullah, maka Azra adalah badan wadagnya.

Ia mengembangkan UIN menjadi universitas yang maju dengan pembangunan yang pesat. Ia pandai menghimpun dana dari berbagai pihak di dalam negeri dan luar negeri. Yang fenomenal adalah mentransformasi IAIN menjadi UIN.

Mungkin karena berangkat dari wartawan, Azra sangat produktif menulis. Bukunya yang diangkat dari disertasi doktoralnya diterbitkan Mizan. Judulnya Jaringan Ulama.

Buku ini sudah menjadi buku klasik dalam studi Islam nusantara. Buku ini terbit pada 1994. Saat itu saya sudah menjadi wartawan Republika. Pada Rabu, 4 Maret 2020, dalam rangka ulang tahunnya yang ke-65, saya diundang beliau untuk hadir. Rupanya ia menerbitkan delapan bukunya sekaligus.

Perayaan ulang tahun itu menjadi semacam simbol tentang produktivitasnya. Tak heran jika pada 2002, penerbit Mizan menganugerahinya sebagai Penulis Paling Produktif. Artikelnya tersebar di berbagai media.

Saat saya menjadi redaktur pelaksana, saya mengusulkan namanya untuk menjadi penulis resonansi. Setelah mendapat persetujuan tim redaksi dan pemimpin redaksi saat itu, Asro Kamal Rokan, maka sejak saat itu ia [sepertinya] tak pernah absen mengisi kolom Resonansi.

Tulisan terakhirnya terbit pada Kamis, 15 September 2022. Judulnya NU 100 Tahun (2), maksudnya ini tulisan seri kedua. Dan sepertinya masih ada seri ketiganya. Dari tulisannya, kita tak hanya diajak merenung dan menjangkau langit pemikiran, tapi juga tentang aktivitasnya.

Karena tulisannya selain berisi pemikiran dan perenungan, juga bercerita tentang aktivitasnya. Misalnya ia menulis tentang seminar yang baru ia ikuti di berbagai negara ataupun tentang buku penting yang baru ia baca.

Azra adalah cendekiawan yang dingin. Karena itu kita sulit menemukan dalam tulisannya yang meletup atau tentang kisah pribadinya. Tulisannya datar dan tanpa emosi. Ia tak pernah menggunakan diksi-diksi yang mengundang sentimen.

Sikap dingin inilah yang membuatnya selalu bisa mengambil jarak dengan kekuasaan. Ia tak pernah berpretensi untuk menjadi tokoh atau pahlawan, tak mencari tepuk tangan. Ia cendekiawan tanpa pretensi.

Cuma ada satu batas, yakni batas akademik. Karena itu kita akan sulit mencari kontroversi pada dirinya. Pendapatnya selalu terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Di tengah godaan tangga politik, ia tak terpikat.

Sikap berjarak dan independen terhadap kekuasaan inilah yang kemudian mendorong saya (mewakili SPS) dan Jajang Jamaludin (mewakili AJI) untuk mengusulkan namanya menjadi anggota Dewan Pers periode 2019-2022.

Saat itu saya menjadi anggota panitia seleksi BPPA Dewan Pers. Lembaga ini selalu dipimpin oleh wakil dari tokoh masyarakat. Jadi jika Azyumardi Azra terpilih maka dia yang akan menjadi ketua. Namun kami kalah suara.

Kini, Azra sudah menjadi ketua Dewan Pers periode 2022-2025, sejak Mei lalu. Jajang yang kembali menjadi anggota panitia seleksi, bersama teman-teman yang lain berhasil mengegolkan namanya.

Sikap, pendapat, dan langkah-langkahnya benar-benar memuaskan komunitas pers. Ada dua agenda strategis. Pertama, mempertahankan kebebasan pers dalam RUU KUHP yang sedang digodok DPR. Kedua, mengawal pers pada pemilu 2024 yang akan datang.

Namun Tuhan berkehendak lain. Pada Ahad, 18 September 2022, di usia (67 tahun) yang sebetulnya masih cukup produktif, ia wafat di Kuala Lumpur, Malaysia, sekitar pukul 12.30 waktu setempat.

Kabarnya ia terkena Covid-19, namun ada juga yang menyatakan karena adanya kelainan jantung. Ia terserang batuk hebat dan sesak napas sekitar 20 menit sebelum pesawat mendarat.

Rasa sedih yang sangat mendalam saat mendengar kabar wafatnya Kak Edi, begitu kawan-kawan dekatnya selalu menyebutnya. Ada rasa nyeri di dada dan mendung di mata.

Beliau masih sangat dibutuhkan bangsa Indonesia pada saat seperti ini. Indonesia butuh suara jernih, yang makin langka di era pragmatis dan post truth seperti saat ini. Prof Azra orang yang sangat mendorong siapapun untuk bersuara.

Sejak saya berhenti menulis di kolom Resonansi Republika, ia berkali-kali bertanya mengapa saya tak lagi menulis dan mendorongnya untuk menulis lagi. Saya cuma senyum.

Suatu kali, ia salah arah. Saat bertemu menghadiri pidato pengukuhan guru besar Rektor IPB Arif Satria, ia kembali berucap. Kali ini bukan ke saya, tapi ke Prof Dr Fachmi Idris, saat itu masih direktur utama BPJS Kesehatan.

“Bung Fachmi, biarkan Mas Nasihin menulis lagi seperti dulu,” katanya. Tentu saja Bang Fachmi kebingungan. Apa hubungannya dengan dia. Ya, saat itu memang saya sudah tidak di Republika lagi, tapi sudah menjadi staf ahli direksi BPJS Kesehatan.

Tapi saya berhenti menulis di Resonansi bukan karena itu. Bang Fachmi menengok ke saya, saya cuma bisa senyum. Itulah kepedulian Prof Azra.

Sikap independen, yang oleh kekuasaan bisa dilihat sebagai kritis, memiliki sejarah panjang. Ia tak hanya sekolah, tapi juga menjadi aktivis. Gelar sarjana ia peroleh dari Fakultas Tarbiyah pada 1982, lalu pada 1986 ia memperoleh beasiswa Fulbright untuk menempuh pendidikan S2 di Columbia University, New York.

Lulus pada 1988. Dengan memperoleh Columbia University President Fellowship, ia melanjutkan program doktoral di universitas yang sama. Pada 1989 ia meraih gelar MA yang kedua dan juga MPhil pada 1990. Sedangkan gelar PhD diraih pada 1992.

Kak Edi adalah aktivis mahasiswa. Ia menjadi ketua umum Senat Mahasiswa (kini bernama Badan Eksekutif Mahasiswa) pada 1979-1982 dan ketua umum HMI Cabang Ciputat pada 1981-1982.

Sambil kuliah, ia juga menjadi wartawan di majalah Panji Masyarakat. Sempat berkarier di LIPI pada 1982-1983, namun kemudian ia memilih menjadi dosen di IAIN, yang kemudian berubah menjadi UIN, almamaternya.

Pada 28 September 2010, atas jasanya dalam pembentukan UK-Indonesia Islamic Advisory Group, ia memperoleh gelar Commander of the Order of the British Empire (CBE). Ia menjadi orang pertama di luar negara anggota persemakmuran (perserikatan bekas jajahan Inggris) yang memperoleh gelar tersebut.

Dengan gelar itu, ia berhak mendapat gelar Sir, sebuah gelar kebangsawanan Inggris. Ia juga bebas keluar-masuk Inggris tanpa visa. Pada 2017, ia juga meraih gelar Order of Rising Sun: God and Silver Star dari Jepang. Anugerah ini diberikan atas jasanya dalam membangun pengertian tentang Islam bagi masyarakat Jepang. Dari dalam negeri, ia meraih anugerah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture dari LIPI pada 2017.

Ada tiga warisan terbesarnya. Pertama, disertasinya tentang jaringan ulama Nusantara. Ini studi terbesar karya anak bangsa yang mendapatkan apresiasi dan menjadi rujukan dunia internasional.

Buku ini merupakan hasil riset yang panjang, tekun, cermat. Ia harus berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan data bagi risetnya tersebut. Kedua, Islam wasathiyah (Islam jalan tengah).

Jika kekuatan buku Jaringan Ulama adalah pada temuan risetnya tentang kait mengait guru-murid ulama nusantara dengan ulama Timur Tengah maupun pusat-pusat Islam lainnya, maka Islam Wasathiyah adalah gagasannya tentang Islam di abad modern ini. Hal ini ia sampaikan di banyak kesempatan; di tulisan maupun saat berbicara di media massa.

Di bukunya, Relevansi Islam Wasathiyah, gagasannya itu ia rujuk dari QS 2: 143. “Masa depan Islam tidak ada yang lain kecuali Islam wasathiyah. Inilah Islam yang dapat menjadi rahmatan li al ‘alamin,” tulisnya.

Baginya, Islam wasathiyah adalah Islam yang moderat, inklusif dan toleran sehingga bisa membawa kemajuan bagi umat Islam. “Indonesia beruntung sejak masa islamisasi menemukan momentum di wilayah ini pada pertengahan abad ke-13, Islam yang berkembang adalah Islam wasathiyah,” katanya. Dengan demikian, Islam wasathiyah tak hanya memiliki dasar di dalam Alquran dan hadis tapi juga memiliki basis historiknya.

Ketiga, kekuatan karakternya pada sikap akademik dan intelektualnya. Ia menjaga integritas, independensi, dan daya kritisnya. Hal ini semata-mata untuk kemajuan Indonesia, demokrasi, dan kemanusiaan. Sikapnya tak ditujukan untuk power play. Karena itu ia tak aktif di organisasi atau lembaga sosial, apalagi politik.

Ia orang yang sangat ringan hati untuk menulis endorsement sebuah buku. Dua buku saya ada endorsement dari Prof Azra. Saya juga sudah meminta kesediaannya untuk membaca rancangan buku saya berikutnya sekaligus memberikan kata pengantar. Ia sudah bersedia. Namun kini ia telah pergi.

Ada kata-kata bijak dari raja mafia Amerika, Meyer Lansky. Katanya, “Jika Anda kehilangan uang, maka Anda tak kehilangan apapun. Jika Anda kehilangan kesehatan, maka Anda kehilangan sesuatu. Tapi jika Anda kehilangan karakter, maka Anda kehilangan segalanya.” Prof Azra memilih hidup sederhana. Ia tak mengejar ambisi uang, popularitas, ataupun kekuasaan. Ia lurus di jalur akademik dan intelektual. Itulah karakter sejatinya. (*)

Bagikan:

- Advertisment -
REKOMENDASI UNTUK ANDA
- Advertisment -