Claire and The Great Enchanter

FAJAR Pendidikan

Sesampainya di depan istana, ternyata mereka sudah ada lebih dulu untuk menghancurkan mantra pelindung. Claire langsung memerintahkan Celeng untuk membantu mereka bertiga menghancurkan mantra istana, ia membayangkan seolah Celeng mengeluarkan api yang tak panas berlapis mantra.

Setelah hampir setengah jam yang sangat menguras tenaga, akhirnya mantra istana itu menghilang dengan suara seperti busa meletus, ploop! Mereka langsung masuk berhamburan ke dalam menyingkirkan siapa saja yang menghadang. Dentingan pedang bersatu, saling bergesekan hingga menimbulkan percikan api terdengar sangat nyaring.

Membuat Claire mengernyit. Gumaman-gumaman mantra terdengar seperti lebah- lebah mendengung di sepanjang lorong menuju ruang di mana ratu berada. Satu persatu penjaga istana tergeletak tak berdaya.

Setelah berkutat dengan masalah yang ada sepanjang lorong itu, mereka semua akhirnya tepat berada di depan dua pintu besar. Celeng membiarkan Claire turun, lalu menabrak pintu itu dengan tubuhnya. Terdengar suara berdebum pintu terjatuh ke dalam.

BOOM!!

Seorang wanita berdiri tegak menyambut mereka sambil tersenyum. Mata Claire terbelak, cepat-cepat berlari hendak membunuh wanita itu, ia merapalkan mantra apa saja yang sedang terlintas di otaknya.

“Kau yang membunuh orang tuaku!” teriak Claire dengan emosi.

Tangan wanita itu terangkat memberhentikan langkah Claire dengan mantra. Tiba-tiba kakinya berhenti, tak bisa digerakkan. Lehernya terasa tercekik, membuatnya susah bernafas.

“Gadis cilik yang malang, harusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak. Dan kalian, aku hampir tidak menyangka kalian bisa bebas. Setelah aku mendengar kabar dari pengawalku yang berjaga di istana kumuh itu, tidak sadar aku telah menanti kalian selama ini,” ucap wanita itu sambil terkekeh, meremehkan.

James tak tinggal diam, ia berlari maju ke depan berlari zig-zag menghindari serangan dari wanita yang telah membunuh orang tua Claire, sambil mengucapkan mantra. Hasegawa membantunya, membuat pedang dari udara, menariknya seperti pecut juga seperti air tanpa selang.

Ia melilitkan tali yang menyerupai air pada leher dan tubuh wanita itu. Otomatis ia melepaskan tangan yang ia gunakan untuk menyihir Claire, berusaha melepas mantra Hasegawa dengan mantra nya sendiri.

Tapi tentu itu mustahil karna James membantu menguatkan mantra Hasegawa. Claire terjatuh dengan nafas berderu, dan Lious menghampiri wanita itu dengan tatapan membunuh.



“Hen… hentikan, apa yang kalian mau dariku?” ucap wanita itu dengan susah payah.

“Tidak banyak, aku hanya ingin kamu mengubah undang-undangan pemilu dan mengubah pikiranmu yang sangat dangkal itu.” Ucap Lious santai.

“Dengan anak kumuh seperti itu? Aku tak sudi puh!” ia menatap jijik Claire dan meludahinya, Hasegawa merekatkan tali yang ada di lehernya, membuatnya semakin memberontak.

“Harusnya kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki akan memengaruhi cara berpikir, bertindak, bertanggung jawab, dan cara mengabdi pada negara ini. Kamu pikir leluhurmu lahir tiba-tiba langsung jadi bangsawan, yang hidup mewah dan selalu berkecukupan begitu? Tentu tidak, semua butuh proses dari bawah, dari dia miskin sampai siap untuk berkorban demi negaranya hingga keturunannya pun tak perlu sesusah dia, hanya tinggal menikmati hasilnya. Lagi pula yang jadi bangsawan bisa juga tiba-tiba menjadi kalangan bawah. Di sana sini selalu tentang perbedaan sosial. Tidak bisakah kita tak perlu membedakan satu sama lain? Toh kita semua sama-sama manusia yang membutuhkan orang lain.Lihat saja bajumu itu, tidak mungkin kau membuatnya sendiri, kan? Bisa saja kau beli dari toko pakaian terkenal yang dimiliki kalangan bawah,” jelas panjang lebar Lious.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

Angsa Merah

Panggung Arwah

Elgarion

Berawal dari Halte

Ada Apa Denganku?

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI