ADV A1

Eksistensi Media Sosial di Masa Pandemi dan Peran Generasi Muda dalam Menangkal Hoax

Penulis: Ririn Syafarina

FAJAR Pendidikan

2020 menjadi catatan sejarah baru dalam kehidupan manusia, berbagai fenomena dan pristiwa yang disebabkan pandemi Covid-19 serentak menguncang dunia yang membuat aktivitas terhenti sejenak. Manusia mengurung diri di dalam rumah sebagai bentuk solidaritas, berbagai kegiatan beralih dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat terpenting dalam kehidupan.

Kegiatan semacam ini dinamakan daring atau online yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi sebagai media yang menghubungkan satu sama lainnya. Mulai dari bekerja, belajar dari tingkat sekolah dasar hingga perguruaan tinggi dilakukan secara daring, situasi ini memakasa semua orang untuk dapat menggunakan teknologi.

Penggunaan internet semakin meningkat di masa pandemi, menurut data Kominfo pada tanggal 24 Maret 2020 terjadi pergeseran penggunaan internet yang semulanya dilingkungan perkantoran dan pendidikan beralih ke penggunaan di perumahan atau tempat tinggal.

Sejalan dengan peningkatan jumlah penggunaan internet, penggunaan media sosial sebagai wadah untuk menjalin komunikasi dan intraksi selama pandemi meningkat signifikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh We Are Social terjadi peningkatan penggunaan internet seiring dengan pertumbuhan penduduk di karenakan internet menjadi suatu yang melekat dalam kehidupan manusia sebagai alat komunikasi yang sangat dibutuhkan sepanjang perkembangan teknologi.

Pemakai internet di Indonesia mencapai 64 persen dari total penduduk, dan mengalami peningkatan 56 persen dari tahun sebelumnya, peningkatan tersebut sama dengan bertambahnya 25 juta pengguna internet dalam waktu satu tahun. Sedangkan jumlah pengguna media sosial mengalami peningkatan sebesar 7 persen atau bertambah 10 juta pengguna aktif media sosial.

BACA JUGA :   Konsep Institutional Design

Fenomena pertambahan pemakai internet dan media sosial menjadi bukti bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat yang mengubah pola komunikasi dan intaksi manusia melalui media digital terutama di masa pandemi Covid- 19.

Peningkatan pengguna internet memberikan berbagai macam dampak yang bagi pengguna, selain sebagai media komunikasi yang mudah digunakan, akan tetapi kecepatan menyampaikan informasi dalam berbagai bentuk tulisan, gambar, dan vidio membuka peluang penyebaran berita palsu atau dikenal dengan sebutan hoax. Hoax merupakan informasi tidak benar yang disebar luaskan dengan tujuan-tujuan tertentu yang bisa merugikan berbagai pihak. Hoax sering dijumpai diberbagai media sosial dan dapat memicu emosional hingga kerugian finansial.

Pandemi Covid-19 menjadi berita utama hoax yang sering disebarkan diberbagai media sosial, Kominfo melaporkan hingga Juni 2020 ada sebanya 850 berita hoax mengenai Covid- 19 yang tersebar. Informasi tidak benar mengenai Covid-19 membuat banyak masyarakat menjadi takut dan melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar dalam penanganan dan pencegahan penularan Covid-19.

Seperti beredarnya infomasi mengenai bawang putih yang dapat menangkal penyebaran Covid-19, mandi menggunakan sabun cuci piring agar dapat membersihkan virus pada tubuh, dan sebagainya. Informasi tersebut banyak beredar dimedia sosial terutama whatsapps yang tidak memiliki sumber pertanggungjawaban namun informasi tersebut mempengaruhi sebagian pengguna media sosial sehingga terjadi kenaikan harga bawang dan iritasi kulit karena menggunakan sabun cuci piring sebagai sabun mandi.

Berita hoax mengenai Covid-19 dapat menimbulkan berbagai persepsi masyarakat yang membuat terhambatnya penanganan dan pencegahan penularan Covid-19. Terakhir adalah informasi mengenai vaksin covid yang berbahaya. Berbagai unggahan informasi di media sosial menyebutkan vaksin Covid-19 berbahaya karena menimbulkan efek samping hingga membuat meninggal dunia. Berdasarkan penelitian, vaksinasi menurunkan risiko penularan sebanyak 60 hingga 90 persen. Sehingga, bukan berarti tidak mungkin tertular meski sudah vaksin (Kompas.com, 2021).

BACA JUGA :   Teriakan Mental Pelajar Akan Kemiskinan Interaksi Sosial

Edukasi mengenai cara menerima dan memberi informasi dimedia sosial perlu disosialisasikan terutama untuk ibu-ibu dan bapak-bapak jenjang usia 40 tahun ke-atas agar dapat memilah informasi yang benar di media sosial. Generasi muda berperan untuk dapat mendapingi orang tua dalam memanfaatkan teknologi terutama media komunikasi agar terhindar dari informasi palsu atau hoax. Generasi muda harus dapat membedakan informasi yang benar dan salah dengan berpikir skeptis terhadap berita yang diterima, sehingga dapat meluruskan informasi yang salah terutama untuk keluarga terdekat.

Daftar Pustaka

  • Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2020). Terjadi Pergeseran Penggunaan Internet selama Masa Pandemi. Diakses melalui https://kominfo.go.id/content/detail/26060/terjadi-pergeseran-penggunaan-internet- selama-masa-pandemi/0/berita_satker
  • Nugroho, Ahmad, dkk. (2021). Edukasi Bahaya Berita Hoax di Masa Pandemi pada Wali Siswa PAUD RUSA. E-journal : Magistrorum Et Scholarium: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 02 No. 01 hal., 65 – 76
  • Junawan, H. & Laugu, N. (2020). Eksistensi Media Sosial,Youtube, Instagram dan Whatsapp Ditengah Pandemi Covid-19 Dikalangan Masyarakat Virtual Indonesia.E-jurnal: Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4 No. 1

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI