Jangan Mati Sebelum ke Toraja

FAJAR Pendidikan

Sudah 5 tahun, Oma Frida Tottong Tikupadang (75) terbaring “sakit” di rumahnya, di Kambira, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di sampingnya, Opa Yohanis Pantun Lantong (92), suami tercinta juga terbaring kaku sudah 5 bulan.

Oleh : Sriyanto

Pasangan suami-istri itu kini dirawat oleh anak keempatnya, Julius Lantong (45). Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

Meski kedua orang tua sudah tak bernyawa, namun Julius Lantong menganggap mereka hanya sedang sakit. Julius terus merawat dan membersihkan “tempat tidur” kedua orang tuanya itu.

“Kami masih membawakan makanan, kami pamit kalau mau bepergian. Kami menganggap keduanya masih ada, hanya sakit,” kata Julius Lantong kepada penulis, 31 Desember 2017 lalu.

Dalam beberapa hari ke depan, sekitar awal Februari, keduanya akan diupacarakan. Masyarakat Toraja menyebutnya Rambu Solo.

Upacara adat Rambu Solo memiliki makna dan tatanan yang cukup unik. Rambu Solo selain disimbolkan sebagai upacara pemakaman, juga dimaknai sebagai penyempurnaan kematian seseorang.

Tujuan Rambu Solo untuk menghormati dan menghantarkan arwah seseorang yang telah meninggal menuju alam ruh, masyarakat menyebutnya Puya. Hingga upacara adat Rambu Solo ini dilaksanakan, jenazah akan dianggap sedang sakit atau lemah sampai upacara adat sempurna selesai.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat adat Toraja memberi sebutan dan anggapan yang berbeda-beda tentang jenazah yang disimpan. Ada yang menganggap To Makula, bahwa jenazah yang disimpan dianggap hanya sebagai orang yang sakit. Juga ada To Mate, bahwa jenazah sedang dalam rangkaian upacara aluk to mate.

Mengapa jenazah harus disimpan? Banyak alasan dan latar belakang, antara lain seperti menunggu kedatangan kerabat yang sedang merantau, untuk memberi kesempatan bagi keluarganya menunjukkan kasih sayang kepada jenazah, atau untuk menunggu biaya dan hewan kurban yang banyak terlebih dahulu agar bisa melaksanakan upacara Rambu Solo.

Pihak keluarga Frida Tottong Tikupadang dan Yohanis Pantun Lantong menjelaskan, puluhan ekor kerbau dikurbankan pada upacara. Penyembelihan kerbau memang salah satu bagian dari Rambu Solo.

Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau.

Biasanya, berbagai jenis kerbau dikurbankan dalam upacara Rambu Solo. Kerbau belang atau disebut Tedong Saleko adalah yang paling mahal. Harganya berkisar antara Rp300 juta – miliaran rupiah.

Inilah mengapa upacara Rambu Solo merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Bisa menghabiskan dana ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Dalam agama Aluk -kepercayaan leluhur suku Toraja, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Namun sekarang, upacara Rambu Solo juga digelar oleh masyarakat yang mampu. Semakin kaya seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal.

Timbul pertanyaan di benak saya; Rambu Solo kini, adat atau gengsi? Terlepas dari hal tersebut, bagi saya ini sebuah pengalaman berharga bisa melihat langsung salah satu tradisi unik masyarakat Toraja.

Sebuah tradisi yang hanya ada di Toraja, tidak di tempat lain di belahan dunia mana pun. Maka itu, jangan mati sebelum ke Toraja. (*)

Bagikan:

- Advertisment -
REKOMENDASI UNTUK ANDA