Barru – Malam itu, suasana Pasar Sentral Barru mulai lengang. Lapak-lapak pedagang satu per satu ditutup, meninggalkan sunyi yang khas. Namun, dari sebuah rumah toko di Jalan Pasar Sentral, tercium aroma tak biasa. Bau menyengat itu pertama kali dirasakan tetangga Hj. Basiah, seorang pedagang berusia 63 tahun yang dikenal ramah dan sederhana.
Kamis (18/9/2025) sore, sekitar pukul 16.30 WITA, warga mulai curiga. Pintu rumah toko milik Hj. Basiah tetap tergembok, sementara tak terlihat aktivitas jual-beli seperti biasanya. Kekhawatiran semakin besar ketika aroma kian tajam. Hingga akhirnya, kabar itu disampaikan kepada Firdaus, putra almarhumah, yang saat itu berada di Makassar.
Firdaus pun bergegas pulang. Perjalanan malam dari Makassar menuju Barru terasa panjang dan penuh cemas. Sekitar pukul 00.15 WITA, Jumat dini hari (19/9/2025), ia tiba di rumah ibunya. Namun pintu masih terkunci rapat. Dengan perasaan campur aduk, Firdaus merusak gembok dengan gergaji dan masuk ke dalam rumah.
Pemandangan memilukan langsung menyambutnya. Ibunya, Hj. Basiah, ditemukan tergeletak kaku di lantai belakang rumah, tepat di depan etalase jualannya. Sosok ibu yang selama ini dikenal sebagai pedagang ulet, telah pergi untuk selamanya.
Dalam kondisi terguncang, Firdaus menghubungi saudarinya, Darla. Sekitar pukul 04.00 WITA, Darla tiba dan memastikan kabar duka itu. Beberapa jam kemudian, tepat pukul 05.00 WITA, pihak keluarga melaporkan peristiwa tersebut ke SPKT Polres Barru.
Kasi Humas Polres Barru, Iptu Sulpakar, S.E. membenarkan penemuan itu. “Personel Polres Barru bersama Polsek Barru segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara,” ujarnya kepada Fajar Pendidikan.
Kini, rumah toko di Pasar Sentral itu berubah muram. Warga yang biasanya melihat Hj. Basiah sibuk melayani pembeli, kini hanya bisa mengenangnya sebagai sosok pekerja keras yang pergi dengan cara mengejutkan. Sementara penyebab pasti kematiannya masih dalam penyelidikan aparat kepolisian
Hengki
