Beranda blog Halaman 19

Pertandingan Ekshibisi PTM Darul Ikhsan Lahirkan Juara Baru

0

SINJAI, FAJAR PENDIDIKAN, Persatuan Tenis Meja (PTM) Darul Ikhsan Kabupaten Sinjai menggelar pertandingan ekshibisi internal bertajuk Sahabat Anda Cup I di Darul Ikhsan Sinjai. Turnamen yang menggunakan sistem kompetisi penuh ini menjadi ajang unjuk kemampuan sekaligus melahirkan juara baru di lingkungan PTM tersebut.

Kompetisi berlangsung sengit sejak babak awal. Sejumlah pemain menampilkan performa terbaiknya demi memperebutkan gelar juara. Hasilnya, dominasi yang selama ini dipegang oleh Jayadi dalam beberapa edisi piala bergilir sebelumnya berhasil dipatahkan.

Ketua PTM Darul Ikhsan, A. Muh Yahya Nur, SE, menjelaskan bahwa turnamen ini disponsori secara pribadi olehnya dan menjadi edisi perdana dengan nama Sahabat Anda Cup.

Sahabat Anda Cup I
Sahabat Anda Cup I

“Pertandingan ini saya sponsori sendiri dan kita beri nama Sahabat Anda Cup pertama dengan sistem kompetisi penuh. Harapannya, melalui pertandingan seperti ini kualitas pemain semakin meningkat,” ujarnya.

Ia juga berharap agar PTM yang ada di Kabupaten Sinjai dapat menggelar turnamen serupa secara rutin. Menurutnya, kompetisi internal menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kualitas permainan, membentuk mental tanding, serta memperkuat solidaritas antaranggota.

Adapun hasil akhir pertandingan menempatkan Abu Syuro sebagai juara pertama. Posisi kedua diraih Akram, disusul Jayadi di peringkat ketiga dan Ahmad di peringkat keempat. Sementara itu, gelar juara favorit diraih Akbar.

Turnamen ini diharapkan menjadi agenda rutin yang mampu mendorong perkembangan olahraga tenis meja di Kabupaten Sinjai.

Reporter : Ahrs

Kultum Ramadhan: Bulan Puasa, Waktu Terbaik untuk Saling Memaafkan

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Allah SWT yang dengan rahmat-Nya kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan kasih sayang. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu pelajaran terbesar dari Ramadhan adalah ajakan untuk memperbaiki hubungan antarsesama manusia. Bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menata kembali relasi sosial: dengan keluarga, sahabat, tetangga, bahkan dengan orang-orang yang pernah memiliki perselisihan dengan kita.

Islam menempatkan keharmonisan sosial sebagai bagian penting dari keimanan. Allah SWT menegaskan hal ini dalam Surah Al-Hujurat ayat 9:

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ فَاِنْۢ بَغَتْ اِحْدٰىهُمَا عَلَى الْاُخْرٰى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتّٰى تَفِيْۤءَ اِلٰٓى اَمْرِ اللّٰهِۖ فَاِنْ فَاۤءَتْ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَاَقْسِطُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Artinya:
“Jika ada dua golongan orang-orang mukmin bertikai, damaikanlah keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu hingga ia kembali kepada perintah Allah. Jika ia telah kembali, damaikanlah keduanya dengan adil dan berlaku luruslah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak menghendaki konflik berkepanjangan. Perdamaian harus diupayakan, namun tetap berpijak pada keadilan, bukan pada keberpihakan atau emosi semata.

Penegasan ini diperkuat oleh penjelasan Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya jilid 22 halaman 293:

ذَلِكَ هُوَ الْإِصْلَاحُ بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ

Artinya:
“Yaitu mendamaikan di antara mereka dengan cara yang adil.”

Penjelasan ini sangat selaras dengan semangat Ramadhan sebagai bulan perbaikan diri dan penyucian hati. Salah satu wujud nyata dari penyucian hati adalah keberanian untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan sosial.

Jamaah sekalian, Ramadhan dikenal sebagai bulan ampunan. Maka, inilah waktu terbaik untuk menanggalkan dendam, menghapus luka lama, dan membuka lembaran baru dalam hubungan antarsesama. Memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman.

Allah SWT menegaskan keutamaan memaafkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 178:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya:
“Barang siapa yang mendapat pemaafan dari saudaranya, hendaklah ia mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi maaf menunaikannya dengan cara yang baik. Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barang siapa melampaui batas setelah itu, maka baginya azab yang pedih.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pemaafan merupakan bentuk rahmat Allah. Orang yang mampu memaafkan berarti sedang melatih jiwanya untuk naik menuju derajat ketakwaan yang lebih tinggi.

Karakter ini juga dijelaskan oleh Imam Ibrahim An-Nakha’i, sebagaimana dikutip Ibnu Asyur dalam At-Tahrir wat Tanwir jilid 25 halaman 114:

كَانَ الْمُؤْمِنُونَ يَكْرَهُونَ أَنْ يُسْتَذَلُّوا، وَكَانُوا إِذَا قَدَرُوا عَفَوْا

Artinya:
“Orang-orang beriman tidak menyukai kehinaan, namun ketika mereka mampu membalas, mereka justru memilih untuk memaafkan.”

Jamaah yang dimuliakan Allah, memperbaiki hubungan sosial juga dapat dilakukan dengan memperbanyak berbagi. Memberi makanan berbuka, membantu tetangga yang kesulitan, atau sekadar menunjukkan perhatian dan kepedulian, semuanya bernilai ibadah jika dilandasi keikhlasan.

Ramadhan juga melatih kita untuk bersabar menghadapi perbedaan sikap dan karakter manusia. Daripada mudah menghakimi, Islam mengajarkan kita untuk memberi ruang agar orang lain dapat berubah dan menjadi lebih baik.

Ketakwaan yang sejati tidak berhenti pada kualitas ibadah ritual, tetapi tercermin dalam akhlak sosial. Semakin baik hubungan kita dengan Allah, seharusnya semakin lembut pula sikap kita kepada sesama manusia.

Rasulullah SAW menggambarkan keindahan persaudaraan ini dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan berkasih sayang adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.”

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk benar-benar menghayati makna persaudaraan dalam Islam. Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum saling memaafkan, mempererat ukhuwah, dan menumbuhkan kasih sayang di tengah masyarakat.

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba yang bertakwa.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Meningkatkan Kualitas Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang dengan rahmat-Nya masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan limpahan pahala. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Semoga kita semua dimasukkan ke dalam golongan yang istiqomah mengikuti sunnah beliau.

Jamaah yang dirahmati Allah, Ramadhan adalah bulan istimewa di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan nilainya, pintu-pintu rahmat dibuka lebar, dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah terbentang seluas-luasnya. Di antara seluruh hari dan malam Ramadhan, sepuluh malam terakhir memiliki kedudukan yang sangat agung dan keutamaan yang luar biasa.

Sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup Ramadhan, tetapi merupakan puncak ibadah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada waktu ini dan mencontohkan kesungguhan ibadah yang jauh lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Artinya:
“Rasulullah SAW bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi waktu-waktu lainnya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah waktu yang tidak disia-siakan oleh Rasulullah SAW. Kesungguhan beliau menjadi teladan nyata bagi umatnya agar mengerahkan kemampuan terbaik dalam beribadah pada waktu yang sangat mulia ini.

Dalam riwayat lain dijelaskan:

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya:
“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.”
(HR. Al-Bukhari)

Jamaah sekalian, Imam Nawawi dalam Syarah Nawawi ‘ala Shahih Muslim menjelaskan bahwa ungkapan “mengencangkan ikat pinggang” bermakna meningkatkan kesungguhan, fokus, dan totalitas dalam beribadah. Artinya, Rasulullah SAW semakin menjauhkan diri dari kesibukan duniawi agar ibadah dapat dilakukan dengan lebih khusyuk dan maksimal.

Imam Nawawi menegaskan:

فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُزَادَ مِنَ الْعِبَادَاتِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَاسْتِحْبَابُ إِحْيَاءِ لَيَالِيهِ بِالْعِبَادَاتِ

Artinya:
“Hadis ini menunjukkan disunnahkannya meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta menghidupkan malam-malamnya dengan berbagai bentuk ibadah.”
(Syarah Nawawi ‘ala Shahih Muslim, jilid VIII, hlm. 70)

Kesungguhan beribadah pada sepuluh malam terakhir juga merupakan ikhtiar untuk meraih satu malam yang nilainya melebihi seribu bulan, yakni Lailatul Qadar. Rasulullah SAW secara tegas menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada waktu tersebut:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya:
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah, di antara amalan utama yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir adalah memperbanyak shalat malam, seperti tahajud, witir, dan tarawih, yang dikerjakan dengan penuh kekhusyukan. Shalat malam menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghidupkan hati yang mulai letih di penghujung Ramadhan.

Selain itu, memperbanyak membaca Al-Qur’an juga sangat dianjurkan. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, sehingga membacanya dengan tadabbur dan penghayatan akan semakin menyempurnakan kualitas ibadah kita.

Dzikir dan doa pun menjadi amalan penting yang tidak boleh diabaikan. Rasulullah SAW menganjurkan doa khusus pada malam-malam terakhir Ramadhan, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia. Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

I’tikaf di masjid juga merupakan ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir. Rasulullah SAW melaksanakannya secara konsisten hingga akhir hayat beliau, sebagaimana diriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ

Artinya:
Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, memperbanyak sedekah juga sangat dianjurkan, baik berupa harta, makanan, tenaga, maupun berbagai bentuk kebaikan lainnya. Sedekah di sepuluh malam terakhir menjadi pelengkap kesungguhan ibadah dan wujud kepedulian sosial yang bernilai besar di sisi Allah.

Jamaah sekalian, Ramadhan adalah bulan yang waktunya terbatas dan akan segera berlalu. Sepuluh malam terakhir adalah kesempatan terakhir yang tidak boleh disia-siakan. Jangan sampai Ramadhan pergi meninggalkan kita tanpa bekas peningkatan ibadah dan kedekatan dengan Allah SWT.

Mari kita manfaatkan sisa Ramadhan dengan sebaik-baiknya, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan. Semoga Allah SWT memberi kita taufik untuk meraih Lailatul Qadar dan menggapai ridha-Nya.

Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Istiqomah dalam Ketakwaan Setelah Ramadhan

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang kembali mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan yang sarat keberkahan dan limpahan rahmat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, salah satu keistimewaan dakwah para ulama Nusantara adalah keberhasilannya menanamkan kesadaran umat akan keagungan bulan Ramadhan. Melalui dakwah yang terus menerus dan penuh keteladanan, para ulama membentuk pemahaman bahwa Ramadhan memiliki kemuliaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sosial umat Islam hingga hari ini.

Kita sering menjumpai ungkapan seperti, “Kalau Ramadhan tidak boleh berbohong,” atau “Kalau Ramadhan tidak pantas membicarakan aib orang lain.” Kalimat-kalimat ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat dan mencerminkan betapa Ramadhan memiliki kedudukan istimewa di hati umat.

Namun jamaah sekalian, dari kebiasaan tersebut muncul kesan keliru, seolah-olah larangan berbuat dosa hanya berlaku di bulan Ramadhan. Padahal, perbuatan tercela tetap dilarang kapan pun dan di mana pun. Ramadhan memang istimewa, tetapi larangan maksiat tidak pernah mengenal waktu.

Inilah sebabnya mengapa tugas kita tidak berhenti pada menjaga perilaku selama Ramadhan saja. Lebih dari itu, kita dituntut untuk mempertahankan nilai-nilai kebaikan tersebut secara konsisten setelah Ramadhan berlalu. Hakikat Ramadhan sejatinya bukan tujuan akhir, melainkan titik awal pembentukan pribadi yang lebih taat dan bertakwa.

Melalui ibadah puasa, jamaah yang dimuliakan Allah, kita dilatih untuk mengendalikan diri secara menyeluruh. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari pelanggaran dan kemaksiatan. Kondisi fisik yang lebih lemah justru menjadi sarana efektif untuk mengekang hawa nafsu dan membatasi perbuatan yang sia-sia.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juz 1 halaman 235 menjelaskan bahwa orang yang berbuka puasa dengan pelampiasan balas dendam melalui makan berlebihan, maka puasanya tidak memberi manfaat. Penegasan ini menunjukkan bahwa puasa adalah latihan pengendalian diri, bukan sekadar perubahan jadwal makan.

Ketika Ramadhan telah melatih anggota tubuh agar terjaga dari maksiat, maka latihan tersebut seharusnya tidak berhenti saat bulan suci berakhir. Tentu istiqomah bukan perkara instan, melainkan proses panjang yang memerlukan kesungguhan, kesabaran, dan tahapan yang berkesinambungan.

Proses itu dapat dimulai secara bertahap. Tahun ini, misalnya, kita fokus menjaga lisan dari dusta dan ghibah. Pada tahun berikutnya, latihan dapat dilanjutkan dengan menjaga pandangan, pendengaran, tangan, dan anggota tubuh lainnya. Dengan cara inilah, seluruh anggota tubuh perlahan-lahan terbiasa berada dalam ketaatan.

Inilah makna sejati istiqomah dalam ketakwaan: konsisten menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan yang ditempa melalui Ramadhan akan selaras dengan firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian’.” (QS. Fussilat: 30)

Jamaah yang dimuliakan Allah, seorang mukmin yang benar-benar istiqomah tidak memilih waktu untuk taat. Baginya, setiap bulan adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi maksiat. Namun karena manusia memiliki keterbatasan, Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk menata ulang komitmen ketakwaan.

Mulailah dengan amal kecil namun konsisten. Sebab Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”

Oleh karena itu, jamaah sekalian, jika selepas Ramadhan kita baru mampu menjaga lisan, maka hal itu sudah sangat bernilai di sisi Allah karena dilakukan secara istiqomah. Amal yang kecil namun berkelanjutan jauh lebih dicintai daripada amal besar yang terputus.

Perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus lambat laun akan menjadi tabiat dan kebiasaan. Sebagaimana kebiasaan pada umumnya, ketika ditinggalkan akan terasa janggal dan tidak nyaman. Maka Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menanamkan kebiasaan baik yang kelak akan melekat sepanjang hayat.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kekuatan untuk tetap istiqomah dalam ketakwaan setelah Ramadhan berlalu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Ramadhan sebagai Ajang Muhasabah Diri

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT yang dengan rahmat-Nya masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan kasih sayang.

Jamaah yang dirahmati Allah,
Meningkatkan kualitas ketakwaan adalah kewajiban setiap Muslim, terlebih di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan dan kemuliaan luar biasa. Namun kita juga perlu menyadari bahwa manusia tidak pernah lepas dari sifat lupa dan lalai.

Karena itu, salah satu cara paling penting untuk menumbuhkan ketakwaan sekaligus memantaskan diri meraih ampunan Allah Ta’ala adalah dengan muhasabah, yaitu introspeksi diri secara jujur dan mendalam. Jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja, sementara kita justru tidak termasuk orang yang mendapatkan ampunan-Nya.

Peringatan ini pernah disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

وَمَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ; فَأَبْعَدَهُ اللّٰهُ، قُلْ: آمِينَ، فَقُلْتُ: آمِينَ. رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

Artinya: “Siapa pun yang menjumpai bulan Ramadhan, lalu ia tidak mendapatkan ampunan, maka semoga Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya.” Jibril berkata, “Katakanlah: Aamiin.” Maka Nabi pun mengucapkan, “Aamiin.”
(HR. Thabrani)

Hadis ini merupakan kabar gembira bagi orang-orang beriman, sekaligus peringatan keras agar tidak menyia-nyiakan bulan yang penuh ampunan. Karena itu, muhasabah—terutama di hari-hari Ramadhan—menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Dengan muhasabah, kita dapat menilai sejauh mana kesungguhan dan kualitas ibadah yang telah kita lakukan. Orang yang cerdas adalah mereka yang memikirkan bekal hidupnya, sedangkan orang yang benar-benar bijak adalah mereka yang menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menegaskan pentingnya muhasabah sebelum datangnya hari perhitungan. Beliau berkata:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِى الدُّنْيَا

Artinya: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah untuk menghadapi penyingkapan yang besar. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan bagi orang yang menghisab dirinya ketika di dunia.”

Nasihat ini menanamkan kesadaran bahwa ringannya hisab di akhirat sangat bergantung pada kesungguhan muhasabah yang kita lakukan selama hidup di dunia. Hisab adalah peristiwa yang pasti dialami setiap makhluk, dan tidak satu pun amal yang terlewatkan.

Pada hari itu, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri, tanpa bisa bergantung pada siapa pun. Jika kita merasa gentar saat diadili oleh manusia, maka betapa dahsyatnya hisab di hadapan Allah SWT.

Pada saat itulah Allah SWT menampakkan salah satu Asma-Nya, Al-Muntaqim, Dzat Yang Maha Membalas. Hal ini menunjukkan betapa agung dan seriusnya perhitungan amal di akhirat kelak.

Jamaah sekalian,
Salah satu sarana terbaik untuk melakukan muhasabah adalah melalui shalat. Hal ini sebagaimana nasihat Imam Abul Hasan As-Syadzili yang dinukil oleh Imam Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Tajul ‘Arus halaman 13:

كِلْ نَفْسَكَ وَزِنْهَا بِالصَّلَاةِ

Artinya: “Ukurlah dirimu dan timbanglah dengan shalat.”

Melalui shalat, seseorang dapat menilai sejauh mana dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu. Jika shalat mampu menundukkan nafsu dan mendekatkan hati kepada Allah, itulah tanda keberuntungan.

Namun jika seseorang merasa berat melangkah menuju shalat dan hawa nafsu tetap liar, maka ia patut menangisi dirinya. Sebab, tidak ada kekasih yang enggan bertemu dengan yang dicintainya.

Karena itu, kualitas shalat menjadi cermin kedudukan seorang hamba di sisi Allah. Barang siapa ingin mengetahui bagaimana posisinya di hadapan Allah SWT, maka hendaklah ia menilai kualitas shalatnya.

Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana muhasabah yang sangat penting, terlebih di bulan Ramadhan. Di bulan ini, keutamaan ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab An-Nasha’ih Ad-Diniyyah halaman 83, bahwa ibadah sunnah di bulan Ramadhan pahalanya setara dengan ibadah wajib di bulan lain, sedangkan ibadah wajib di bulan Ramadhan setara dengan tujuh puluh ibadah wajib di bulan lainnya.

Keutamaan ini seharusnya mendorong kita untuk semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan memperbaiki diri.

Akhir kata, marilah kita menutup Ramadhan dengan muhasabah yang jujur dan amal yang semakin berkualitas. Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju ketakwaan yang lebih baik.

Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Spirit Ramadhan bagi Orang-Orang Beriman

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan kasih sayang Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mendekatkan diri. Ramadhan akan terasa ringan, indah, dan bermakna apabila iman yang tertanam di dalam hati benar-benar hidup dan kokoh.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sarana pembentukan takwa. Dari ayat ini pula muncul pertanyaan penting: siapakah yang dimaksud dengan orang-orang beriman yang mampu menjalani puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan?

Jamaah sekalian,
Rasulullah SAW telah menjelaskan hakikat iman melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللّٰهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”
(HR. Muslim)

Dengan iman seperti inilah, seorang hamba mampu menjalankan perintah Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Iman yang benar akan melahirkan ketaatan, termasuk kesungguhan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Selain memahami makna iman, kita juga perlu mengenali ciri-ciri orang beriman. Syekh Nawawi menjelaskan bahwa ciri-ciri tersebut termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 1 sampai 5.

Pertama, orang beriman meyakini Al-Qur’an sebagai kalam Allah dan petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Keyakinan ini mendorong mereka untuk mencintai, membaca, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Kedua, mereka beriman kepada perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, shirath, yaumul mizan, dan kehidupan akhirat. Keimanan ini menumbuhkan ketaatan dan kehati-hatian dalam menjalani hidup.

Ketiga, iman mereka tertanam kuat di dalam hati, tidak berhenti pada pengakuan lisan. Dari iman yang tulus inilah lahir keikhlasan dalam setiap ibadah.

Keempat, mereka bersungguh-sungguh dalam mendirikan shalat lima waktu sesuai syarat dan rukunnya. Shalat menjadi bukti hubungan yang kokoh antara hamba dengan Allah SWT.

Kelima, orang beriman tidak bersikap kikir terhadap rezeki yang Allah titipkan. Mereka rela menafkahkan sebagian harta untuk membantu sesama.

Keenam, mereka beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al-Qur’an, seperti Taurat, Zabur, Injil, dan suhuf-suhuf. Keyakinan ini menguatkan pemahaman bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat terdahulu.

Ketujuh, mereka meyakini sepenuhnya adanya kehidupan akhirat, mulai dari kebangkitan, yaumul hisab, hingga balasan berupa nikmat atau siksa.

Kedelapan, mereka senantiasa membuka hati untuk menerima hidayah Allah SWT. Golongan inilah yang mendapatkan keberuntungan dan keselamatan.

Jamaah sekalian,
Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam, menjelaskan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang dilandasi iman dan kecintaan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW. Dari puasa seperti inilah lahir semangat memperbanyak amal, menjaga shalat sunnah, memperbanyak tadarus Al-Qur’an, membantu sesama, dan menyucikan jiwa.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat iman dan membersihkan hati. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan dalam diri kita.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan mengokohkan iman di dalam hati kita.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Amalan yang Mengangkat Derajat Seorang Hamba di Sisi Allah SWT

0

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.

Jamaah yang dirahmati Allah SWT,
Setiap manusia tentu mendambakan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi. Tidak sedikit orang mengorbankan tenaga, waktu, bahkan prinsip hidup demi meraih kehormatan di mata sesama. Namun pertanyaan terpenting yang perlu kita renungkan bersama adalah: amalan apa yang benar-benar mampu mengangkat derajat kita di hadapan Allah SWT?

Islam tidak mengukur kemuliaan dari harta, jabatan, atau popularitas. Kemuliaan sejati hanya ditentukan oleh ketaatan dan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya. Untuk itulah Rasulullah SAW memberikan tuntunan yang sangat jelas melalui sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”
Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath.”
(HR. Muslim)

Jamaah sekalian,
Hadits ini mengajarkan bahwa jalan menuju derajat tinggi di sisi Allah tidak selalu berupa amalan besar yang tampak megah. Justru, amalan-amalan yang terlihat sederhana namun dilakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasanlah yang memiliki nilai luar biasa.

Amalan pertama adalah menyempurnakan wudhu dalam kondisi yang terasa berat, seperti saat udara dingin atau tubuh sedang lelah. Pada saat itulah jiwa sering merasa enggan, namun justru di sanalah pahala dilipatgandakan. Allah SWT menilai kesungguhan seorang hamba yang tetap taat meski berada dalam keadaan yang tidak nyaman.

Amalan berikutnya adalah memperbanyak langkah menuju masjid. Setiap langkah kaki yang diarahkan ke rumah Allah bukanlah langkah biasa. Di dalamnya terdapat penghapusan dosa dan peninggian derajat. Semakin jauh dan semakin sering seseorang melangkah menuju masjid, semakin besar pula nilai ketaatan yang dicatat oleh Allah SWT.

Selanjutnya, Rasulullah SAW menyebutkan menunggu shalat setelah shalat sebagai amalan yang sangat mulia. Sikap ini mencerminkan hati yang terikat dengan ibadah dan rindu kepada pertemuan berikutnya dengan Allah SWT. Inilah yang oleh Nabi disebut sebagai ribath, yakni keteguhan dan konsistensi dalam ketaatan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Empat amalan ini mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari hal-hal yang menyenangkan. Jalan menuju surga sering kali dipenuhi perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu. Namun siapa pun yang mampu bersabar dan tetap istiqamah, Allah SWT menjanjikan penghapusan dosa serta peninggian derajat di dunia dan akhirat.

Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melatih diri menjalankan amalan-amalan ini. Jika kita mampu membiasakannya di bulan suci, insya Allah kebiasaan tersebut akan terus hidup setelah Ramadhan berlalu.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan, keikhlasan, dan istiqamah kepada kita semua dalam beribadah. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang Allah angkat derajatnya dan dekatkan kepada-Nya.

Wallahu a’lam.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kultum Ramadhan: Dua Tanda Puasa Ramadhan Diterima Allah SWT

0

Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di bulan penuh keberkahan inilah Allah SWT membuka pintu seluas-luasnya bagi hamba-Nya untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperdalam hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Selain menjalankan ibadah wajib seperti puasa dan sholat lima waktu, suasana Ramadhan juga kental dengan tradisi penyampaian tausiyah atau kultum singkat. Kultum Ramadhan menjadi sarana pengingat agar umat Islam tidak sekadar menjalani ibadah secara rutinitas, tetapi benar-benar meresapi makna dan tujuan di baliknya.

Kultum biasanya disampaikan sebelum atau sesudah sholat tarawih. Melalui ceramah singkat tersebut, jamaah diajak untuk kembali menata keimanan, memperbaiki akhlak, serta memanfaatkan setiap detik Ramadhan agar tidak berlalu tanpa makna.

Tak heran jika masjid, majelis taklim, hingga lingkungan keluarga menjadikan kultum sebagai bagian penting dari aktivitas Ramadhan. Oleh sebab itu, kebutuhan akan kultum Ramadhan yang singkat, padat, jelas, dan menyentuh hati terus meningkat dari tahun ke tahun.

Secara istilah, kultum merupakan kependekan dari kuliah tujuh menit. Namun dalam praktiknya, durasi kultum Ramadhan bersifat fleksibel, bisa berlangsung selama satu menit, tiga menit, hingga lima menit. Perbedaan durasi ini bukanlah persoalan, karena yang terpenting bukan panjangnya waktu penyampaian, melainkan kedalaman ilmu dan hikmah yang disampaikan kepada jamaah.

Kultum Ramadhan: Dua Tanda Puasa Ramadhan Diterima Allah SWT

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji hanya milik Allah SWT yang masih memberi kita kesempatan bertemu dengan bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Jamaah yang dirahmati Allah, harapan terbesar setiap Muslim ketika menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah agar seluruh amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Harapan ini sangat wajar, mengingat puasa merupakan ibadah yang menuntut kesabaran, pengendalian hawa nafsu, serta keikhlasan yang mendalam.

Puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, kita juga diminta menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya halal, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri. Semua itu bertujuan melatih ketaatan dan keikhlasan seorang hamba.

Lebih dari itu, kualitas puasa sangat ditentukan oleh niat yang lurus, hati yang bersih, serta kemampuan menjaga diri dari perbuatan dosa. Karena itulah, diterima atau tidaknya puasa menjadi perkara penting yang patut kita renungkan bersama.

Puasa memiliki keistimewaan dibandingkan ibadah lainnya. Penilaian dan pahalanya sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan puasanya diterima, kecuali Allah semata.

Sebaliknya, jamaah sekalian, kita patut merasa khawatir jika puasa yang dijalani justru tidak bernilai di sisi Allah. Betapa meruginya jika sejak adzan Subuh hingga adzan Maghrib, seluruh jerih payah kita hanya berakhir dengan rasa lapar dan haus.

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعَ وَالْعَطَشَ

Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh apa pun dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Sejak awal Ramadhan, kita seharusnya menyadari kemungkinan tersebut agar lebih sungguh-sungguh menjaga adab dan ruh puasa.

Para ulama menjelaskan bahwa meskipun keputusan akhir diterimanya puasa sepenuhnya berada di tangan Allah SWT, terdapat tanda-tanda yang bisa dijadikan bahan muhasabah diri.

Salah satu tanda diterimanya puasa Ramadhan adalah munculnya kebiasaan untuk melanjutkan puasa di bulan Syawal. Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan besar, bahkan disamakan dengan pahala puasa selama satu tahun penuh.

Lebih dari sekadar keutamaan pahala, kebiasaan ini menjadi isyarat bahwa Ramadhan benar-benar meninggalkan pengaruh positif dalam diri seseorang. Ibadah yang dilakukan tidak berhenti di bulan Ramadhan, tetapi berlanjut setelahnya.

Tanda berikutnya adalah tumbuhnya komitmen kuat untuk tidak kembali melakukan maksiat. Inilah hakikat taubat yang sejati dan tujuan utama dari ibadah Ramadhan.

Jika seseorang rajin beribadah secara lahiriah, namun hatinya masih condong kepada dosa dan kemaksiatan, maka hal tersebut patut diwaspadai. Lisan yang beristighfar tetapi hati masih berniat mengulang dosa menunjukkan taubat yang belum sempurna.

Seorang Muslim sejatinya berusaha menjaga diri dari maksiat, tidak hanya saat Ramadhan, tetapi juga setelah bulan suci itu berlalu. Inilah bukti bahwa puasa benar-benar membentuk ketakwaan dalam dirinya.

Dua tanda ini dapat kita jadikan sebagai bahan evaluasi atas kualitas puasa yang telah kita jalani. Meski keputusan akhir tetap berada di tangan Allah SWT, setidaknya kita memiliki cermin untuk memperbaiki diri di masa mendatang.

Semoga puasa Ramadhan yang kita laksanakan benar-benar diterima oleh Allah SWT dan membawa perubahan nyata menuju pribadi yang lebih bertakwa.

Akhir kata, marilah kita senantiasa memohon kepada Allah SWT agar diberi keikhlasan, keteguhan hati, dan istiqamah dalam ketaatan.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Teror Rumah Kosong di Barru Berakhir, Pelaku Ditembak Polisi

0

BARRU – Aksi pencurian dengan pemberatan yang meresahkan warga perumahan di Kabupaten Barru akhirnya terungkap. Seorang pria residivis berinisial JF (42) dilumpuhkan aparat kepolisian setelah berusaha melawan saat proses pengembangan kasus.

Pengungkapan kasus ini dilakukan jajaran Polres Barru dengan dukungan tim Resmob Polda Sulawesi Selatan.

Kapolres Barru, Ananda Fauzi Harahap, mengungkapkan kasus tersebut dalam konferensi pers, Selasa (24/2/2026).

Beraksi Siang Hari Saat Rumah Kosong

Peristiwa pencurian terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, sekitar pukul 12.40 WITA. Saat itu, rumah korban dalam keadaan kosong karena ditinggal beraktivitas.

Kasat Reskrim Polres Barru, IPTU Akbar Sirajuddin, menjelaskan pelaku tidak beraksi seorang diri. Ia dibantu seorang rekannya yang kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Pelaku masuk melalui pintu belakang dengan cara merusak pintu. Setelah berhasil masuk, pelaku langsung menuju kamar korban dan mengambil perhiasan emas berbagai jenis dengan total berat sekitar 200 gram,” ujar Akbar.

Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian ditaksir mencapai Rp500 juta dan segera melapor ke polisi.

Terungkap dari Rekaman CCTV

Berbekal laporan korban, polisi melakukan olah TKP, memeriksa saksi, serta menganalisis rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Hasil penyelidikan mengarah pada identitas pelaku. Tim Resmob kemudian melakukan pengejaran hingga ke wilayah Kabupaten Jeneponto.

JF ditangkap pada Jumat dini hari, 20 Februari 2026, sekitar pukul 02.30 WITA, di kawasan BTN Budi Mulia Permai 2, Kecamatan Arungkeke.

Dilumpuhkan di Betis Kanan

Saat dilakukan pengembangan untuk mencari barang bukti tambahan dan memburu rekan pelaku, JF melakukan perlawanan dan mencoba kabur.

“Petugas telah memberikan tiga kali tembakan peringatan ke udara, namun tidak diindahkan. Sehingga dilakukan tindakan tegas dan terukur dengan menembak bagian betis kanan pelaku,” jelas Akbar.

Pelaku kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis sebelum ditahan dan diproses hukum.

Residivis dan Satu Pelaku Masih Buron

Dari hasil pemeriksaan, JF diketahui merupakan residivis kasus pencurian. Ia pernah terlibat kasus serupa di Jakarta pada 2020 dan di Kabupaten Bulukumba pada 2021.

Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya tiga gelang emas seberat 96,37 gram, satu unit sepeda motor Honda Scoopy warna putih, helm merah, sepatu kets, satu unit ponsel lipat, serta pakaian yang digunakan saat beraksi.

Pelaku diketahui kerap menyasar rumah-rumah di kawasan BTN yang ditinggal pemiliknya bekerja pada siang hari. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran di Barru yakni BTN Racita 1, BTN Racita 2, BTN Racita 5, dan Villa Permata Hijau.

Atas perbuatannya, JF dijerat Pasal 477 ayat (1) huruf (f) dan (g) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman pidana penjara maksimal tujuh tahun.

Kapolres Barru mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya warga yang tinggal di kompleks perumahan.

“Partisipasi aktif masyarakat sangat kami harapkan dalam menjaga keamanan lingkungan. Dengan kewaspadaan bersama dan dukungan sistem keamanan seperti CCTV, potensi tindak kejahatan dapat diminimalisir,” tutup Ananda.

 

Hengki 

 

Jadwal Lengkap Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD dan SMP 2026 dari Pendaftaran hingga Pengumuman

0

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) SD dan SMP 2026 resmi dimulai sejak Februari dan akan berlangsung hingga Mei 2026. Seluruh rangkaian ini menjadi bagian penting dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026, khususnya pada jalur prestasi akademik.

Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pemerintah telah menetapkan jadwal lengkap TKA, mulai dari tahap pendaftaran, simulasi, gladi bersih, pelaksanaan ujian utama, hingga pengumuman hasil akhir.

Karena peran strategis TKA dalam menentukan peluang siswa melanjutkan pendidikan, orang tua dan peserta didik diimbau memahami setiap tahapan agar tidak melewatkan proses penting.

Rangkaian Pelaksanaan TKA SD dan SMP 2026

TKA SD dan SMP 2026 dilaksanakan selama dua hari dengan struktur ujian yang sama di seluruh Indonesia sesuai jenjang masing-masing.

Hari Pertama

  • Latihan: 10 menit
  • Matematika dan Numerasi: 30 soal dengan durasi 75 menit
  • Survei karakter: 20 menit

Hari Kedua

  • Latihan: 10 menit
  • Bahasa Indonesia dan Literasi: 30 soal dengan durasi 75 menit
  • Survei lingkungan belajar (Sulingjar): 20 menit

Struktur ini dirancang untuk mengukur kemampuan akademik dasar sekaligus memotret karakter serta lingkungan belajar peserta didik.

Pembagian Sesi Ujian TKA SD–SMP 2026

Setiap gelombang pelaksanaan TKA dibagi ke dalam empat sesi waktu, menyesuaikan zona waktu wilayah.

Sesi I

  • WIB: 07.00 – 08.45
  • WITA: 08.00 – 09.45
  • WIT: 09.00 – 10.45

Sesi II

  • WIB: 09.15 – 11.00
  • WITA: 10.15 – 12.00
  • WIT: 11.15 – 13.00

Sesi III

  • WIB: 11.30 – 13.15
  • WITA: 12.30 – 14.15
  • WIT: 13.30 – 15.15

Sesi IV

  • WIB: 13.45 – 15.30
  • WITA: 14.45 – 16.30
  • WIT: Tidak dibuka

Jadwal Lengkap Tahapan TKA SD dan SMP 2026

Berikut tahapan resmi pelaksanaan TKA yang berlangsung secara bertahap hingga akhir Mei 2026:

  • Pendaftaran: 19 Januari – 28 Februari 2026
  • Simulasi TKA SMP: 23 Februari – 1 Maret 2026
  • Simulasi TKA SD: 2 – 8 Maret 2026
  • Gladi Bersih TKA SD dan SMP: 9 – 17 Maret 2026
  • Pelaksanaan TKA SMP: 6 – 16 April 2026
  • Pelaksanaan TKA SD: 20 – 30 April 2026
  • TKA Susulan SD dan SMP: 11 – 17 Mei 2026
  • Pengolahan Hasil TKA: 18 – 23 Mei 2026
  • Pengumuman Hasil TKA SD dan SMP: 24 Mei 2026

Rangkaian ini menunjukkan bahwa proses TKA berlangsung cukup panjang dan membutuhkan kesiapan matang dari sekolah maupun peserta.

Mata Ujian TKA SD dan SMP 2026

Pada tahun 2026, TKA SD dan SMP hanya mencakup dua mata ujian utama dan tidak menyediakan mata pelajaran pilihan.

Dua mata ujian tersebut adalah:

  • Matematika
  • Bahasa Indonesia

Simulasi dan Gladi Bersih Sebelum Ujian Utama

Sebelum pelaksanaan utama pada April 2026, peserta wajib mengikuti tahapan persiapan teknis.

Simulasi TKA SMP dijadwalkan pada 23 Februari hingga 1 Maret 2026, sementara simulasi TKA SD berlangsung pada 2 hingga 8 Maret 2026. Selanjutnya, gladi bersih TKA SD dan SMP dilaksanakan pada 9 hingga 17 Maret 2026.

Tahapan ini bertujuan memastikan kesiapan sistem, sekolah, dan peserta, sekaligus meminimalkan kendala teknis saat ujian utama berlangsung.

Peran Strategis TKA dalam SPMB 2026

Hasil TKA menjadi salah satu indikator penting dalam SPMB 2026, khususnya untuk jalur prestasi. Oleh karena itu, siswa dan orang tua diharapkan mencermati setiap jadwal dan ketentuan agar tidak kehilangan kesempatan akibat kelalaian administratif.

Dengan pengawasan silang dan pemantauan langsung dari pemerintah pusat, pelaksanaan TKA SD dan SMP 2026 diharapkan berjalan objektif, terukur, dan adil bagi seluruh peserta di Indonesia.