Barru, fajarpendidikan.co.id – Kegiatan pembubaran sekaligus pembentukan Pengurus Dewan Ambalan Latanring dan A. Sima Tana Pramuka SMAN 4 Barru berlangsung tertib dan lancar pada Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan yang digelar di lingkungan sekolah tersebut melibatkan seluruh anggota pramuka serta para pembina.
Agenda tahunan ini menjadi momentum evaluasi program kerja kepengurusan periode 2025–2026.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi anggota dalam memahami proses persidangan organisasi dan pemilihan pengurus baru.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari pencapaian Syarat Kecakapan Umum (SKU) Bantara dan Laksana, khususnya pada aspek kepemimpinan dan organisasi.
Sebanyak 35 peserta mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias.
Beberapa anggota lainnya berhalangan hadir karena sedang mengikuti kegiatan lomba di luar sekolah.
Empat orang pembina turut hadir mendampingi jalannya kegiatan yang berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah dan pembina pramuka.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan upacara pembukaan latihan (upabuklat) yang berlangsung khidmat.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan bakti lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan lingkungan sekolah.
Agenda kemudian berlanjut ke dalam ruangan dengan pembahasan laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus sebelumnya.
Selain itu, peserta juga membahas adat ambalan sebagai bagian dari tradisi organisasi pramuka.
Tahapan berikutnya adalah pemilihan pengurus baru yang berlangsung demokratis dan penuh semangat.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pengukuhan pengurus terpilih serta upacara penutupan latihan.
Pembukaan kegiatan dilakukan oleh Ketua Gugus Depan, Kak Zainuddin.
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya proses, tanggung jawab, dan keikhlasan dalam berorganisasi.
“Teruslah berproses untuk menjadi yang terbaik, baik di mata manusia maupun di mata Allah SWT. Amanah yang diberikan harus dijaga dengan baik,” ujarnya.
Para pembina juga memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang berjalan tertib dan penuh makna.
Mereka berharap kegiatan ini mampu melahirkan generasi pramuka yang lebih kompeten dan berkarakter.
Salah satu peserta, Meyva Ramadhanty, mengaku proses pemilihan berlangsung lancar dan demokratis.
“Pemilihan berjalan sangat baik sesuai pilihan kami. Semoga Pramuka SMAN 4 Barru ke depan semakin berkembang,” katanya.
Dari hasil kegiatan, laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya dinyatakan diterima seluruh anggota.
Dalam pemilihan tersebut, Muh. Mifzal Helmi terpilih sebagai Pradana Putra dengan Firmansyah sebagai pemangku adat.
Sementara itu, Nurjihan terpilih sebagai Pradana Putri dengan Meyva Nur Ramadhanti sebagai pemangku adat.
Secara keseluruhan, kegiatan berlangsung tanpa kendala berarti dan sesuai dengan rencana.
Kegiatan ini dinilai memberikan manfaat besar bagi siswa, terutama dalam mengasah kepemimpinan, komunikasi, serta keberanian berbicara di depan umum.
Ke depan, pengurus terpilih akan segera menyusun struktur organisasi dan program kerja satu periode mendatang.
Diharapkan kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas generasi muda di Barru.
Barru, fajarpendidikan.co.id – Tangis pecah di pesisir Pantai Ujunge, Desa Madello, Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Kamis (23/4/2026) sore.
Seorang bocah perempuan bernama Afifah (8), siswi kelas 3 SD, meninggal dunia setelah tenggelam saat bermain dan mandi laut bersama teman-temannya.
Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 16.00 WITA saat korban bersama tiga rekannya bermain di tepi pantai ketika kondisi air laut sedang pasang.
Kapolsek Balusu, Iptu Mustajil, mengatakan awalnya keempat anak tersebut bermain seperti biasa di sekitar pesisir pantai.
Namun situasi mendadak berubah panik setelah ombak dan arus laut menyeret mereka menjauh dari bibir pantai.
“Korban bersama teman-temannya diduga terbawa arus saat air laut pasang,” ujar Iptu Mustajil.
Dua anak bernama Rania dan Giarni berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke daratan.
Keduanya kemudian berteriak histeris meminta pertolongan warga karena Afifah dan Ainun tidak mampu kembali ke tepi pantai.
Teriakan itu didengar Ruslan (37), seorang nelayan yang baru pulang melaut.
Tanpa menunggu lama, Ruslan langsung meminta bantuan warga sekitar untuk melakukan pencarian menggunakan perahu nelayan.
Warga pun bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Suasana pantai mendadak ramai oleh upaya penyelamatan yang dilakukan secara spontan oleh masyarakat setempat.
Di tengah kepanikan tersebut, seorang warga bernama Dedi (45) memberikan pertolongan pertama kepada Ainun dengan membantu mengeluarkan air laut dari tubuhnya sebelum dibawa ke Puskesmas Madello.
“Korban Ainun sempat diberikan pertolongan pertama oleh warga sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan,” sambung Iptu Mustajil.
Sementara itu, pencarian terhadap Afifah terus dilakukan. Warga menyisir area sekitar pantai hingga lokasi perahu-perahu nelayan yang sedang terparkir.
Sekitar 10 menit kemudian, Afifah akhirnya ditemukan oleh seorang warga bernama Yuda di samping perahu nelayan.
Namun nahas, korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke Puskesmas Madello untuk menjalani pemeriksaan medis.
Hasil visum menunjukkan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Korban diduga meninggal dunia akibat tenggelam.
Kapolsek Balusu menegaskan pihak kepolisian langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan dari masyarakat.
“Kami segera mendatangi TKP, membantu proses evakuasi, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan tenaga medis,” jelasnya.
Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu kedatangan orang tua korban yang sedang dalam perjalanan dari Kota Makassar.
“Termasuk menunggu keputusan keluarga terkait rencana autopsi. Jika keluarga menolak, maka akan dibuatkan surat pernyataan sesuai prosedur,” ujarnya.
Iptu Mustajil juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat beraktivitas di wilayah pesisir, khususnya bagi anak-anak.
Menurutnya, pengawasan orang tua sangat penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan keselamatan saat berada di laut atau pantai. Anak-anak jangan bermain terlalu jauh jika tidak bisa berenang,” tegasnya.
Potret kebersamaan murid di SD Inpres 5/81 Sappewalie Desa Sappewalie Kecamatan Ulaweng Kabupaten Bone saat berdoa sebelum menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) perdana.
Barru, fajarpendidikan.co.id – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ranting VII yang menaungi UPTD SMPN 24 Barru dan SMPN Satap 26 Barru resmi memilih pengurus baru masa bakti 2025–2030 dalam rapat anggota yang digelar di UPTD SMPN 24 Barru, Kamis (23/4/2026).
Rapat tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Selain menjadi ajang evaluasi kepengurusan sebelumnya, forum ini juga menjadi momentum menentukan arah organisasi guru untuk lima tahun mendatang.
Sebanyak 21 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pengurus dan anggota PGRI Ranting VII dari SMPN 24 Barru dan SMPN Satap 26 Barru.
Perwakilan pengurus PGRI Cabang Mallusetasi juga turut menghadiri kegiatan dan mengikuti jalannya sidang organisasi hingga selesai.
Ketua PGRI Ranting VII saat membuka kegiatan menegaskan bahwa PGRI harus menjadi wadah yang mampu memperkuat kompetensi dan profesionalisme guru.
Ia berharap seluruh anggota tetap aktif berkontribusi demi kemajuan organisasi dan peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Barru.
“ Kami berharap seluruh anggota terus aktif dalam organisasi ini demi peningkatan profesionalisme guru,” ujarnya.
Rangkaian rapat berlangsung tertib dan lancar. Agenda dimulai dari pembahasan tata tertib sidang, pemilihan presidium, penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus masa bakti 2020–2025, hingga sesi tanggapan peserta.
Suasana sidang terlihat dinamis. Sejumlah peserta menyampaikan saran dan harapan agar program kerja organisasi lebih dekat dengan kebutuhan guru di lapangan.
Puncak kegiatan ditandai dengan pemilihan dan pengukuhan pengurus baru PGRI Ranting VII masa bakti 2025–2030.
Hasil rapat menetapkan Resyani, S.Pd. sebagai ketua terpilih.
Dalam menjalankan roda organisasi, Resyani akan didampingi Wahidah, S.Pd. sebagai wakil ketua, Agusnawan Septian, S.Pd. sebagai sekretaris, Hasmidar, S.Pd., M.M. sebagai wakil sekretaris, serta Rastini, S.Pd. sebagai bendahara.
Kepengurusan baru diharapkan mampu menghadirkan semangat baru dalam memperkuat solidaritas antaranggota serta memperjuangkan kepentingan guru.
Selain itu, organisasi juga diharapkan dapat melahirkan program kerja yang lebih inovatif dan berdampak langsung bagi dunia pendidikan.
Ke depan, PGRI Ranting VII berharap semakin banyak guru bergabung menjadi anggota agar organisasi semakin kuat dalam memperjuangkan aspirasi tenaga pendidik dan meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Barru.
Barru, fajarpendidikan.co.id – Suasana penuh kekeluargaan dan semangat kebersamaan mewarnai Konferensi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ranting VIII SMAN 4 Barru yang digelar pada Kamis (23/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di ruang guru SMAN 4 Barru tersebut menjadi momentum penting bagi para tenaga pendidik dalam menentukan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.
Sebanyak 28 peserta hadir mengikuti konferensi. Mereka terdiri atas pengurus, anggota PGRI Ranting VIII SMAN 4 Barru, serta perwakilan PGRI Cabang Mallusetasi.
Konferensi ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan pada akhir masa bakti kepengurusan.
Melalui forum tersebut, para peserta memilih pengurus baru yang diharapkan mampu memperkuat peran organisasi dalam memperjuangkan aspirasi guru sekaligus meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
Menariknya, sebelum sidang dimulai sempat terjadi diskusi terkait penggunaan istilah kegiatan, yakni antara “rapat anggota” atau “konferensi PGRI ranting”.
Namun setelah mencermati Anggaran Rumah Tangga (ART) PGRI Pasal 52, seluruh peserta akhirnya sepakat menggunakan nama konferensi PGRI ranting.
Acara kemudian dibuka secara resmi oleh pengurus PGRI Cabang Mallusetasi, Ilham, S.Pd., M.Pd.
Dalam sambutannya, Ilham berharap seluruh peserta dapat mengikuti jalannya konferensi dengan tertib dan penuh tanggung jawab.
Ia juga berharap kepengurusan yang terpilih nantinya mampu menjaga kekompakan organisasi dan menghadirkan program kerja yang bermanfaat bagi anggota.
“Semoga pengurus yang terpilih bisa membawa organisasi lebih maju dan tetap solid dalam menjalankan program kerja,” ujarnya.
Rangkaian konferensi berlangsung dinamis, mulai dari pembahasan tata tertib sidang, pemilihan presidium, laporan pertanggungjawaban pengurus lama, tanggapan peserta, hingga proses pemilihan dan pengukuhan pengurus baru.
Meski sidang berlangsung cukup serius, suasana kekeluargaan dan semangat persaudaraan antarguru tetap terasa sepanjang kegiatan.
Dalam forum tersebut, peserta juga memberikan apresiasi kepada pengurus periode sebelumnya yang dinilai berhasil menjalankan roda organisasi dengan baik.
Salah satu capaian yang mendapat perhatian yakni keberhasilan meraih juara III tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada ajang Anugerah Guru Prima PGRI Sulsel 2025 atas nama Hasby, S.Pd., M.Pd.
Prestasi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa PGRI Ranting VIII SMAN 4 Barru mampu menunjukkan kualitas dan eksistensinya hingga tingkat provinsi.
Perwakilan PGRI Cabang Mallusetasi pun berharap kepengurusan baru dapat memperkuat kolaborasi serta menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan anggota.
Adapun susunan pengurus PGRI Ranting VIII SMAN 4 Barru masa bakti 2025–2030 yang terpilih yakni Muhammad Sainal, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua, Zainuddin, S.Pd. sebagai wakil ketua, Sitti Aminah Abduh, S.Pd. sebagai sekretaris, Fajar Arianto, S.Pd., Gr. sebagai wakil sekretaris, dan St. Aminah, S.Pd., Gr. sebagai bendahara.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru tersebut, PGRI Ranting VIII SMAN 4 Barru diharapkan semakin solid dalam memperjuangkan aspirasi guru sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Barru.
SPPG Polri Pejaten menghadirkan inovasi penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem prasmanan. Hal ini perdana diterapkan di SMA Kemala Bhayangkari 1 Pasar Minggu, Rabu (22/4).
Melansir di akun Facebook Divisi Humas Polri menyebutkan, sebanyak 336 siswa menjadi penerima dalam tahap simulasi ini, dengan menu bergizi seimbang yang disusun ahli gizi.
Sistem prasmanan disebut tidak hanya soal distribusi makanan, tetapi juga pembelajaran karakter.
“Inovasi ini menghadirkan pengalaman baru yang mendorong kebersamaan dan antusiasme siswa dalam konsumsi makanan sehat,”demikian dilansir di akun dengan jutaan pengikut itu.
Selain itu, dalam akun centan biru itu menyebut, program ini tetap mengedepankan standar keamanan pangan serta melibatkan UMKM dan bahan lokal.
Ke depan, evaluasi sistem prasmanan akan menjadi dasar pengembangan layanan MBG yang lebih adaptif, tidak hanya memenuhi gizi, tetapi juga membentuk karakter generasi muda.
Sejak berita ini dilansir, postingan MBG Prasmanan tersebut terus mendapat respons dari netizen. Saat ini sudah mendapat ribuan reaksi, tiga ratusan komentar dan 42 membagikan. * Tangkapan layar medsos Divisi Humas Polri
Barru, fajarpendidikan.co.id – Aksi penolakan terhadap aktivitas tambang pasir batu (sirtu) milik PT Bumi Barru Sejahtera di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, kembali memanas, Kamis (23/4/2026).
Puluhan warga bersama ibu-ibu turun ke jalan melakukan demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap aktivitas tambang yang dinilai merusak lingkungan serta merugikan masyarakat sekitar.
Dalam aksi tersebut, massa sempat membakar ban di badan jalan sambil menyuarakan tuntutan penghentian sementara seluruh aktivitas tambang hingga digelarnya rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Barru.
Aksi berlangsung di tengah penjagaan aparat kepolisian dari Polres Barru dan Polsek Tanete Riaja.
Agus dalam orasinya meminta pihak perusahaan tambang hadir langsung menemui masyarakat untuk memberikan penjelasan terkait aktivitas pertambangan di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru.
“Kami meminta hadirkan pihak-pihak penambang yang mempunyai jabatan. Mereka ingin merampas kekayaan alam yang ada di Tanete Riaja,” ujar Agus.
Ia menuding pihak perusahaan melakukan pengerukan dengan menggunakan tanda tangan masyarakat yang awalnya disebut untuk kepentingan normalisasi sungai, namun belakangan diduga digunakan sebagai dasar penerbitan izin tambang tanpa adanya sosialisasi kepada warga.
“Yang terjadi bukan normalisasi sungai, tapi izin tambang yang dikeluarkan tanpa pernah ada sosialisasi kepada masyarakat Desa Lompo Tengah. Ini perlu ditindaklanjuti,” tegasnya.
Agus menegaskan masyarakat hanya meminta agar seluruh aktivitas tambang dihentikan sementara hingga digelar rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Barru.
“Kedaulatan terbesar tidak ada lagi aturan di atasnya kecuali suara rakyat. Oleh karena itu kami minta tidak ada lagi kegiatan maupun operasi apa pun sampai RDP,” katanya.
Ia juga mempertanyakan lambatnya respons terhadap tuntutan warga.
“Kenapa susah sekali mengabulkan permintaan kami,” lanjut Agus.
Dalam orasinya, Agus mengingatkan aparat agar tidak menimbulkan asumsi negatif di tengah masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat berasumsi bahwa pihak aparat satu keranjang dengan pihak penambang atau mendapatkan keuntungan dari pihak tambang,” ucapnya lantang.
Menurut Agus, warga hanya meminta adanya kesepakatan penghentian aktivitas tambang sebelum pelaksanaan RDP di DPRD Barru.
“Kami hanya minta persetujuan untuk tidak melakukan kegiatan tambang sebelum rapat RDP di DPRD,” katanya.
Ia juga menyoroti dampak aktivitas tambang yang disebut telah merusak jalan lintas serta menyebabkan longsor di sekitar aliran sungai.
“Jalan lintas ini sudah rusak, sungai juga ikut longsor. Kalau memang pihak tambang benar, kenapa tidak hadir di sini,” ujarnya.
Agus menegaskan masyarakat ingin menguji keabsahan izin tambang yang dimiliki perusahaan.
“Kami hanya ingin menguji keabsahan izinnya. Kalau memang benar, kenapa mereka tidak datang,” tegasnya.
Ia memastikan aksi yang dilakukan warga bukan tindakan premanisme, melainkan gerakan masyarakat yang terorganisir dan lahir dari keresahan warga.
“Gerakan ini gerakan terkondisi, bukan gerakan abal-abal dan bukan premanisme,” tutup Agus.
Koordinator lapangan aksi, Fitra, menegaskan masyarakat Desa Lompo Tengah menolak aktivitas tambang yang dinilai merugikan warga dan lingkungan sekitar.
“Masyarakat menolak aktivitas tambang di Desa Lompo Tengah. Mereka menutup mata dan menutup telinga terhadap masyarakat.
Ada 85 orang yang menolak aktivitas tambang di sini,” ujar Fitra saat berorasi.
Ia menilai bukti penolakan warga sudah sangat jelas dan meminta pemerintah segera mendengar aspirasi masyarakat.
“Bukti sudah jelas masyarakat sudah menolak aktivitas ini. Saya akan melawan,” tegasnya lantang.
Fitra juga mengingatkan pemerintah agar tidak melupakan masyarakat setelah memperoleh dukungan saat pemilihan.
“Jangan ketika meminta suara datang dan mengemis suara rakyat, tetapi setelah terpilih dan masyarakat punya masalah justru lupa kepada masyarakat,” katanya.
“Jangan lupakan cinta kepada masyarakat,” lanjut Fitra dalam orasinya.
Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di hadapan massa aksi, warga menilai terdapat praktik-praktik yang merugikan rakyat serta merusak lingkungan akibat aktivitas tambang tersebut.
Massa aksi mengecam dugaan penyalahgunaan dokumen masyarakat dan manipulasi tanda tangan warga yang awalnya disebut untuk kepentingan normalisasi sungai, namun diduga dijadikan dasar penerbitan izin tambang tanpa persetujuan masyarakat.
“Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap rakyat,” ujar Fitra.
Menurut massa aksi, tindakan tersebut mencederai hak masyarakat sebagaimana diatur dalam Pasal 28D Ayat (1)UUD 1945.
Selain itu, warga juga menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat aktivitas tambang, seperti longsor di sekitar sungai dan kerusakan jalan yang menjadi fasilitas publik.
“Kami menilai tambang telah nyata menyebabkan longsor dan kerusakan jalan. Ini bukan sekadar kelalaian, tetapi bentuk kejahatan lingkungan yang dibiarkan,” tegasnya.
Massa aksi menilai kondisi tersebut bertentangan dengan Pasal 28H Ayat 1 dan Pasal 33 Ayat 4 UUD 1945 terkait hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Warga juga mengaku hidup dalam ketakutan akibat dampak aktivitas tambang, khususnya masyarakat di sekitar sungai dan para petani.
“Kami melihat masyarakat dan petani kini hidup dalam ketakutan akibat dampak tambang. Negara dinilai gagal memberikan rasa aman kepada masyarakat,” kata Fitra.
Dalam tuntutannya, warga meminta seluruh aktivitas pertambangan, termasuk penggalian dan pengangkutan material, dihentikan sementara hingga ada kejelasan melalui rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Barru.
Selain itu, masyarakat juga menuntut adanya jaminan perlindungan nyata bagi warga terdampak aktivitas tambang.
“Jika negara terdiam dan aparat kehilangan keberanian, maka rakyat akan mengambil peranan sebagai pengingat bahwa keadilan tidak boleh ditunda, apalagi dikubur,” tutup Fitra.
Aksi demonstrasi warga menolak aktivitas tambang sirtu di Desa Lompo Tengah, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru. (Foto: fajarpendidikan.co.id)
Rajmawati, seorang perempuan tangguh sekaligus ibu rumah tangga yang ikut dalam aksi demonstrasi, meminta pemerintah dan pihak terkait segera membantu masyarakat yang menolak aktivitas tambang tersebut.
“Tolong kami, Pak. Ada 85 tanda tangan warga yang menolak,” ujarnya sambil menunjukkan dokumen tanda tangan penolakan warga.
Ia juga meminta agar izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan diperiksa karena menurutnya tidak pernah ada persetujuan dari masyarakat.
“Tolong periksa IUP perusahaan, tidak ada tanda tangan kami,” katanya.
Rajmawati mengaku warga merasa tidak dianggap dan tidak dipedulikan sehingga memilih turun langsung melakukan aksi demonstrasi.
“Kami tidak dianggap dan juga tidak dipedulikan, makanya kami turun ke jalan,” ujarnya.
Ia juga menilai masyarakat sengaja dibohongi terkait penggunaan tanda tangan warga.
“Kami sengaja dibodohi dan kami tidak pernah tanda tangan untuk aktivitas tambang,” tegasnya sambil kembali menunjukkan dokumen tanda tangan warga.
Setelah aksi berlangsung kurang lebih satu jam, Kepala Desa Lompo Tengah, Arifuddin Pabiseang, datang menemui massa aksi dan menyampaikan bahwa tidak akan ada aktivitas tambang sebelum pelaksanaan rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD Barru.
“Sampai selesai RDP di DPRD, tidak ada aktivitas tambang,” ujar Arifuddin di hadapan warga yang melakukan aksi demonstrasi.
Ia juga menegaskan siap menjamin penghentian sementara seluruh aktivitas tambang hingga agenda RDP yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 1 mendatang.
“Saya menggaransi tidak ada aktivitas tambang sebelum adanya RDP di kantor DPRD,” katanya.
Menurut Arifuddin, pemerintah desa menghormati aspirasi masyarakat yang telah disampaikan melalui surat kepada DPRD Barru.
“Yang jelas, tidak ada kegiatan aktivitas tambang. Saya juga menghormati surat masyarakat yang masuk ke DPRD. Jika ada aktivitas tambang, saya yang langsung berkomunikasi dengan pihak tambang,” tegasnya.
Kapolsek Tanete Riaja, Iptu Mudaffar, mengatakan pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun pihak perusahaan terkait penghentian sementara aktivitas tambang.
“Kami sudah sepakat agar tidak ada aktivitas sampai RDP dilaksanakan,” kata Iptu Mudaffar kepada wartawan.
Ia menyebut alat berat milik perusahaan juga telah ditarik keluar dari lokasi tambang.
Menurutnya, sekitar 30 personel gabungan dari Polres, intelijen, dan Reskrim diterjunkan untuk mengamankan jalannya aksi demonstrasi.
Kapolsek berharap masyarakat tetap menjaga situasi agar tetap kondusif hingga pelaksanaan RDP.
“Nanti di RDP akan ada titik temu antara warga dan pihak pemilik izin agar ada solusi terbaik,” tutupnya.
Potret aktivitas di lingkungan UPT SMP Negeri Satap 3 Bengo Desa Mattirowalie Kecamatan Bengo Kabupaten Bone terpantau sedang buat pagar. Aktivitas ini sebagai persiapan menjadi sekolah adiwiyata.
Terpantau guru hingga pelajar bahu membahu membenahi lingkungan sekolah. Mulai dari kebersihan hingga pembuatan pagar sekolah dari bahan ramah lingkungan.
Kepala UPT SMP Negeri 3 Satap Bengo, Amir mengatakan aktivitas di sekolah merupakan persiapan menjadi sekolah adiwiyata. Hal ini dilakukan mengingat adanya penyampaian dari Disdik Bone.
“(Aktivitas pembenahan sekolah) persiapan sekolah adiwiyata, “ungkap mantan Kepala UPT SMPN 2 Lappariaja ini.
Barru, fajarpendidikan.co.id – Pengawas sekolah tingkat provinsi, Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., turun langsung memantau pelaksanaan program di SMAN 4 Barru, Selasa (21/4/2026).
Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan program sekolah berjalan sesuai standar, sekaligus mengevaluasi kualitas pembinaan yang diterapkan.
Dalam pemantauan tersebut, ada empat aspek utama yang menjadi sorotan.
Mulai dari hafalan kitab suci bagi guru dan tenaga kependidikan (GTK) serta siswa, iklim keamanan sekolah melalui Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK), pembatasan penggunaan handphone (HP), hingga kebersihan lingkungan sekolah.
Muhammad Yunus menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas penilaian.
Menurutnya, pemantauan merupakan bagian dari pembinaan berkelanjutan untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan.
“Pemantauan ini untuk memastikan program berjalan efektif, terutama dalam membentuk karakter siswa, menjaga keamanan, serta menciptakan lingkungan belajar yang bersih dan tertib,” kata Yunus kepada fajarpendidikan.co.id.
Ia juga mengungkapkan, capaian Rapor Pendidikan SMAN 4 Barru saat ini tergolong sangat memuaskan.
Sebanyak 45 siswa sebelumnya mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Peserta tersebut merupakan sampel yang dipilih secara acak, dengan data yang dikelola di tingkat pusat sebagai bagian dari evaluasi nasional.
Tak hanya itu, indikator kelulusan ke perguruan tinggi melalui jalur bebas tes juga menunjukkan tren peningkatan signifikan.
“Untuk bebas tes, SMAN 4 Barru sangat memuaskan dan terus meningkat ke perguruan tinggi,” sambungnya.
Kegiatan pemantauan berlangsung lancar dan diakhiri dengan diskusi bersama pihak sekolah.
Dalam sesi tersebut, pengawas memberikan sejumlah catatan serta rekomendasi sebagai bahan evaluasi ke depan.
Sementara itu, Kepala SMAN 4 Barru, Hasby, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kunjungan tersebut.
Ia menilai kehadiran pengawas menjadi momentum penting untuk mengukur sejauh mana program sekolah berjalan optimal.
“Ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan religius,” ujarnya.
SMAN 4 Barru berkomitmen menghadirkan lingkungan belajar yang kondusif bagi seluruh siswa.
Upaya tersebut sejalan dengan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan di sekolah tersebut.
Pelaksanaan Tes Potensi Akademik (TKA) bagi siswa kelas VI di UPT SPF SDN Gotong-Gotong 1 berlangsung sukses dan tertib. Kegiatan ini digelar selama dua hari, yakni pada 20 hingga 21 April 2026, dengan diikuti seluruh peserta didik kelas akhir sebagai bagian dari evaluasi kemampuan akademik mereka.
Sejak hari pertama hingga hari kedua, pelaksanaan TKA berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Para siswa mengikuti ujian dengan penuh disiplin dan kesungguhan, sementara panitia memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kesiapan sarana dan prasarana turut mendukung kelancaran kegiatan ini.
Keberhasilan pelaksanaan TKA tidak terlepas dari peran aktif berbagai pihak, termasuk teknisi, proktor, dan pengawas yang menjalankan tugasnya secara profesional. Koordinasi yang baik antarpetugas menjadi kunci utama dalam menjaga ketertiban dan kenyamanan selama ujian berlangsung.
Kepala Sekolah, Muhammad Yahya, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kerja keras seluruh panitia dan pihak yang terlibat. Ia mengungkapkan rasa bangga atas kelancaran pelaksanaan TKA serta berharap hasil yang diperoleh siswa dapat mencerminkan kemampuan terbaik mereka.
Dengan terselenggaranya TKA secara sukses dan tertib, diharapkan kegiatan ini dapat memberikan gambaran yang objektif mengenai capaian akademik siswa sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.