Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berencana membuka dua program magister (S2) tahun 2019 ini.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi dan Pembubaran Panitia Wisuda STKIP Muhammadiyah Bone yang digelar di ruang rapat kampus setempat, Kamis (3/1/2018).
“Selain pembubaran panitia, dan membahas pelaksanaan semester, yang tidak kalah pentingnya adalah pembicaraan tetang tim pembukaan Prodi S2 yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Ekonomi,” kata Wakil Ketua I Bidang Akademik STKIP Muhammadiyah Bone, Dr Muh Safar MPd kepada FAJAR PENDIDIKAN.
Menurut Dr Safar, pembukaan kedua Prodi tersebut memang sudah seharusnya dilakukan oleh pihak STKIP muhammadiyah Bone. Asumsinya bahwa, pertama SDM sudah ada dan menjawab tantangan dari alumni yang jumlahnya semakin banyak.
“Bahkan dalam orasi ilmiah dan sambutan dari Kepala Bagian LLDIKTI Kopertis wilayah 9 bahwa STKIP wajib membuka S2. Artinya pihak LLDIKTI dan pihak Muhmmaadiyah Propinsi sudah memberikan dorongan dan motivasi terkait pembukan program S2 teresebut,” pungkas Safar.
Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Rapat Pembubaran Panitia Wisuda STKIP Muhammadiyah Bone digelar di ruang rapat kampus setempat, Kamis (3/1/2018). Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan wisuda, lalu.
Ketua STKIP Muhammadiyah Bone dalam sambutannya menilai pelaksanaan wisuda kali ini berhasil. Hal ini terlihat pada saat pelaksanaan wisuda semuanya berjalan lancar.
“Kejadian-kejadian yang tidak diinginkan, sudah tidak ada. Hal ini tentunya tak lepas dari perencanaan dan perancangan kepenitiaan . Seperti orang berjualan dan fotografer disiapakn tempat terpisah sehingga bisa mengurai keramaian,”ujarnya
Dengan berhasilnya pelaksanaan Wisuda kali ini, Ketua STKIP memberikan apresiasi kepada kepanitiaan khususnya Ketua Panitia Wisuda, Dr Muh Safar MPd atas kerja nyata yang telah dilakukan bersama timnya sehingga kegiatan ini bisa berjalan lancar.
Pada rapat tersebut juga dibahas tentang pelaksanaan semester ganjil yang dilaksanakan tanggal 28 Januari 2019, mendatang.
Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, memacu peningkatan nilai akreditasi beberapa program studi (Prodi) di sejumlah Fakultas PTKIN tersebut. Tahun 2019 ini, akan melakukan reakreditasi dan akreditasi terhadap sejumlah prodi untuk mendapatkan nilai atau predikat yang baik dari BAN-PT.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Penjaminan Mutu (P2M) IAIN Bone Dr Ridhwan SAg MAg saat ditemui FAJAR PENDIDIKAN di ruang kerjanya di IAIN Bone.
“Kami berupaya meningkatkan akreditasi dari tiap prodi. Paling tidak, kita pacu peningkatan nilai akreditasi sebelumnya. Tahun ini kita tunggu kehadiran Tim Asesor BAN-PT,”kata Dr Ridhwan, Rabu (2/1/2018).
Hal itu juga dikatakannya sebagai salah satu program dan upaya yang menjadi fokus kerja Pimpinan PTKIN yakni peningkatan nilai akreditasi seluruh prodi.
Adapun prodi yang akan reakreditas atau akreditasi tahun 2019 ini diantaranya, yakni Prodi HTN, PBA, Ekis, dan PAI.
Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Dialog Akhir Tahun yang digelar PERSAKMI Sulsel yang berlangsung di Warkop 88 Daya Makassar, Senin, 31 Desember 2018 dirancang dengan lebih banyak mendengarkan komentar dan masukan dari para anggota. Semua peserta juga sekaligus bertindak sebagai pembicara dalam dialog yang mengambil tema Refleksi Pembangunan Kesehatan di Indonesia dan Prospek di Tahun Politik ini. Peserta menyampaikan pandangannya secara bergantian.
Sudirman PhD, Ketua Dewan Etik PERSAKMI Kota Palopo, yang baru menyelesaikan studinya di Universitas Kebangsaan Malaysia, memandang bahwa Secara subtantif, materi diskusi dikalangan mahasiswa dan penggiat kesehatan masyarakat maupun para SKM masih relatif sama sejak tahun 90an hingga saat ini, yaitu masih menanyakan eksistensinya.
“Fenomena itu sesungguhnya ada positifnya, karena akan senantiasa tersedia ruang diskusi yang bisa meningkatkan perhatian terhadap masalah kesehatan yang ada dan terus berkembang, termasuk kebijakan kesehatan. Hasilnya pun sebenarnya sudah mulai kelihatan. Misalnya, sudah semakin banyak SKM yang mendapatkan kepercayaan untuk menduduki jabatan eselon di kab/kota. Kepercayaan ini harus dijaga dengan membuat standard program minimal,” kata Sudirman.
Atin, demisioner Bidang Kajian Strategi dan Advokasi BEM FKM Unhas Periode 2016-2017 juga menyampaikan pendapatnya. Menurut Atin, permasalahan kesehatan tidak ada habisnya. Jumlah orang-orang sakit terus bertambah. Kebijakan dan program kesehatan yang hadir difokuskan pada curative, dan mengesampingkan preventif dan promotif. Misalnya saja jabatan kepala rumah sakit, jabatan ini kata Atin hanya dapat diduduki oleh dokter yg telah melulusi S2 Kesmas/RS. Alhasil pengolahan RS lebih diarahkan pada curative. Padahal RS dapat memperluas perannya ke ranah preventif promotif.
“Jika melihat dari segi politik, hal ini sebenarnya wajar, karena pengambil kebijakan juga berasal dari dokter. Sehingga hal yang wajar jika mereka (oligarki) memberikan jabatan tersebut dari golongannya. Oleh karena itu jika kita ingin merubah arah kebijakan kesehatan ke arah preventif promotif. Kita tidak bisa menggantungkan nasib Kesmas pada mereka. Kita harus dapat menduduki jabatan strategis dipemerintahan atau setidaknya ikut bergabung dalam kancah perpolitikan sehingga suara kita dapat mempengaruhi kebijakan yang ada. Selain itu kita juga dapat memanfaatkan digitalisaai media. Saat ini setiap orang (warganet) memiliki media nya sendiri. Hal ini dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan aspirasi kita. Yang perlu dilakukan adalah menviralkan masalah2 kesmas (mengangkat) dan membuat masalah ini menjadi masalah bersama, sehingga kita dapat bersama-sama membagun paradigma sehat, sekaligus menjadi power dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah,” jelas Atib.
Selain itu, Aryangga Pratama Presiden BEM FKM UNHAS periode 2018/2019 juga mengkritiki hal yang sama. Â Ia sangat bersyukur dengan hadirnya dialog akhir tahun oleh Persakmi Sulsel menilik kondisi hari ini keresahan terkait dilema seputar kejelasan keprofesian kesmas masih menjadi polemik yang hangat diperbincangkan dikalangan mahasiswa kesmas seluruh indonesia.
“Hampir dua tahun mahasiswa Kesmas seluruh Indonesia dilema terkait ingin diarahkan kemana mahasiswa Kesmas selepas sarjana, bagi seorang S.KM yang idealnya ingin mengabdi disektor kesehatan justru banyak mengalami hambatan dari keharusan mengikuti UKOM sedangkan dalam aturan UU Nakes no 36 yang wajib mengikuti UKOM adalah mahasiswa profesi kesehatan,sedangkan kesmas hari ini belum menjadi profesi,” Aryangga Pratama.
Juli 2018 Aryangga mewakili Unhas menghadiri undangan RAPIMNAS ISMKMI (Rapat Pimpinan Mahasiswa Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Seluruh Indonesia) di Universitas Indonesia yang dihadiri oleh perwakilan 142 insitusi kesmas seluruh-Indonesia. Dari hasil rapat tersebut menunjukan telah ada upaya advokasi terkait ke-profesian Kesmas namun terhambat ketidakjelasan format keprofesian karena belum adanya kesepakatan yang kunjung selesai antar PERSAKMI dan IAKMI
“Harapan kami seorang SKM tidak dipandang sebelah mata lagi dan mesti sebagai seorang dengan dasar keilmuan Kesmas mesti saling mendukung satu dengan lainnya disegala sektor dan mampu berperan dan memberikan kontribusi yang terbaik untuk indonesia.”
Hal menarik dari dialog ini adalah dua SKM yang menjadi lurah dan sekretaris camat juga ikut hadir dan banyak memberikan masukan kepada PERSAKMI untuk bermitra dengan pemerintah Kota Makassar yaitu Andi Salman Baso, SKM Sekretaris Camat Kecamatan Tamalanrea yang sebelumnya sebagai Lurah Tamalanrea Jaya dan A Takdir SKM sebagai
Lurah Maricaya Selatan, Kec. Mamajang.
Menurutnya mereka, Keterlibatan PERSAKMI sangat diharapkan dan ini perlu dikomunikasikan kepada pemerintah Kota Makassar. Beliau dengan bangga menjadi SKM dan diberi amanah oleh walikota untuk menjadi lurah dan mereka berkomitmen untuk menjalankan amanah ini dengan baik. SKM itu dengan kompetensi yang dimilikinya dapat ditempatkan pada bidang dan posisi mana saja termasuk menjadi lurah dan camat.
Dialog Akhir Tahun tersebut ditutup oleh Ketua PERSAKMI Sulsel, Prof Sukri Palutturi SKM, MKes MScPH Â PhD, 5 menit sebelum pergantian tahun 2018 ke 2019. (*)
Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Dialog Akhir Tahun Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Sulawesi Selatan yang berlangsung di Warkop 88 Daya Makassar Senin, 31 Desember 2018 mengangkat tema Refleksi Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia dan Prospek di Tahun Politik.
Menurut Ketua PERSAKMI Sulsel, Prof Sukri Palutturi SKM M Kes MScPH PhD, ketidakberpihakan pemerintah Kota Makassar terhadap pembangunan kesehatan masyarakat ditandai dengan tidak adanya satu orang pun SKM yang menjadi kepala Puskesmas di Kota Makassar.
“Sangat unik dan juga cenderung diskriminatif dan ini hanya terjadi di Kota Makassar sementara daerah lain di Sulawesi Selatan bahkan Indonesia Bagian Timur posisi kepala Puskesmas sebagian besar dipimpin oleh seorang SKM. Puskesmas itu ada ilmunya di Sarjana Kesehatan Masyarakat secara komprehensif. Puskesmas itu adalah pintu gerbang pelayanan kesehatan untuk mencegah seseorang untuk tidak jatuh sakit. Pelayanan Puskesmas tidak sama dengan rumah sakit. Pelayanan Puskesmas itu bersifat pelayanan dasar. Jadi semakin tinggi penyakit menular dari tahun ke tahun misalnya tuberkulosis, diare, DBD dan sebagainya pertanda pemerintah gagal mengelola kesehatan,” kata Prof Sukri Palutturi.
Hal senada juga diutarakan  Dr Atjo Wahyu SKM MKes yang juga hadir dalam dialog tersebut. Ia dengan tegas melihat bahwa pemerintah Kota Makassar gagal dalam pembangunan kesehatan masyarakat dan itu diaminkan oleh peserta dialog.
Kegagalan itu kata Dr Atjo ditandai dengan jumlah pasien yang berkunjung ke Puskesmas yang semakin meningkat, mengartikan banyak orang sakit di Kota Makassar.
“Masalah lainnya adalah pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan kantong-kantong perumahan kumuh yang tidak terselesaikan. Bahkan Stunting dan kecacingan pun juga masih menjadi masalah di Kota Makassar seperti yang disampaikan oleh peserta dialog yang tidak ingin disebutkan namanya,” Â jelasnya. Meskipun demikian Dr Atjo mengakui kesuksesan pembangunan fisik di Kota Makassar.
Kembali menggugah Walikota Makassar, mengapa SKM sangat layak memimpin Puskesmas? Menurut Ketua PP PERSAKMI, Prof Dr Ridwan Amiruddin SKM MKes MSc PH bahwa SKM Â dibekali oleh delapan kompetensi dan penjuru keilmuan.
“Seorang SKM dibekali kemampuan melakukan analisis dan diagnosa masalah kesehatan, kemampuan komunikasi dan pemberdayaan masyarakat, kemampuan perencanaan dan kebijakan kesehatan, kemampuan finansial. Seorang SKM Menguasai kompetensi dasar ilmu kesehatan masyarakat misalnya Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Biostatistik Kependudukan dan Keluarga Berencana, Epidemiologi, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan Gizi Masyarakat,” ujar  Prof Dr Ridwan Amiruddin.
Selain itu, lanjut Prof Ridwan bahwa seorang SKM itu memiliki kemampuan leadership dan berpikir sistem.
Berbagai peserta hadir dalam dialog tersebut misalnya dari unsur Perguruan Tinggi, rumah sakit, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, BBPK Makassar dan para aktivis mahasiswa. (*)
Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-UIN Alauddin Makassar menggelar Media Gathering & Dialog Akhir Tahun Bersama Media Mitra UIN Alauddin Makassar di Ruang Rapat Gedung Rektorat Lantai 1, Senin, 31 Desember 2018.
Media Gathering merupakan salah satu Program Kerja Humas yang bertujuan untuk mendekatkan hubungan antara pihak perguruan tinggi dengan pihak media.
Kepala Sub Bagian (Kasubag) Hubungan Masyarakat (Humas) UIN Alauddin Makassar, Ismi Sabariah SB M Adm SDA mengatakan bahwa hubungan yang dekat antara Perguruan Tinggi dengan media akan menghasilkan pemberitaan yang positif bagi kampus dan akan meningkatkan citra Perguruan Tinggi yang positif ke publik serta para stakeholder.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 50 peserta dari beberapa media mitra UIN Alauddin Makassar baik media cetak, elektronik maupun media online.
Ismi Sabariah berharap kedepannya kegiatan Media Gathering perlu disempurnakan sehingga dapat semakin menumbuhkan minat media untuk hadir dan semakin mendekatkan hubungan media dengan perguruan tinggi.
“Kami menerima masukan dan kritikan yang bersifat membangun dari para peserta demi kesuksesan kegiatan ini selanjutnya,” tuturnya.
Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Dr Musafir MSi mengatakan bahwa beberapa berita sering kali merugikan UIN Alauddin. Komisi Humas UIN Alauddin ini akan diketuai Dr Firdaus Muhammad dan beranggotakan Andi Fadli S Sos MSi dan H Salman Ahmad SAg MAg. Pembentukan Komisi Humas itu diharapkan dapat menyampaikan ke media dengan proporsi yang sebenarnya.
“Bukan untuk menutupi masalah, tapi untuk memperjelas masalah agar tidak merugikan institusi,” tuturnya. (*)
Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Sulawesi Selatan menggelar dialog akhir tahun dengan tema Refleksi Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Prospek di Tahun Politik. Dialog ini dilaksanakan pada  31 Desember 2018 di Warkop 88  Kota Makassar yang terletak di sekitar daya.
Ketua PERSAKMI Sulsel, Prof Sukri Palutturi PhD menyampaikan bahwa agenda dialog akhir tahun ini lebih mendorong agar para SKM yang ada di Sulsel ini lebih diberdayakan pada semua level pemerintahan.
Hadir dalam dialog tersebut, Ketua Umum PP PERSAKMI, Prof Dr Ridwan Amiruddin. Menurut beliau Dialog akhir tahun ini penting untuk membangun silaturahim. Sekaligus mereview agenda pembangunan kesehatan yang telah lewat dan refleksi agenda kedepan.
Evaluasi agenda yang lewat terfokus pada capaian indikator kesehatan yang masih melambat, misalnya stunting, sumber daya manusia, jaminan kesehatan nasional dan lain-lain. Pada era disruption ini, inovasi-inovasi strategis adalah keniscayaan, program berbasis artificial intelligence sudah perlu di introduce. Selain itu, Peningkatan kapasitas SDM yang lebih terkordinasi perlh di tinjau kembali.
Muhammad Hatta SKM MKes, Ketua PERSAKMI Kab. Maros menambahkan bahasa dalam dialog akhir tahun 2018 memberikan masukan agar tenaga SKM dapat diberikan peran dan kesempatan lebih luas khususnya dalam dunia pekerjaan baik pemerintah maupun swasta.
Selain itu juga hadir Andi Salman Baso, SKM sekretaris Camat Kec. Tamalanrea yang sebelumnya sebagai lurah Tamalanrea Jaya. Beliau banyak bercerita pengalaman dirinya menjadi pejabat di tingkat lurah maupun kecamatan bahwa SKM dengan kapasitas yang dimilikinya dapat menduduki jabatan seperti itu. SKM memiliki kemampuan pemberdayaan dan pengorganisasian masyarakat.
Peserta lainnya adalah para pengurus daerah dan cabang PERSAKMI Sulsel yang tersebar dan bekerja di berbagai instansi misalnya BBPK Makassar, Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit. (*)
Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Pendidikan merupakan peluang dan tantangan di era revolusi industri ini. Olehnya itu, mahasiswa maupun alumni tak hanya memoles hard skils tapi juga harus mengasah soft skill yang menjadi tuntutan dalam era revolusi industri 4.0.
Hal tersebut disampaikan Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bone, Dr Muhammad Jufri Rasyid SE MSi usai menggelar wisuda yang bertajuk “Pendidikan, Peluang dan Tantangan pada Revolusi Industri 4.0” di Auditorium Andi Abdullah STKIP Muhammadiyah Bone, Jl Abu dg Pasolong, Watampone. Sabtu (29/12/2018).
“Pendidikan itu merupakan peluang dan tantangan di era revolusi industri 4.0. Peluangnya adalah ketika alumni telah selesaikan studinya di Perguruan Tinggi (PT), dan itu mesti ditambah dengan beberapa soft skill,”kata Dr Muhammad Jufri saat ditemui FAJAR PENDIDIKAN usai acara wisuda
Skill, lanjut Dr Muhammad Jufri, meliputi hard skill maupun soft skill yang dimiliki mahasiswa atau alumni itu sendiri. Selain pendidikan di PT, pendidikan di dalam lingkungan keluarga, tempat lain, juga disebutnya dibutuhkan mahasiswa atau alumni untuk lebih mengembangkan diri. Hal ini mesti disadari kesadaran bahwa proses pembentukan karakter dan soft skill mahasiswa tanpa paksaan, dapat membawa hasil yang lebih baik. Sebab, keinginan untuk berubah dari diri mahasiswa itu sendiri.
“Tentu kita berharap mahasiswa atau alumni ini, harus adaptif kedepan. Kalau skill nya memang mumpuni dan ditambah pengetahuan dasar yang sudah memadai maka itu menjadi peluang tersendiri bagi mahasiswa atau alumni PT tersebut,” jelasnya.
Sebaliknya, masih jelas Dr Jufri, jika mahasiswa atau alumni kurang memliki hard skill dan soft skill, tentunya akan menjadi tantangan tersendiri baginya dan tidak menutup kemungkinan menjadi kembali ke nol.
Sekedar diketahui penanaman soft skill mencakup karakter inti manusia seperti kreativitas, imaginasi, emosi, intuisi dan etik membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Banyak manusia yang ingin abadi. Tapi jarang yang berpikir untuk menulis yang merupakan salah satu jalan untuk mencapai keabadian di dunia.
Begitu pula sebagaimana Habib Rizieq pernah berkata:Â “Tulisan yang bermanfaat dapat menembus jutaan kepala.”
Tulisan seperti itu merupakan aset untuk tabungan di keabadian.
Tulisan yang bermanfaat dapat ditemukan di buku mana saja seperti cerpen, novel, motivasi, pengetahuan, hingga traveling.
“Tips rajin menulis yaitu;
jangan terhalang bad mood, justru saat bad mood paksa diri untuk menulis, nanti kalau lama menulis, justru menulis yang menghilangkan  bad mood,” cetus Nur Rahmah, Triner Cerpen MIB Indonesia.
Penerbit MIB Indonesia ingin menyebar luaskan kebermanfaatan tersebut dengan mengadakan Training Kepenulisan cerpen. Pada 28 Desember 2018.
Suasana trening penulisan cerpen
Dan empat orang pelajar terjerat pesona Aurora Rahmah untuk mengikuti pola penulisan cerpennya.
Buktinya mereka tak tanggung-tanggung menyisihkan isi dompetnya untuk mengikuti training enam jam itu.
Siti Aisyah Sukardi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UNM bersama Rachmat Budianto antusias mengikuti training tersebut.
“Ternyata dikepenulisan cerpen tidak boleh pakai nama asli karena kalau pakai nama asli sama ji kalau diceritai orang (menggibah),” ungkap Aisyah.
“Kalau menulis jangan sementara menulis diedit juga karena nanti tulisan tidak akan selesai,” lanjut mahasiswi bahasa Arab UNM, Aisyah Sukardi.
Rachmat sebagai peserta laki-laki satu-satunya turut membuka suara tentang training di Warkop 17, Perintis Kemerdekaan 13 ini.
“Hal menarik yang saya dapatkan setelah mengikuti training yaitu saya punyai nilai tambah untuk memperbaiki karya-karya saya yang sudah saya buat kemarin-kemarin,” kata Mahasiswa Ekonomi UNM, Rahmat.
“Serta karyanya dapat dibukukan oleh penerbit MIB Indonesia,” tambah Budianto.
Tak hanya mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini siswi dari MAN 2 Model Makassar, Miftahul Hikmah bersama saudara perempuannya Fatimah Ar-rahma yang juga berstatus Mahasiswa aktif di UGM, namun tengah liburan, dan mendaftarkan diri di Training Kepenulisan ini.
Miftahul Hikmah memaparkan bahwa cara menulis cerpen yang sekarang lebih terstruktur dan berharap agar kemampuan menulis cerpennya lebih terasa setelah training ini.
Sedangkan kakaknya Fatimah Ar-rahma mengungkapkan alasannya mengikuti training Kepenulisan.
“Karena mau belajar menulis dan selama ini kalau saya bikin tulisan itu biasanya tidak jadi. Terus katanya dikegiatan ini tulisan bisa langsung jadi, jadi begitumi,” ucap Fatimah dengan logat Makassar.
Sesuai dengan slogan MIB ‘make your own book‘ maka MIB membuka pintu selebar-lebarnya untuk para peserta training dan member MIB untuk menerbitkan karya anak bangsa secara gratis. Meliputi ISBN gratis, desain cover, editing, dan layouting.
Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Bone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menggelar wisuda bagi 459 mahasiswa, Sabtu (29/12/2018).
Wisuda kali ini mengangkat tema “Pendidikan, Peluang dan Tantangan pada Revolusi Industri 4.0” digelar di gedung Auditorium Andi Abdullah STKIP Muhammadiyah Bone, Jl Abu dg Pasolong, Watampone.
Wakil ketua IV Badaruddin Baso DM SE MM kepada FAJAR PENDIDIKAN menyebutkan, ratusan wisudawan/i adalah lulusan Sarjana Strata Satu (S1) angkatan XXXIII. Mereka dari 7 Program Studi (Prodi) yakni, Prodi Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Teknologi Pendidikan, Biologi, Ekonomi, Matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Ketua STKIP Muhammadiyah Bone Dr Muhammad Jufri Rasyid mengucapkan selamat kepada para wisudawan/i yang telah berhasil menyelesaikan studi jenjang S1 mereka. Para alumni diwanti-wanti untuk senangtiasa menjaga almamater dan terus belajar untuk mengembangkan keilmuan yang telah diperoleh agar lebih menfaat dalam kehidupan sosial.
“Selaku pimpinan Perguruan Tinggi, mengharapkan alumni selalu belajar misal lanjut S2, jangan cepat berpuas diri dan selalu pantau peluang yang ada,”kata Muhammad Jufri
Selain itu, Ketua STKIP Muhammadiyah Bone juga berpesan kepada alumni untuk senantiasa menjaga almamater. Sebagai alumni, lanjutnya, harus selalu memiliki etika dan estetika yang sesuai ajaran islam dalam kehidupan bermasyarakat.