Beranda blog Halaman 3389

Polemik Retribusi Baypass Kolut

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Pembangunan BayPass yang menghubungkan bibir pantai Kelurahan Lasusua yang membelah laut sepanjang kurang lebih 7 km, menghubungkan pelabuhan Desa Tobaku merupakan karya monumental Bupati H.Rusda Mahmud pada awal priodenya memipin Kolaka Utara 10 tahun yang Lalu.

Pada awal perencanaannya di sosialisasikan pada Masyarakat bahwa tujuannya guna memperpendek jarak tempuh jika di bandingkan lewat jalan Trans Sulawesi melewati gunung.

Alasan ini sangat logis dan di terima oleh masyarakat dan dukungan legislatif Kolaka Utara.

Konsekuensinya adalah pemerintah Pusat dan Daerah Mengalokasikan anggaran lewat APBN dan APBD Kolut Ratusan miliyar secara bertahap. Alhasil Bypass akhirnya selesai dan dinikmati masyarakat.

Sekertaris Hippermaku Komisariat Pakue Utara, Tyas Eka Saputra

Namun masyarakat Kolut tak terlalu lama dinikmati secara gratis. Tiba-tiba jadi buah bibir masyarakat karena terbebani dengan biaya pembayaran cukup tinggi setiap kendaraan Roda 4 mapun Roda 2 yang lewat BayPas.

Protes Masyarakat dan Mahasiswa tidak di hiraukan bahkan dengan enteng jawaban Bupati bersama DPRD bahwa retribusi yang di bebankan pada masyarakat adalah retribusi pariwisata.

Pertanyaannya, apakah sejak awal perencanaan pembangunan Bypass sudah masuk perhitungan untuk Bisnis atau sudah satu paket perencanaan dengan kawasan Pariwisata yang akan di komersikan sebagai pendapatan daerah?

Jika tdk tercantum dalam perencanaan awal maka itu sebuah rekayasa dan pembohongan publik secara sistemis serta perbuatan melawan hukun karena memenuhi unsur penyalagunaan Kewenangan Kekuasaan.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa harus di Kelolah oleh perusahaan Daerah sementara masalah jalan adalah tugas pokok Dinas Perhubungan artinya tak terlalu rumit jika di percayakan pada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perhubungan atau Bidang Lalulintas Angkutan Darat.

Ada apa denga PERUSDA yang mengelola retribusi Bypass ?

Pertayaan selanjutnya apa yg menjadi dasar hukum PERUSDA mengelola Retribusi Jalan Bay pas dan berapa miliyar Investasi PERUSDA Terhadap pemangunan Bypass ?

Jika benar benar atas nama Perusda Yang mengelola retribusi jalan Baypas berapa konstribusinya setiap tahun terhadap PAD ?

Jika di lihat dari Rencana Awal pembangunan dan peruntukan penggunaan jalan Bypass untuk masyarakat tanpa pengenaan retribusi karena tak masuk dalam kategori jalan toll.

Maka dapat di pastikan bahwa itu mengandung unsur pungli maupun unsur/korupsi memperkaya orang lain. Sudah seharusnya aktifis Mahasiswa Hippermaku bekerja sama dengan lembaga Pencegahan Korupsi dan masyarakat melakukan investigasi mendalam lalu mengkoordinasikan dan melaporkan ke Instansi terkait yaitu BPK , dan KPK. serta Kejaksaan Agung RI.

Opini: Tyas Eka Saputra

Editorial Tabloid Fajar Pendidikan Edisi 304: Hari Guru, Tingkatkan Kualitas

0

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November. Jika seandainya ditanya tentang profesi apa yang paling membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan ketulusan? Tentu pembaca sepakat, salah satunya adalah profesi guru.

Guru ibarat jembatan yang bisa menghubungkan seseorang dengan cita-citanya kelak. Di papan tulisnya terdapat lukisan harapan anak bangsa. Di ruang kelasnya, ada wajah masa depan Indonesia. Gurulah kelompok paling awal yang tahu potret masa depan bangsa Indonesia.

Pada zaman teknologi belum secanggih saat ini, guru mendidik/mengajar siswa untuk mengetahui pelajaran yang diberikan guru, seperti belajar membaca dengan metode mengeja, berhitung dan belajar matematika menggunakan alat bantu, seperti kayu stik, lidi, dan media lainnya. Kala itu, para siswa dengan senang hati menerima setiap pembelajaran yang diberikan oleh guru karena bagi mereka, hanya gurulah orang yang dapat memberi pengetahun yang tidak mereka dapatkan di rumah.

Sangat jauh berbeda dengan model pembelajaran saat ini yang ditopang dengan segala kecanggihan teknologi. Pengetahuan yang didapat para siswa pun tidak hanya datang dari guru di sekolah saja, tetapi juga bisa mereka dapat dari internet.

Sehingga pada pelaksanaan belajar mengajar seolah ada pergeseran peran guru dalam mendidik siswanya. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda antara guru terdahulu dengan guru sekarang.

Peringatan Hari Guru Nasional harus menjadi momentum perubahan bagi peningkatan kualitas guru dan organisasi profesi guru di Indonesia. Ini momentum penting bagi pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan perubahan besar-besaran menata ulang tata kelola kualitas guru Indonesia. Tingkatkan mutu dan profesionalitas guru.

Sudah waktunya guru harus memiliki daya saing regional dan global. Saat inilah momentumnya bagi pemerintah dan kita semua untuk fokus memperjuangkan peningkatan kompetensi guru.

Pendidikan bermutu hanya bisa dilakukan oleh guru-guru berkualitas. Selamat Hari Guru!

Salam,

Redaksi

Sejarah Waktu, Hari dan Tanggal

0

Bicara soal waktu, tidak jauh-jauh dari jam, hari, bulan dan tahun. Namun apa kamu tahu kenapa dalam satu jam ada 60 menit? 1 hari ada 24 jam? Satu minggu ada 7 hari ? Dan satu bulan ada yang jumlah harinya 28,29, 30 atau 31? Sejarah Waktu hari dan tanggal

Nah, ternyata pewaktuan juga punya perjalanan sejarah yang amat panjang, lho. Penentuan waktu adalah hasil asimilasi pengaruh berbagai bangsa dan zaman. Bukan di zaman saat ini saja yang merasakan betapa besarnya arti waktu. Manusia zaman dulu membutukan patokan waktu dalam memulai pertanian atau aktifitas kehidupan. Sekarang, waktu menjadi patokan kehidupan sehari- hari. Jadwal sekolah, kerja, libur, semuanya berdasarkan waktu.

Awal mula manusia mengenal waktu konon berawal dari penggunaan stone hange di desa Wiltshire, Inggris yang telah ada sejak 5000 tahun lalu. Para ahli sejarah memperkirakan batu yang disusun pertikal itu menjadi patokan menentukan waktu di zaman itu.

Namun, untuk pembagian hari dalam 24 jam, awalnya berasal dari Bangsa Mesir kuno. Masyarakat Mesir kuno menentukan jumlah jam berdasarkan penampakan 12 bintang pada malam hari.

Bagi mereka, bila bintang tertentu memperlihatkan diri, maka mereka mengangap bahwa satu jam telah berlalu. Walau pun di siang hari bintang-bintang tidak terlihat, namun orang-orang Mesir kuno sepakat membagi siang hari tetap menjadi 12 bagian. Karena itu, jumlah jam dalam satu hari ada 24. Sejarah Waktu hari dan tanggal.

Nah, untuk pembagian waktu dalam satu jam menjadi 60 menit konon dipengarugi oleh kebesaran peradaban tinggi bangsa Babilonia. Mereka memperhitungkan angka selalu dalam 60. Karena itu, bilangan 60 digunakan untuk menyatakan jumlah waktu, seperti sejam 60 menit, semenit 60 detik. Sistem perhitingan seperti ini juga dikenal dengan sexagesimal.

Alasan lain karena angka ini termasuk bilangan terkecil yang bisa dibagi oleh enam. Angka pertama yaitu: 1,2,3,4,5,6. Jadi dengan mudah kita bisa terbayang: 1/2 jam=30 menit, 1/3 jam = 20 menit, 1/4 jam = 15 menit. Bayangkan kalau satu jam = 100 menit, berarti 1/3 jam = 33,333 menit. 60 adalah bilangan yang angka pembaginya banyak, yaitu 1,2,3,4,5,6,10,12,15,20,30,60.

Pembagian Satu Minggu dalam 7 Hari

Ada suatu waktu dalam sejarah awal manusia ketika hari-hari tidak diberi nama. Alasannya sangat sederhana. Manusia tidak menemukan minggu. Pada waktu itu, satu-satunya pembagian waktu adalah bulan, dan ada terlalu banyak hari dalam satu bulan untuk diberi nama sendiri-sendiri. Tetapi ketika manusia mulai membangun kota-kota, mereka ingin mempunyai hari istimewa untuk berdagang, suatu hari pasar.

Kadang hari pasar ini ditetapkan setiap hari kesepuluh, terkadang setiap hari ketujuh atau setiap hari kelima. Nah, orang-orang Babilonia memutuskan hari pasar harus jatuh pada hari ketujuh. Pada hari ini mereka tidak bekerja, tetapi bertemu untuk berdagang dan mengadakan upacara-upacara keagamaan.

Bangsa Yahudi mengikuti contoh mereka, tetapi mengkhususkan hari ketujuh untuk keperluaan keagamaan. Dengan demikian hari minggu pun muncul. Hari itu adalah hari antara hari-hari pasar.

Bangsa Yahudi memberi nama untuk masing-masing hari dari ketujuh hari itu, beracuan pada hari Sabat yang berarti dia berenti (hari Sabtu). Misalnya, hari Rabu dinamakan hari keempat (empat hari setelah hari Sabtu).

Ketika Bangsa Mesir menggunakan minggu yang terdiri dari tujuh hari. Mereka kemudian menamakan hari-hari itu menurut nama kelima planet, matahari dan bulan. Bangsa Romawi juga menggunakan nama-nama Mesir untuk hari-hari mereka dalam seminggu: hari Matahari, hari Bulan, hari planet Mars, hari planet Merkurius, hari planet Yupiter, hari planet Venus, dan hari planet Saturnus.

Namun, nama-nama hari yang digunakan saat ini bukanlah berasal dari penamaan Bangsa Romawi melainkan Bangas Anglo Saxon. Mereka menamai sebagian besar hari menurut nama dewa-dewa, kurang lebih sama dengan dewa Bangsa Romawi. Seperti hari matahari menjadi ‘Sunnandaeg’, atau Sunday (Minggu), Hari Bulan dinamakan ‘Monandaeg’, atau Monday (Senin),

Hari Mars menjadi hari Tiw, yaitu dewa perang mereka. Ini menjadi ‘Tiwesdaeg’, atau Tuesday (Selasa), Bukannya nama Merkurius, nama Dewa Woden diberikan menjadi Wednesday (Rabu), Hari Romawi Yupiter, dewa guntur, menjadi hari guntur Dewa Thor, dan ini menjadi Thursday (Kamis), Hari berikutnya dinamakan Frigg, istri Dewa Odin, dan oleh karena itu kita mempunyai Friday (Jumat), Hari Saturnus menjadi ‘Saeterbsdaeg’, terjemahan dari bahasa Romawi, dan kemudian menjadi Saturday (Sabtu).

Di Indonesia sendiri, selain nama minggu dan sabtu, senin sampai jumat berasal dari bahasa arab. Kata Senin dari Isnain berarti dua, kata Se- lasa berarti tsalasah yang artinya tiga, kata Rabu berarti ar rab’ah artinya empat, kata Kamis atau khamis berarti lima dan kata Jumat diambil dari Jumu’ah yang berarti ramai.

Sedangkan Minggu, dalam bahasa Melayu lama, kata ini dieja sebagai Dominggu. Baru sekitar akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20, kata ini dieja sebagai Minggu. Sedang Sabtu konon diambil dari bahasa Ibrani, sabbat yang berarti “dia berhenti”.

Satu hari, biasanya dihitung sebagai jarak antara terbitnya matahari dan terbenamnya matahari. Banga- sa Romawi menghitungnya dari tengah malam sampai tengah malam, dan kebanyakan bangsa-bangsa modern menggunakan metode ini.

Demikian  Sejarah Waktu hari dan tanggal yang perlu kamu ketahui.

Mahasiswa IAIN Bone Demo Soal Student Mobility Program, Ini Kata Warek

Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Aksi demo kembali dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Dewan Mahasiswa (Dema) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone di Kampus setempat di Jalan Hos Cokroaminoto, Watampone, Selasa (04/12/2018).

Aksi kali ini digelar menuntut transparansi Plt Wakil Rektor (Warek) III yang dinilai bertindak tertutup terkait kegiatan program Stundent Mobility Program (SMP) di Thailand, Singapura, dan Malaysia.

“Kami meminta klarifikasi kenapa kami dari Dema tidak diikutkan, padahal jelas-jelas dalam surat di undangan kepada Ketua Dema dan dan Plt warek III IAIN Bone, namun kenyataan yang terlihat justru hanya istrinya disana,” kata Ketua Dema, Canwan.

Plt Warek III IAIN Bone Drs Aminullah MPd yang dikonfirmasi mengatakan keikutsertaan istrinya dalam program SMP tersebut memakai anggaran pribadi dan atas seizin Kepala Seksi Kemahasiswaan Kementerian Agama Pusat. Dalam kegiatan SMP, disebutnya tak hanya dirinya yang mengikutsertakan istrinya dengan angaran pribadi. Sejumlah Warek dari kampus lainnya juga demikian.

“Ketua DEMA tidak diikutkan karena tidak memenuhi syarat (soal kode etik). Oleh karena ketua tidak bisa diberangkatkan, maka saya ganti dengan Wawan (Ketua 1 DEMA) setelah seizin kasi kemahasiswaan Kemenag pusat dan diizinkan. Tiga hari sebelum berangkat oleh pengurus dema mendesak untuk membatalkan keberangkatan Wawan, padahal sudah terdaftar dan di SK kan oleh Kasi Kemahasiswaan,” kata Aminullah kepada FAJAR PENDIDKAN, Selasa (4/12).

Reporter: Abustan

Unhas-AIC Gelar Simposium Internasional tentang Orang Makassar dan Aborigin

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Universitas Hasanuddin (Unhas) bekerja sama dengan The Australia-Indonesia Centre (AIC) dan Rumahta Artspace menyelenggarakan International Symposium Makassar-Nothern Australia: An Enduring Relationship di ruang Senat lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin, 3 Desember 2018.

Simposium ini mengeksplorasi hubungan sejarah antara nelayan Makassar dan kelompok Yolŋ yang berada di wilayah Australia Utara. Kelompok suku Yolŋ adalah salah satu kelompok etnis Aborigin,  penduduk asli Australia. Pelayar suku Makassar dan kelompok orang Yolŋ dipercaya telah memiliki hubungan dan kontak pada tahun 1700-an. Sehingga, melalui simposium ini hubungan dan interaksi kedua etnis tersebut ingin dibangun kembali melalui program pertukaran seni dan budaya, yaitu Makassar-Yirkalla Artist Exchange Program.

Program pertukaran seniman ini disponsori oleh AIC, difasilitasi oleh Rumahta Artspace dan University of Melbourne. Dalam program tersebut Australia mengirim tiga seniman Yolŋ ke Makassar, yakni Dio Marimunuk Gurruwiwi, Barayuwa Munuŋggurr, dan Arian Pearson. Ketiga seniman Yirrkala, Australia Utara ini dihadirkan untuk bertemu dan berdiskusi tentang hubungan orang Aborigin dan Makassar. Dalam kesempatan ini pula, komunitas seni dan budaya Rumahta menghadirkan tiga seniman asal Makassar, yaitu  Adi Gunawan, Muhammad Rais, dan Nurabdiansyah.

Foto bersama setelah  International Symposium Makassar-Nothern Australia: An Enduring Relationship selesai digelar di ruang Senat lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin, 3 Desember 2018.[Foto:/Ist]
Foto bersama setelah International Symposium Makassar-Nothern Australia: An Enduring Relationship selesai digelar di ruang Senat lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Senin, 3 Desember 2018.[Foto:/Ist]
Kegiatan simposium internasional ini dihadiri oleh Rektor Unhas, Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu MA; Ketua Australia-Indonesia Centre, Harold Mitchell AC dan Konjen Australia di Makassar, Richard Mathews. Selain itu, hadir pula pembicara asing dan lokal yakni,  Head Wilin Centre; Victorian College of The Arts; University of Melbourne; Associate Professor Richard  Frankland; Associate Director Victorian College of The Arts; University of Melbourne, Dr Danny Butt, serta Direktur Rumahta Artspace,  Dr Lily Yulianti Farid dan dosen UNM, Dr Halilintar Lathief, MPd.

Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu menyambut baik acara simposium tersebut. Ia mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan menuntut untuk lebih sadar dalam mengkaji dan memecahkan masalah global. “Kita harus berkolaborasi satu sama lain dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, tak terkecuali dalam pertemuan ilmiah ini,” kata Dwia.

Prof Dwia berharap, simposiun ini menjadi momen bertukar gagasan, pengalaman, dan hasil riset. “Indonesia dan Australia adalah dua negara bertetangga. Keduanya juga berada di kawasan Asia Pasifik. Indonesia dan Australia juga punya hubungan sejarah, dimana Suku Bugis-Makassar dan Aborigin telah menjalin kontak. Saya percaya, hal ini dapat mempererat hubungan keduanya,” terangnya.

Ketua AIC Harold Mitchell AC menyatakan terima kasihnya kepada berbargai mitra yang telah menyukseskan acara ini. Ia mengatakan, masih terkesan dengan pernyataan Presiden Prancis, Jacques Chirac, 20 tahun lalu, yang mengatakan orang Aborigin adalah manusia pertama di dunia.  “Karenanya saya merasa terhormat berada di Makassar untuk membahas persaudaraan orang Aborigin dan masyarakat Makassar,” kata Mitchell.

Dalam kegiatan ilmiah ini dua pembicara dari Universitas Melbourne mengulas tentang keberadaan masyarakat Aborigin di Australia pada masa lampau, kini, dan akan datang untuk mengenalkan pada peserta yang hadir tentang kondisi dan eksistensi penduduk asli Australia tersebut. Sementara itu, pembicara lokal yang diwakili Lili Yulianti Farid dan Halilintar Lathief membahas tentang kondisi dan perkembangan seni dan budaya Makassar, serta berbagai inisiatif dan program yang dilakukan untuk menguatkan keberdadaan identitas seni dan budaya Makassar.(Rls)

Bermain Sambil Belajar Bersama Kohati Korkom Unibos

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Dalam rangka memperingati Hari Anak International Korps HMI Wati Koordinator Komisariat Universitas Bosowa (Kohati Korkom Unibos) mengadakan bakti sosial bersama anak anak di Taman Kanak-Kanak Cakrawala.

Mengusung tema “Humanity For Children”, kegiatan yangberlangsung seru dan menarik perhatian anak-anak tersebut mendapat apresiasi dai pihak TK.

Suasana Baksos di TK Cakrawala

Mengedukasi anak-anak yang bersekolah di TK Cakrawala dengan metode bermain bersama dan mengikuti games yang dapat melatih kefokusan mereka serta menggali rasa tanggungjawab anak-anak melalui apa yang mereka dapatkan.

Adapun games yang di ikuti oleh anak-anak di TK Cakrawala yaitu berebut kursi, lalu anak di minta untuk mengelilingi kursi selama musik terputar, apabila musik berhenti, anak tersebut harus berlomba duduk dikursi yang jumlahnya kurang dari jumlah peserta games hingga jumlah kursi hanya satu. setelah itu masuk pada pembagian hadiah sambil makan snack dan penyerahan piagam sekaligus foto bersama.

“TK Cakrawala merupakan salah satu sekolah dari Yayasan sekolah Rakyat Cakrawala dimana khusus TK Cakrawala di prioritaskan untuk anak jalanan dan anak yang kurang mampu dari segi finasial dan anak di sekitar lingkungan sekolah yang ingin belajar,” ujar Kepala Sekolah TK Cakrawala, Muchniar

“kondisi Taman Kanak Kanak Cakrawala terbilang sederhana, namun kami dari Kohati Unibos sangat mengapresiasi semangat anak-anak di TK Cakrawala,” tutur Kotua Kohati Korkom Unibos, Yaumi.(Rls)

Perpustakaan UIN Alauddin Raih Akreditasi A

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Perpustakaan UIN Alauddin Makassar telah menerima hasil penilaian visitasi sertifikat dengan label nilai “A” dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Kepala Pusat Perpustakaan UIN Alauddin, Quraisy Mathar mengatakan, ada enam komponen yang dinilai oleh para asessor terkait akreditasi tersebut, diantaranya, komponen koleksi, sarana dan prasaranan, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan, serta komponen penguat.

“Pengalaman saat menjabat sebagai Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora-UIN Alauddin, dan mengantar jurusan tersebut meraih peringkat akreditasi dari nilai “C” menjadi “B”, sudah cukup menjadi pijakan awal buat saya dalam memimpin UPT Perpustakaan UIN Alauddin,” terang Quraisy.

Ia menuturkan, pengalaman dengan borang akreditasi program studi di fakultas memberi sebuah pelajaran berharga bagi dirinya, khususnya dalam urusan visitasi dan akreditasi.

“Setelah sempat menjadi pendamping tim penyusun borang akreditasi, serta ikut mendampingi saat sesi visitasi di UPT Perpustakaan IAIN Parepare, yang awalnya belum terakreditasi hingga memperoleh nilai akreditasi “B”, saya kemudian fokus untuk menuntaskan pekerjaan rumah terakhir saya di UPT Perpustakaan UIN Alauddin,” lanjutnya.

Sejatinya, borang akreditasi perpustakaan sebetulnya sudah dirintis sejak awal Quraisy berkantor. Pertama kali memasuki ruangan kerja sebagai Kepala Pusat UPT Perpustakaan, ia langsung mencari sertifikat akreditasi perpustakaan. Seorang staf kemudian menyetor sertifikat akreditasi berbingkai dengan label “B”.

“Saya kemudian mencoba menelusuri borang akreditasi yang seharusnya ikut mendampingi sertifikat tersebut. Namun borang akreditasi yang lama tersebut ternyata tak kunjung ditemukan. Padahal borang sebelumnya tentu akan sangat membantu proses evaluasi untuk perbaikan nilai akreditasi selanjutnya,” ungkapnya.

Ketersediaan hasil penilaian visitasi terdahulu sebetulnya merupakan dasar untuk memulai kegiatan persiapan re-akreditasi selanjutnya. Akhirnya, ia harus memulai pengerjaan borang dari awal kembali. Quraisy menceritakan bahwa dirinya kembali mengintip enam komponen borang akreditasi perpustakaan perguruan tinggi dan mulai menyusun rencana kerja yang berorientasi kepada enam komponen tersebut.

“Tentu sangat-sangat tak mudah, sebab keberpihakan alokasi anggaran maupun kebijakan lembaga pendidikan tinggi secara umum di Indonesia terhadap perpustakaan sebetulnya masih sangat mengenaskan. Terlalu jauh memang untuk membandingkan alokasi anggaran seluruh perpustakaan perguruan tinggi di Amerika yang oleh pemerintahnya ditetapkan sebanyak 52 persen dari total anggaran perguruan tinggi per tahun,” bebernya.

Namun, lanjutnya, alokasi anggaran maksimal 5 persen sesuai yang dipersyaratkan oleh Standar Nasional Perpustakaan pun ternyata juga masih tidak terpenuhi. Perpustakaan tetap dijadikan simbol semata, disebut sebagai jantung perguruan tinggi, namun hanya sebagai jantung koroner yang bisa dicangkok dan disulap setiap saat.

“Selesai sudah tugas terakhir saya, walaupun rutinitasku tentu belum berakhir. Kutitip sertifikat terbaru perpustakaan untuk dire-akreditasi kembali pada tahun 2023 nanti. Kini saya mulai mengintip ISO 11620:2008 sebagai ukuran kinerja perpustakaan dalam standar internasional,” sambungnya.

Ia berharap, tahun depan ISO tersebut bisa terealisasi, meski dirinya mengaku hitungan waktu jabatannya sepertinya tak akan cukup. Jika pun nantinya tak selesai, katanya, setidaknya upaya tersebut akan menjadi pijakan instrumen awal buat pejabat pengganti dirinya.

“Ada kawan yang berkata “oppo maki, menjabatlah kembali”. Maaf, tidak ada selera incumbent dalam kamus hidup saya, sebab usia jabatan menurutku sejatinya hanya sekali saja. Berbuatlah, lalu beregenerasilah dengan cepat, sebab sekecil apapun sebuah perubahan, pasti akan bermakna. Akhirnya, saya bisa pulang ke rumah dengan langkah yang lebih enteng, Alhamdulillah,” tutupnya.(Rls)

Perubahan dan Pengembangan Organisasi RSUD Antar Asisten III Setda Bone Raih Doktor di UNM

Bone, FAJARPENDIDIKAN.co.id– Ujian Promosi Doktor, Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Bone, Dr Asriady Sulaiman SIP MSi berlangsung di Universitas Negeri Makassar (UNM), Senin (3/12/2018).

Nampak hadir Bupati Kabupaten Bone, Dr Andi Fahsar Mahdin Padjalangi MSi mendampingi asistennya tersebut. Selain itu hadir pula, Sekda Kabupaten Bone, Direktur Pascasarjana UNM, Promotor dan Ko-Promotor serta para Penguji Promosi Doktor bidang Ilmu Administrasi Publik Pascasarjana UNM.

Gelar dalam bidang ilmu administrasi publik tersebut diraih usai mengikuti sidang promosi doktor yang dipimpin oleh pimpinan Sidang Ujian Promosi yang juga Ketua Program Pascasarjana UNM, Prof Dr Hamsu Gani MPd.

Asriady Sulaiman mempertahankan disertasinya dihadapan para penguji.

“Judul disertasi saya ‘Perubahan dan Pengembangan Organisasi Rumah Sakit Umum Daerah Tenriawaru Kabupaten Bone”kata Asriady Sulaiman saat dihubungi FAJAR PENDIDIKAN, Senin (3/12) Sore.

Terkait hal tersebut, atas nama Civitas Akademika IAIN Bone, Prof Dr A Nuzul SH Mhum mengucapkan selamat dan sukses atas Promosi Doktor Asriady Sulaeman. “Semoga ilmunya berkah dan berkontribusi penuh dalam peningkatan SDM ASN Pemkab Bone khususnya dan pembangunan masyarakat pada umumnya,”tulis Rektor IAIN Bone itu.

Reporter: Abustan

Jasa Raharja Santuni Guru Honorer Korban Laka Lantas Meninggal Dunia

0

Bone, FajarPendidikan.co.id- PT Jasa Raharja Perwakilan Watampone wilayah kerja Bosowasi membayarkan santunan korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas) meninggal dunia, Senin 3 Desember 2018.

Korban laka lantas tersebut atas nama Safitri (22) bin Suardi Maddi, seorang Guru Honorer, yang beralamat di Jl Salak kelurahan Macege Kecamatan Tanete Riattang Barat, Bone.

Safitri mengalami laka lantas di Jl MT Haryono Watampone pada Jumat 30 November 2018 sekira pukul 09.30 Wita. Kronologis singkat kejadian, korban mengendarai sepeda motor DD-6224-EG bertabrakan dengan Mobil Truck T-Plat. Korban saat itu dilarikan ke RSUD Tenriawaru Watampone untuk dirawat, namun ajal menjemputnya.

“Santunan diterima oleh ahli warisnya, yakni Bapak kandung korban atas nama Suardi Maddi. Hari ini (proses transfer) ke rekening yang bersangkutan,”kata Kepala Jasa Raharja Perwakilan Watampone, Alem Nofri Yoppi, kepada FAJAR PENDIDIKAN, Senin 3 Desember 2018.

Reporter: Abustan

Jasa Raharja Watampone Bayar Klaim Rp 13,9 Miliar

0

Bone, FajarPendidikan.co.id- PT Jasa Raharja (Persero) Perwakilan Watampone telah membayar klaim atau santunan kepada para korban kecelakaan lalu lintas sebesar Rp 13. 926. 494. 097. Santunan tersebut dari data rekapitulasi pembayaran klaim Jasa Raharja Perwakilan Watampone Se-Bosowasi priode tanggal 1 sampai dengan 30 November 2018.

“Pembayaran klaim Rp 13 Milyar lebih itu untuk korban meninggal dunia, luka-luka, cacat tetap, penguburan, ambulans dan biaya P3K”kata Kepala PT Jasa Raharja Perwakilan Watampone Alem Nofri Yoppi kepada FAJAR PENDIDIKAN, Senin (3/12/2018).

Lebih lanjut Alem merincikan, korban meninggal dunia yang disantuni pada priode tanggal 1 sampai dengan 30 November 2018 sebanyak 191 orang. Sedangkan korban luka-luka sebanyak 605 orang. Selebihnya, santunan cacat tetap, penguburan, ambulans dan P3K.

Data hingga September 2018, korban kecelakaan lalu lintas didominasi oleh kelompok usia 15 – 19 tahun dengan total 115 korban. Menyusul kelompok usia 20-24 tahun dan usia 10-14 tahun, masing-masing dengan total korban sebanyak 65 dan 50 korban.

“Data Januari hingga September 2018, kecelakaan tertinggi dialami kelompok usia produktif. Itu kalangan usia pelajar,”kata Alem

Diakui Alem, nominal rupiah santunan tahun 2018 mengalami kenaikan dibanding tahun 2017. Mengalami kenaikan sekitar 20 persen. Meski demikian, angka korban meninggal dunia mengalami penurunan.

“Nominalnya bertambah karena ada korban kecelakaan kapal. Semua dibayarkan sesuai aturan. Setiap terjadi kecelakaan lalu lintas, bila sesuai dengan persyaratan, klaim bisa diterima korban kecelakaan lalu lintas,”jelasnya.

“Pihak Jasa Raharja bersama pihak terkait terus melakukan upaya untuk menekan angka korban laka lantas,”tambahnya.

Reporter: Abustan