Beranda blog Halaman 3397

Lantik 22 Pejabat, Rektor UNM Harap Tunjukkan Professionalisme

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Husain Syam kembali melantik 22 pejabat baru struktural dalam lingkup UNM, di gedung Phinisi Jl AP Pettarani, Senin (5/11/2018).

Pelantikan merupakan hal biasa dalam sebuah organisasi kata Prof Husain. Tujuannya untuk memaksimalkan profesionalisme kerja keorganisasian, sehingga diperlukan penyegaran dalam reposisi kepengurusan.

Sementara pengangkatan pejabat didasarkan pada hasil evaluasi yang dilakukan sebelumnya.

“Ini adalah proses yang biasa saja karena dalam organisasi harus selalu terjadi pergantian sebagai penanda organisasi tersebut adalah organisasi yang sehat. Dan yang kedua hasil dari evaluasi kinerja. Ini supaya kami menempatkan posisi sesuai dengan kinerjanya,” ungkap Prof Husain.

Lebih lanjut, mantan Dekan Fakultas Teknik dua periode ini berharap pejabat yang baru dilantik mampu menunjukkan loyalitas dan profesionalisme kerjanya sehingga bisa membawa UNM menjadi kampus yang lebih baik lagi kedepannya, khusunya dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

“Perkembangan zaman sangat cepat. Pejabat yang dilantik hari ini semangat kerja yang telah ditujukan kepada teman-teman sebelumnya bisa diteruskan semangatnya, dan mampu menunjukkan pelayanan yang maksimal, sehingga kedepan UNM lebih baik dari hari ini, baik pimpinan fakultas yang telah sukses menjalankan programnya masing-masing,” tambah guru besar pertanian ini.

Husain berharap, pejabat yang baru dilantik ini bekerja keras dan cepat sehingga UNM melaju menjadi perguruan tinggi bertaraf Internasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Abdul Asman yang ikut dilantik menjadi dekan termuda lingkup UNM saat ini. Abdul Asman menggantikan Dr Abdullah yang masa jabatannya telah usai.

Usai pelantikan, pria kelahiran Bone ini akan bekerja keras bersama civitas akademika khususnya di FIP agar mampu bersaing dalam industri 4.0.

“Kedepan kita inginkan, civitas akademika didorong untuk membiasakan diri dan bersiap untuk menghadapi persaingan di era industri yang semuanya sudah dalam sistem digitalisasi,” tandasnya

Reporter : Ahadri

Editorial Tabloid Fajar Pendidikan Edisi 302 (1-15 November 2018): Sumpah Pemuda dan Generasi Z

0

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Pemuda memainkan peran penting dan menjadi penggerak kebangkitan dalam sejarah bangsa ini. Contoh nyatanya adalah peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. 

Peristiwa lain yang menunjukkan betapa besar kekuatan pemuda adalah peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Soekarni, Wikana, serta Chairul Saleh memimpin para pemuda saat itu menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi Indonesia. Upaya ini berhasil. Esok harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Waktu pun berlalu, tetapi kekuatan itu masih sama ketika peristiwa 1998. Mahasiswa menuntut dihapuskannya KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Paling fenomenal adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR dan akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya, sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju Orde Reformasi.

Serangkaian aksi dan gerakan pemuda pada masa lalu tentunya didasari rasa cinta terhadap bangsa. Rasa patriotisme yang menggelora itu dibarengi pula oleh persatuan, kecerdasan intelektual, ketajaman berpikir, dan semangat pergerakan. 

Kini tahun berlalu, kondisi bangsa telah berubah. 90 tahun pasca Sumpah Pemuda, kondisi pemuda Indonesia pun berbeda. Menumbuhkan semangat patriotisme dalam diri generasi yang lahir dan tumbuh di lingkungan serba digital (generasi Z) saat ini, memang menjadi tantangan tersendiri.

Pemuda di era sekarang telah berada pada era mempertahankan keutuhan bangsa, di mana memiliki tugas yang juga berat. Pemuda saat ini dengan mudah terhubung ke seluruh dunia secara online. Mereka memiliki kesempatan luas untuk mendapatkan informasi dan cenderung ingin mencapai sesuatu dengan cepat dan instan karena terbiasa dengan kemudahan teknologi. 

Namun mereka adalah generasi yang kreatif. Kaum generasi Z tumbuh beriringan dengan hadirnya media sosial yang membuat mereka kecanduan untuk diperhatikan. Mereka akan sangat menghargai dan termotivasi jika diberikan kesempatan untuk berbicara, berekspresi, dan diakomodasi ide-idenya. 

Kaum generasi Z haus akan ilmu pengetahuan, pengembangan diri dan menyukai berbagi pengalaman. Karenanya, muncul istilah “pemuda tempo doeloe berjuang dengan bambu runcing vs pemuda sekarang berjuang dengan sosial media”. 

Salam,

Redaksi

Buat Poster SAHDU, Mahasiswa FKM Unhas Sabet Juara di Unair

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Dua mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional di Univeristas Airlangga, Surabaya. Dua mahasiswa tersebut adalah Nur Fitrah Amalia dan Annisa Aizani Umar yang berhasil menyabet juara dua di Lomba Desain Poster Publik pada acara Islamic Fair of Public Health (IfoPH). Lomba ini diselenggarakan oleh Departemen Agama Islam BEM FKM Unair, Sabtu, 4 November 2018.

Dengan mengusung tema minuman sehat, Fitrah dan Nisa membuat sebuah poster berjudul SAHDU (Susu, Jahe, Madu) yang merupakan minuman sehat yang sering dikonsumsi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tahap pertama seleksi naskah poster dari 36 tim dari seluruh Indonesia dan terpilih masuk 10 besar. Tahap kedua presentasi di hadapan dua juri yang merupakan dosen Unair, sebelum dinyatakan meraih juara dua.

Nur Fitrah Amalia mengaku tidak menyangka bisa menyabet juara dua di kompetisi tersebut, mengingat semua poster milik finalis lainnya juga sangat menarik. Menurutnya, itu semua berkat karunia Allah, kemudian kerja keras dan doa dari keluarga dan teman-teman.

“Saya sempat down saat melihat semua poster yang lolos sebagai finalis. Karena semuanya sangat menarik dan beberapa poster butuh keterampilan desain grafis yang tinggi. Tapi alhamdulillah, ini semua karena Allah kemudian bantuan yang diberikan oleh partner saya, Nisa, akhirnya kami bisa mendapat juara di lomba ini,” ujarnya.

Annisa Aizani Umar selaku pasangan dari Nur Fitrah Amalia juga menambahkan bahwa prestasi yang diperoleh ini tidak lepas dari doa dari orang tua mereka, dukungan dan bimbingan dari dosen pendamping yaitu Muhammad Rachmat, S.KM, M.Kes. Pendamping merupakan dosen di Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP) FKM Unhas sangat membantu dalam mengoreksi mulai dari desain hingga persiapan presentasi di Unair.
Terakhir, Fitrah dan Annisa berharap semoga bisa lebih mengasah kemampuannya di bidang desain grafis dan lebih sering mengikuti lomba-lomba lainnya. Semoga dengan prestasi ini bisa memotivasi teman-teman lain di FKM Unhas untuk terus berprestasi di tingkat nasional dan internasional, serta berani untuk berkarya sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas, Prof. Sukri Palutturi, PhD menyampaikan selamat kepada mahasiswa-mahasiswa yang terus mencatat prestasi pada berbagai even nasional. Ini juga tidak terlepas dari dukungan pimpinan fakultas.(*)

 

Arti Sumpah Pemuda Sebagai Pengabdian

0

 

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Berbicara tentang pemuda mungkin sudah tidak asing lagi, terlebih jika melihat berbagai pergolakan hingga berdirinya Sumpah Pemuda yang oleh masyarakat Indonesia setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari bangkitnya pemuda-pemuda Indonesia dalam memperjuangkan dan membebaskan bangsa dari cengkraman penjajah.

Aktivis Ikatan Mahasiswa Darul Da’wah Wal_Irsyad Cabang Makassar, M. Ikbal Sihab mengatakan jika menyebut pemuda maka tidak terlepas dari kata pengabdian dan pergerakan.

“Ketika kita berbicara tentang pemuda,dari namanya saja sudah tidak asing lagi di pendengaran kita kenapa tidak kata pemuda itu sudah dari kecil mulai terdengan di telinga kita dan trus berkembang hingga kita menjadi remaja bahasa itu paling sering lagi terdengar dengan gerakanya hingga kita dewasa kita sudah bisa memaknai dan menjalankan sehari-hari sebagai pemuda yang memiliki pola pikir yang berkembang begitu pesat. Semua orang berlomba dan bekerja keras siang dan malam untuk mendapatkannya hingga terkadang ia lupa akan dirinya. Inilah jiwa pemuda. Jiwa yang penuh gelora dan semangat membara, hingga ketika seorang pemuda sudah tidak lagi punya semangat, harapan dan cita-cita dalam hidupnya maka sesungguhnya ia telah menua sebelum ia tua,” katanya.

Selain itu, tantangan dan hambatan kian hari makin menantang. Setiap hari pemuda kita disuguhi dengan berbagai keburukan dan masalah melalui media-media elektronik tanpa memberi solusi akan masalah yang sedang terjadi. Seolah bangsa ini tidak lagi punya harapan kedepan. Padahal begitu banyak prestasi membanggakan yang dipeoleh anak bangsa dan juga potensi bangsa ini yang belum tereksplorasi secara maksimal.

Begitu banyak ide-ide cemerlang yang diberikan oleh pemuda bangsa ini khususnya para mahasiswa. Mereka terus membangun bangsa lewat berbagai disiplin ilmu yang mereka kuasai dari pertanian, perikanan,Perpusatakaan, militer, hingga politik dan lain sebagainya. Satu hal yang selalu menjadi motivasinya karena mereka memiliki mimpi dan visi yang jauh kedepan.

Memang benar bermimpi, belum tentu menjadikan orang sukses, tapi yakinlah bahwa setiap orang yang sukses pasti punya mimpi-mimpi besar. Begtulah pepatah mengajarkan, “Bermimpilah setinggi langit, jikalau kau jatuh maka kau akan jatuh diantara bintang-bintang”.

Anregurutta KH.abdulrahman Ambo Dalle selaku pendiri Ormas Darud Da’wah Wal-Irsyad selalu mewanti-wanti kepada murid-muridnya untuk trus belajar dan mengikuti perkembangan dengan sebuah ketawadhuan sama seperti yang beliau lakukan dan mayoritas muridnya banyak yang mengikuti jejak beliau.Oleh karena itu jangan pernah menurunkan mimpi dan cita-cita tetapi perbesarlah usaha, daya dan kemampuanmu untuk meraih dan menikmatinya.

Begitulah yang terjadi di masa-masa yang terdahulu, bahwa pemudalah yang mampu melakukan perubahan besar terhadap bangsa, agama dan tanah airnya. Dalam agama, Anregurutta Ambo Dalle juga berkipra dalam dunia pendidikan,da’wah dan Usaha social juga memulai itu di umur yang sangat mudah, hingga saat reformasi pemerintahan Indonesia yang berperan dan memberikan andil besar yaitu para pemuda khususnya para santri almukarram.

Kondisi Politik Saat Ini Memerlukan Generasi Muda

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Bagi masyarakat Indonesia, kemerdekaan dan pemuda adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Indonesia meraih kemerdekaannya karena gerakan, pengaruh dan kerja keras pemuda saat itu. Hal yang paling membekas dibenak masyarakat Indonesia dari peran pemuda untuk kemerdakaan saat itu ialah aksi penculikan Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Dengan menghilangnya dua tokoh ini, Indonesia kemudian memproklamasikan kemerdekaannya, memang hal ini terjadi pada tahun 1945 tetapi peran pemuda dalam mengupayakan kemerdekaan juga telah dilakukan sebelum tahun 1945.

Dari berbagai aksi pemuda pada saat itu, maka dirumuskanlah Sumpah Pemuda untuk mengingat pentingnya kreatifitas pemuda. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tersebut dimotori oleh segelintir pemuda yang kreatif dan mampu memobilisasi para pemuda lainnya di zaman itu.

Berkaca dari kretifitas dan gerakan pemuda dahulu, sudah sepatutnya Hari Sumpah Pemuda ini menjadi momentum untuk mengembalikan semangat muda Indonesia, seperti pada 1928 silam. Hal ini tentunya dapat diupayakan karena melihat indonesia yang memiliki modal demografi, dimana jumlah orang dalam usia produktif lebih dominan, tapi kondisi ini tidak akan menghasilkan apa pun bila tidak cukup banyak orang-orang kreatif didalamnya.

Mantan Ketua Remaja Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa ( LKMD) Sulawesi Selatan, Ramzah Tabraman melihat pemuda saat ini merasa miris karena banyaknya pergeseran sikap hingga gerakan yang terjadi pada para pemuda, adanya pergeseran nilai-nilai kepemudaan yang jauh dari harapan bangsa,  nilai-nilai yang harusnya dimiliki pemuda Indonesia hampir sudah tidak nampak lagi juttru yang nampak adalah pemuda yang lekat dengan sebutan pemuda jaman now.

“Saya, secara pribasi melihat hampir secara mayoritas bukan secara umum semuanya pemuda mengalami pergeseran nilai-nilai kepemudaan yang jauh dari yang kita harapakan banyak nilai-nilai yang harusnya dimiliki sebagai pemuda indonesia itu sudah tidak nampak lagi, yang nampak adalah pemuda jaman now, pemuda jaman millenial. Dan jika dilihat pemuda jaman now itu kalau diterjemahkan kearah negatif banyak sekali sisi-sisi negatif yang bisa diterjemahkan. Artinya terlalu memiliki sifat kemandirian,  hilang lagi sifat gotong royong, hilang lagi idealisme perkembangannya, persahabatannya, kemudian luntur nilai-nilai kebangsaannya, coba saja kalau kita berjalan dan ketemu beberapa pemuda, 10 pemuda yang kita temui dan disuruh untuk menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia Raya  belum tentu ada tiga yang tau,” katanya pada FAJAR PENDIDIKAN. Rabu 31 Oktober 2018.

Dikatakannya, terjadinya pergeseran nilai-nilai kepemudaan pada pemuda saat ini tidak serta merta yang disalahkan adalah pemudanya tapi coba dilihat lagi, seperti apa lingkungannya, keluarganya karena faktor tersebut dapat menjadi salah satu penyebab juga. Disisi lain pemuda memang mengalami kemunduran karena banyaknya faktor tapi kelemahan-kelemahan yang terjadi saat ini kembali lagi seperti apa pembinaan karakter mereka.

“Sesungguhnya kalau terjadi perubahan ke arah yang positif tidak masalah tapi kalau kearah yang negatif itu yang menjadi masalah, kenapa banyak yang kita lihat pemuda-pemuda berkembang dan dinilai tidak seperti jaman dulu dan mengarah ke prilaku-prilaku negatif sesungguhnya kelemahan-kelemahan itu bermuara pada pembinaan karakter pemuda itu sendiri, artinya pembinaan yang dari rumah tangga, pembinaan lingkungan juga tanggung jawab pemerintah itu tidak saling bersinergi, kemudian dipengaruhi lagi oleh lingkungannya,”ucapnya.

Berkaca pada pengalamannya sebagai pemuda, laki-laki yang baru saja genap berusia 54 tahun ini melihat cukup banyak perbandingan antara pemuda di zamannya dan pemuda zaman sekarang. Jika pemuda terdahulu berjuang meraih kemerdekaan, dan perjuangan-perjuangan yang arahnya jelas berbeda dengan pemuda saat ini yang sebetulnya diharapkan untuk mengisi kemerdekaan dan melanjutkan tongkat estafet perjuangan pemuda dahulu.

“Nilai-nilai kebangsaan saat ini sangat luntur dibanding pemuda-pemuda yang dulu, yang berjuang meraih kemerdekaan. Perjuangan mereka jelas yaitu bagaimana mencapai Indonesia merdeka, sekarang pemuda yang ada sebetulnya kita harapkan bagaimana mereka mengisi kemerdekaan itu dengan tidak meninggalkan dasar yang sudah ditanamkan oleh pemuda jaman dulu artinya ada idealisme merebut kemerdekaan dari penjajah, kemudian rasa idealisme itu di isi dengan hal-hal  yang sangat penting, dan sekarang tertinggal, bahkan kalau perlu semuanya dianggap bersifat konsumtif. Tapi ini adalah sebuah tantangan untuk bagaimana mengevalusi diri bagi pemuda karena kecerdasan yang mereka miliki sudah tidak diragukan lagi, dimana pun mereka bisa belajar tidak seperti dulu ada keterbatasan mendapatkan pendidikan, dulukan pemuda2 dulu bisa menginjakkan bangku ke SN, SMP, SMA kalau dia adalah anak raja, sekarang tidak lagi, tidak ada lagi konflik seperti itu bahkan mereka bisa belajar dimana saja dengan gadgetnya cukup melihat internet maka meraka akan tau informasi apa saja,” tuturnya.

Seperti yang terjadi saat ini, gerakan pemuda  baik itu positif maupun negatif dengan muda terdeteksi oleh masyarkat karena kecanggihan teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang yang masuk dalam kategori pemuda. Atau hal lain yang datang dari kelompok pemuda pada moment politik yang saat ini juga tengah hangat dibicarakan, dimana sebagian besar kursi calon  lagislator banyak diisi oleh para kaum muda.

“Kaum muda yang berpolitik itu, kita lihat dulu dari sudut pandang mana, kalau kita meliohat dari sudut pandang secara umum sesungguhnya itu dapat dibedakan menjadi beberapa hal. Dan itu ada tiga poin, yang pertama adalah si kaum muda ini terjun ke dunia politik karena jiwanya memang ingin menjadi  bagian dari politik itu, yang kedua adalah dia dipaksa menjadi politik, dan yang ketiga ingin menjadikan area politik itu sebagai area pekerjaan. Apalagi saat ini pemuda datang dengan berbagai disiplin ilmu yang mereka miliki. Tetapi yang paling penting sebenarnya kondisi politik sekarang memang memerlukan generasi muda yang memiliki keilmuan yang luas seperti tadi yang saya katakan kalau pemuda yang terjun kedua politik betul-betul berpikir politik maka dasar yang ditanamkan oleh pemuda-pemuda dulu itu tidak boleh ditinggalkan tetap harus dimiliki, dasarnya ada dua melindugi nilai kebangsaan yang kuat sekali, memiliki nilai patriolisme yang kuat sekali kalau ini dipertahankan maka yakin dan percaya negara dan bangsa akan maju tapi kalau tidak dipertahankan ya saya ragu bahwa negara ini akan dijual kedepannya.,” tutupnya.

Penulis: Wulandari

Wujudkan Swasembada Pangan, Pemkab Barru Lakukan Ini

0

Barru, FajarPendidikan.co.id– Sekda Barru Ir. H. Nasrudddin AM M.Si membuka secara resmi Musyawarah Tudang Sipulung Musim Tanam (MT) 2018/2019 di Baruga Singkerru Adae, Jl. Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sumpang Binangae, Kecamatan Barru, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan pada hari Kamis 1 Oktober 2018.

Tampak hadir dalam tudang sipulung itu, Niko Demus Kandele Kepala BPSP Ir. Uvan Nurwahidah, MP, Kepala BPTH Muhlis, SP., MP, Sekretaris BPTPH Prov. Sulsel Abdul Muis, SP., M.Si Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Maros, Forkopimda, Pimpinan OPD, para Kepala Desa dan Lurah, Para penyuluh pertanian dan Ketua Gapoktan Se-Kab. Barru.

Pada penyampaiannya Kadis Pertanian Barru Ir. H. Aminullah Arsyad bahwa, kegiatan tersebut bertemakan,” Melalui musyawarah tudang sipulung kita wujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan untuk Barru yang lebih baik”,

Lebih lanjut H. Aminullah Arsyad bahwa Kegiatan yang diperakarsai Dinas Pertanian Kabupaten Barru yang di nahkodainya itu dilakukan dengan tujuan untuk menyamakan persepsi.

“Hal ini kita lakukan bertujuan untuk menyatukan pemahaman atau persepsi antara petani, pemerintah dan ahli pertanian, juga pallontara dalam rangka penetapan waktu turun sawah, hambur benih dan jadwal waktu tanam yang tepat serta kegiatan kita di sektor pertanian lainnya, untuk setiap musim tanam dalam rangka mendukung peningkatan produksi pertanian di Kabupaten Barru,” ucapnya.

Musim tanam 2018 dan musim tanam 2019, selain itu juga untuk mempertemukan rumusan-rumusan atau usulan-usulan dari bawah yang dapat lebih diperjelas dengan berbagai bahan, faktor yang dianalisis seperti cuaca, keadaan hujan”, jelas mantan Kadis Kehutanan Barru itu.

Kemudian Sekda Barru Ir. H. Nasruddin AM, M.Si dalam sambutannya mengemukakan bahwa musyawarah Mappalili adalah sarana penyatuan pendapat antara pemerintah dengan petani sekaligus menjadi ajang silaturahim, ajang ilmiah untuk membicarakan masalah pertanian secara komperhensif.

Lanjut Ir. H. Nasruddin juga berharap hasil musyawarah tudang sipulung ini dapat menghasilkan analisis ilmiah yang disenergikan dengan analisis perkiraan kearifan lokal pallontara dan pengalaman para petani.

“Mudah-mudahan apa yang di hajatkan pada hari ini menghasilkan satu rumusan keputusan untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan usaha tani yang akan datang”. Pungkasnya.

Penulis: Abd Latif Ahmad

Ciptakan Situasi Aman, Kapolsek Duduk Bersama Masyarakat

0

Wajo, FajarPendidikan.co.id– Kompol Husain Kapolsek pitumpanua bersilaturahmi Duduk Bersama dengan tokoh agama untuk bekerjasama menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif menjelang Pileg 2019 dan Pemilihan president dan Wakil Presiden, dengan adanya kerjasama dengan tokoh agama di harapkan bisa membantu Polri dalam membangun kemitraan masyarakat dengan Polri. Kapolsek juga menghimbau kepada tokoh agama agar tidak terprofokator dengan isu atau bergesekan dengan dengan pendukung lain yang berbeda kelompok.

Silahturahmi Dan Duduk Bersama untuk menciptakan rasa aman , damai sejuk tersebut, dihadiri para Camat, Danramil dan tokoh masyarkat dan tokoh lintas Agama,serta Kepala Desa sekecamatan Pitumpanua dikantor Polisi sektor (Polsek)

Ada pun maksud Kapolsek Pitumpanua bersama melaksanakan silaturahmi dengan Tokoh Agama Dan tokoh masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi agar masyarakat semakin percaya kepada Polri Dan TNI dalam bentuk kamtibmas dikabupaten wajo dan khususnya masuk di wilkum Polsek pitumpanua.

Selain mempererat silaturahmi Kapolsek pitumpanua juga mengajak untuk bersama sama menolak faham radikalisme dan meminta untuk melaporkan kepada Polisi

“Apa bila ada orang yang di curigai mengikuti aliran sesat radikalisme untuk menjaga keamanan dan ketertiban juga agar selalu memberikan penjelasan tentang bahaya Faham Radikalisme demi menjaga keutuhan dan kebinekaan NKRI.“Ucap Kompol Husai.

Penulis: Lutfi Baso

Kader LKIM-PENA Unismuh Sabet Juara II Ajang Agroteknologi Kingdom

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Kader Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Kreativitas Ilmiah Mahasiswa Penelitian dan Penalaran (LKIM-PENA) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar sukses memboyong juara II dan kategori Best Presentation pada ajang Agroteknologi Kingdom yang diselenggarakan pada tanggal 1-3 November 2018 di Gedung Mandala Universitas Siliwangi.

Agroteknologi Kingdom merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Agroteknologi (HIMAGRO) Universitas Siliwangi yang bertujuan untuk menyadarkan peran generasi muda dalam upaya mencapai kedaulatan pangan dan menciptakan inovasi-inovasi di bidang pertanian berlandaskan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain itu, demi tercapainya kedaulatan dan kesejahhteraan pangan, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengaruh terhadap produktivitas pertanian Indonesia ke depannya.

Kegiatan yang mengusung tema “Peran Generasi Muda dalam Inovasi Teknologi PertanianBerkelanjutan Menuju Efisiensi Produktivitas dan Meningkatkan Kualitas demi Tercapainya Kedaulatan Pangan Nasiona” ini dirangkaikan dengan kegiatan Seminar Nasional, Agrofest, dan Dies Natalis.

Fatahullah, mahasiswa Agribisnis, Fakultas Pertanian Unismuh yang juga merupakan kader LKIM-PENA Unismuh sukses membawakan presentasi yang memukau di hadapan dewan juri.

“Event ini luar biasa karena selain sesuai dengan basic yang saya miliki, event ini juga merangkaikan kegiatan yang menuntut kita berpikir mengenai pengembangan pertanian di Indonesia. Dan alhamdulillah berkat dukungan teman-teman dan kakanda, pada event ini saya diberi kesempatan untuk meraih juara II dan Best Presentation. Untuk teman-teman, semoga teman-teman tidak putus semangat dalam berkarya dan pantang menyerah sebelum mencoba,” ujar Fatah melalui pesan WhatsApp. (FP)

Benarkah, Keuangan dan Kualitas Layanan Jadi Masalah pada Kesehatan

Makassar, FAJARPENDIDIKAN.co.id – Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) adalah amanah undang-undang. Hal ini pun tersurat jelas dan perintah konstitusi, UUD 1945.

“Itu memang kebutuhan bangsa Indonesia. Rakyat harus terjamin kesehatannya. Tak boleh ada pihak yang mengganggu, apalagi menghambatnya. Jika ada yang kurang baik dalam pelaksanaannya maka harus diperbaiki. Itu tanggung jawab semua pihak, tak hanya menteri dan BPJS Kesehatan selaku operatornya,” ungkap Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam.

Dikatakannya, DJSN juga jangan hanya sibuk cari-cari kekurangan BPJS Kesehatan. “Jalankan tugas pokoknya dulu, kita rakyat belum mendengar apa yang dilakukan DJSN sekarang ini,” beber Dr Aminuddin Syam di depan peserta Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Unhas tentang BPJS di Tahun Politik. Sabtu, 3 November 2018.

“Yang kita tahu cuma sibuk mengkritisi BPJS Kesehatan, apalagi dengan fakta yang tak akurat,” tegasnya.

Jika kita cermati secara objektif,  sambungnya, masalah utama saat ini adalah soal keuangan dan kualitas layanan. “Karena itu, yang dibutuhkan adalah selesaikan masalah keuangan ini. Kita tahu bahwa masalah keuangan ini akibat besaran iuran yang lebih kecil dari nilai aktuaria,” tegasnya.

“Ya, tentu saja keuangan BPJS Kesehatan menjadi tekor. Jadi sudah menjadi tugas pemerintah untuk menutup kekurangan uang tersebut. Sedangkan ihwal kualitas layanan faktornya banyak sekali. Ada regulasi yang masih belum clear dan solid, ada faskes yang tak profesional dalam melayani pasien, ada keluhan terhadap besaran nilai paket yang tercantum dalam INA CBG’s, dan lain-lain. Karena itu semua harus duduk bersama. Jangan saling tuding dan saling menyalahkan,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan para pihak harus menyadari bahwa setiap hari ada hampir 700 ribu pelayanan yang menggunakan fasilitas JKN-KIS ini.

“Pasti di lapangan ada saja masalah. Satu saja bermasalah pasti bisa bikin gaduh. Ini karena menyangkut isu sensitif, yakni orang yang sedang sakit dan menderita. Jika di atasnya ribut terus maka di bawah bisa timbul distrust. Ini sangat berbahaya. Bisa eskalatif. Dampaknya bisa ke mana-mana. Yang paling bahaya justru mengancam kelangsungan program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat ini. Secara umum program ini disukai masyarakat, karena ini kebutuhan riil mereka,” terangnya.

Selain itu, kini sudah mendesak menerapkan pengalokasian anggaran khusus bidang promotif-preventif untuk mencegah dan menekan jumlah orang sakit.

“Khusus soal DJSN, sudah saatnya keanggotaan DJSN perlu ditinjau kembali,  mengingat fungsi dan perannya belum terlihat membantu menyelesaikan masalah yg dihadapi BPJS,” tutupnya. (FP)

 

Masa Depan BPJS di Tahun Politik

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menyelenggarakan Seminar Kesehatan Nasional dengan tema “Masa Depan BPJS di tahun Politik”.

Kegiatan berlangsung Sabtu, 3 November 2018, berlokasi di Auditorium Prof Amiruddin FK Unhas. Kegiatan ini dihadiri Dekan FKM UNHAS Dr. Aminuddin Syam, SKM.,M.Med.,Ed , Ketua Departemen AKK FKM UNHAS, Dr. H. Muh. Alwy, M.Kes, guru besar AKK FKM Unhas, Prof. Dr. Amran Razak, SE, MSc, Prof. Dr. Indar, SH, MPH, Prof. Sukri Palutturi, PhD dan beberapa staf dosen AKK dan dosen dari departemen lainnya.

Ketua Departemen AKK FKM UNHAS, Dr. H. Muh. Alwy, M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar yang dilakukan oleh AKK adalah bagian dari kegiatan Dies Natalis FKM Unhas.

“AKK memiliki banyak sumber daya dengan kepakaran berbeda; misalnya politik kesehatan, hukum kesehatan, asuransi kesehatan dan ekonomi kesehatan yang sesungguhnya dapat bersinergi dengan BPJS, DPR/DPRD dan pemerintah keseluruhan,” jelas Alwy.

Sementara itu, Dekan FKM UNHAS, Dr. Aminuddin Syam, SKM, M.Kes., M.Med.Ed. menyampaikan bahwa jaminan kesehatan itu adalah amanah undang-undang, karena itu negara wajib melindungi dan menjamin warganya dalam hal akses, kualitas dan kesulitan pembiayaan.

“Meskipun demikian dengan defisitnya BPJS ini maka paradigma kesehatan harus benar-benar berubah menjadi paradigma sehat,” katanya.

Seminar tersebut di buka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unhas, Prof. Dr. Drg. Andi Arsunan Arsin, M.Kes. Dalam sambutannya, ia menyampaikan perlunya peningkatan kegiatan ilmiah dan penalaran seperti yang dilakukan oleh AKK.

Ia bahkan menyampaikan bagaimana jaminan kesehatan ini bisa meng-cover semua mahasiswa Unhas.

Keynote Speaker dalam kegiatan ini adalah Gubernur Sulawesi selatan yang diwakili oleh Kadis Dinkes Prov. Sulawesi selatan. Ada pun, pembicara lainnya masing-masing, H Syamsul Bachri MSc (Wakil Ketua Komisi IX DPR RI), Walikota makassar diwakili, Kadis Dinkes kota Makassar, Staf Direksi BPJS Kesehatan Bapak Nasihin Masha, dan Prof Dr H Amran Razak MSc (Guru Besar FKM Unhas) dan penanggap utama Prof. Dr. H. Indar SH., MPH. Sementara acara tersebut dipandu oleh moderator Dr. Darmawansyah SE.,M.Sc, terang Ketua Panitia“

Kegiatan ini diikuti berbagai mahasiswa baik didalam maupun diluar sulawesi selatan. Adapun jumlah peserta sebanyak 902 orang” jelas ketua panitia, Rahmat Anzari. (FP)