Barru, fajarpendidikan.co.id – Laut Pulau Dutungan tampak tenang pagi itu. Airnya jernih, birunya memikat mata. Namun di balik keindahan itu, tersimpan ancaman yang tak terlihat dari permukaan.
Kapolres Barru, AKBP Ananda Fauzi Harahap, membuktikannya sendiri saat menyelam ke dasar laut, Minggu (4/5/2026).
Di bawah permukaan, pemandangan awal masih menenangkan. Terumbu karang terbentang, ikan-ikan kecil berenang bebas. Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Di sela-sela karang, tampak plastik kusut tersangkut.
Pemandangan yang kontras. Indah, tapi terluka.
Tanpa ragu, Kapolres mendekat. Dengan hati-hati, ia melepaskan sampah yang menjerat karang. Gerakannya pelan, menjaga agar ekosistem rapuh itu tidak semakin rusak.
Satu per satu sampah plastik diangkat ke permukaan.
Aksi sederhana, tapi bermakna besar.
Bukan sekadar membersihkan. Ini adalah pesan.
Bahwa laut yang terlihat luas dan kuat, ternyata rentan terhadap ulah manusia.
Kapolres Barru menegaskan, keberadaan sampah plastik di laut dapat berdampak serius terhadap biota laut, khususnya terumbu karang.
Menurutnya, karang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut dan menjadi habitat berbagai jenis ikan.
“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen kami dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya wilayah perairan Kabupaten Barru,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah ke laut.
“Laut bukan tempat sampah. Mari kita jaga bersama agar tetap bersih dan lestari,” tambahnya.
Aksi ini diharapkan mampu menggugah kesadaran masyarakat.
Sebab, laut bukan hanya keindahan, tetapi juga sumber kehidupan.
Apa yang ditemukan di bawah laut Pulau Dutungan mungkin hanya sebagian kecil dari persoalan besar.
Namun dari sana, sebuah pesan muncul ke permukaan.
Bahwa menjaga laut tidak harus menunggu.
Cukup dimulai dari kesadaran.
Dan satu tindakan sederhana: tidak membuang sampah ke laut.
