Serial Tausiyah Jumat Edisi 38, Golongan Kanan dan Golongan Kiri

Oleh: KH Syarifuddin Mahfudz

FAJAR Pendidikan

Istilah golongan kanan dan golongan kiri, seringkali kita dengar atau kita baca, antara lain melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Biasanya berkaitan dengan aliran politik di suatu negara. Dalam Al Qur’an istilah tersebut juga banyak disebut.

Dalam Al Qur’an dan dalam konteks agama Islam, golongan kanan adalah orang-orang atau kelompok terpuji. Orang-orang yang beruntung, karena mentaati agama dengan sebaik-baiknya. Sedang golongan kiri adalah orang-orang yang merugi, orang-orang durhaka yang tersesat dalam kehidupannya.

1. Golongan kanan

FirmanNya dalam surat Al Waqiah (56):8-9 sebagai berikut:

فَاَصْحاَبُ الْمَيْمَنَةِ ماَاَصْحاَبُ الْمَيْمَنَةِ . وَاَصْحاَبُ الْمَشْئَمَةِ ماَ اَصْحاَبُ الْمَشْئَمَة

“Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu”.

“Kata al maimanah sama dengan kata al yamin/kanan, ia terambil dari kata yumn yang berarti keberkatan. Arah kanan biasa digunakan sebagai isyarat tentang kebaikan dan kebahagiaan. Demikian banyak bahasa menggunakan istilah itu. Seperti juga dalam bahasa Indonesia ketika kita berkata LANGKAH KANAN yakni mujur dan untung.. Sedangkan LANGKAH KIRI yang sial atau serba salah“. (M Quraisy Shihab, Tafsir Al Maraghi, vol 13 hal 546).

Golongan kanan inilah yang kelak pada hari kiamat menjadi penghuni surga, sebagai ganjaran atas ketaatan dan kesalehan mereka ketika di dunia, dengan berbagai kenikmatan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Pada surat Al Waqiah ayat 28 sampai dengan 40 Allah swt memberikan gambaran tentang kenikmatan yang dijanjikan Allah swt.

Mereka menikmati kehidupan dan fasilitas yang serba lux. . Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, pohon pisang yang bersusun-susun, naungan yang terbentang luas, air yang tercurah, buah-buahan yang banyak, Kasur-kasur yang empuk, pelayan dan bidadari yang jelita, serta suasana yang tenang dan damai.

“Agama menjadikan kanan sebagai lambang kebajikan dan keberuntungan. Oleh karena itu para penghuni surga, kelak akan menerima buku amalan mereka dengan tangan kanan. Dari sini dan dari arti yang disebutkan di atas, seperti kebahagiaan dan lain-lain, penghuni surga dinamai ash habul yamin/golongan kanan “. (Vol 14, hal 606).

BACA JUGA :   Pergantian Kiswah Ka’bah di Tahun Baru Hijriah

FirmanNya dalam surat Al Isra (17):71 sebagai berikut:
يَوْمَ تَدْعُواْ كُلُّ اُناَسٍ بِاِماَمِهِمْ فَمَنْ اُوْتِيَ كِتاَبَهُ بِيَمِيْنِهِ فَاُولَئِكَ يَقْرَئُوْنَ كِتاَبَهُمْ وَلاَ يُظْلَمُوْن فَتِيْلاً

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya, dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya, maka mereka akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun“.

Golongan kanan kelak akan menerima buku rekaman catatan amal mereka (atau flashdisc) dengan tangan kanan. Mereka sangat bahagia dan berulang-ulang membacanya karena sangat bahagia.

FirmanNya dalam surat Al Haqqah (69):19-24) sebagai berikut:
فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتاَبَهُ بِيَمِيْنِهِ فَيَقُوْلُ هاَؤُمُ اقْرَئُواْ كِتاَبِيَهْ . اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مٌلاَقٍ حِساَبِيَهْ . فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ راَضِيَة . فِيْ جَّنَّةٍ عاَلِيَة . قُطُوْفُهاَ داَنِيَةٌ . كُلُواْ واَشْرَبُواْ هَنِيْئاً بِماَ اَسْلَفْتُمْ فيِ الْاَيَّامِ الْخاَلِيَة

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya. Maka dia berkata : “ Ambillah, bacalah kitabku ini, sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menerima hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai. Dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan)” makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu“.

FirmanNya dalam surat Al Insyiqoq (84):7-9 sebagai berikut:
فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتاَبَهُ بَيَمِيْنِهِ . فَسَوْفَ يُحاَسَبُ حِساَباً يَسِيْراً . وَيَنْقَلِبُ اِلَى اَهْلِهِ مِسْرُوْراً.

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira“.

2. Golongan kiri

Golongan kiri ialah golongan orang-orang yang celaka. Mereka akan mendapat siksa dan kesengsaraan yang tiada tara, akibat dari kedurhakaan mereka ketika di dunia.

FirmanNya dalam surat Al Waqiah (56):41-55 sebagai berikut:

“Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. (Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih. Dan naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu (dahulu) hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar. Dan mereka berkata: “Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali? Apakah nenek moyang kami yang terdahulu dan yang kemudian pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi Kemudian sesungguhnya kamu, wahai orang-orang yang sesat lagi mendustakan. Pasti akan memakan pohon zaqqum. Maka akan penuh perutmu dengannya. Setelah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta (yang sangat haus minum)“ Mereka akan menerima buku rekaman catatan mereka dengan tangan kiri.

BACA JUGA :   Khutbah Jumat Terbaru 5 Agustus 2022, Edisi Tahun Baru Islam: Bulan Muharram

FirmanNya dalam surat Al Haqqah (69):25-29 sebagai berikut :
وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتاَبَهُ بِشِماَلِهِ فَيَقُوْلُ ياَلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتابِيَة . وَلَمْ اَدْرِماَحِساَبِيَة . ياَ لَيْتَهاَ كاَنَتِ الْقاَضِيَة . ماَ اَغغْنَى عَنِّيْ مااَلِيَة . هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطاَنِيَة

“Adapun yang diberikan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata :” Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku, dan aku tidak mengetahui apa hisabku. Wahai kiranya Dia yang jadi pemutus . Tidaklah berguna bagiku hartaku. Telah hilang kekuasaanku dariku“.

3. Pelaksanaan ibadah harian

Dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari dan etika Islam, diajarkan untuk mendahulukan tangan/kaki kanan bila melakukan hal-hal yang baik. Dan mendahulukan yang kiri bila melakukan hal-hal yang buruk.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Siti Aisyah ra :
“Adalah Rasulullah saw suka mendahulukan sebelah kanan dalam semua perbuatannya, dalam bersuci, bersandal dan bersisir”.

“Sunat mendahulukan kanan ketika berwudlu, , mandi, tayamum, memakai pakaian, celana, sandal, masuk masjid, gosok gigi, potong kuku, ke luar dari kamar mandi, jabat tangan, makan dan minu. Dan sunat mendahulukan kiri ketika buang ingus, masuk kamar mandi, ke luar dari masjid, melepas pakaian, istinja, dsb“. (Terj Riyadush Shalihin, hal 586).

“Rasulullah saw suka memulai dengan anggota yang kanan dari pada anggota yang kiri dalam beberapa pekerjaan beliau. Berkata Nawawi :” Tiap-tiap pekerjaan yang mulia baik dimulai dari kanan, sebaliknya pekerjaan yang hina seperti masuk kakus hendaklah dimulai dari kiri “. (Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, hal 36}.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI