Beranda blog Halaman 3393

Asal Usul Gurun Pasir Sahara

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Para ilmuwan memperkirakan bahwa gurun pasir Sahara adalah wilayah sub-tropis. Dimana rusa, kuda nil, dan gajah pernah diburu manusia kuno. Jerapah dan badak bebas menjelajah daerah tropis yang kini menjadi gurun pasir.

Menurut penelitian Pasokan makanan yang berlimpah dikawasan yang saat ini menjadi gurun Sahara, membuat ribuan menusia pemburu pengumpul migrasi, hijrah dan menetap di wilayah sub-tropis ini.

Semua fakta tentang wilayah yang terpimbun pasir ini telah terbukti setelah ditemukannya ratusan kuburan manusia dan berbagai lukisan batu yang menggambarkan manusia kuno berburu dan berenang.

Gambaran radar yang diambil oleh NASA menunjukkan bahwa dibawah gurun pasir merupakan jaringan yang tersusun dari sungai di seluruh Sahara, termasuk afrika Utara diperkirakan pernah menjadi wilayah yang sangat subur.

Tumpukan pasri yang menjadi gurun ini sangat erat kaitannya dengan sejarah kaum Ad, namun siapakan kaum Ad ini?

Jika melirik kisah dan sejarah yang mengacu pada Ad-Lantis, maka sangat jelas bahwa Kaum Ad merupakan keturunan atau sisa peradaban Atlantis yang ditenggelamkan disekitar Laut Mediterenia.

Bencana ini diduga karena jatuhnya benda luar angkasa berukuran besar sehingga menyebabkan banjir besar, dalam kisah sejarah lebih banyak mengaitkan sejaahini dengan Bahtera Nabi Nuh.

Bencana ini ternyata tidak seluruhnya memusnahkan kaum sebelum Nabi Nuh, sebuah penguasa besar yang telah memerintah setelah Nabi Idris dan priode Nabi Nuh dengan puncak kejayaan Atlantis, peradaban paling tertinggi dan paling maju dalam sejarah manusia. Ternyata mereka masih tersisa di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Satu-satunya wilayah yang tersisa adalah Afrika Utara yang dikenal subur sejak Periode Neolitik sekitar 9500 SM. Ini terlihat dari bukti-bukti bangunan yang mengusung teknologi dan desain sebelumnya. Bangunan menjulang tinggi seperti Menara Babel, Piramida dan arsitektur kerajaan Mesir dan hampir diseluruh wilayah Timur Tengah masih menggunakan metode peredaban terdahulu hingga menjelang tahun 2300 SM.

Dalam catatan sejarah para Nabi, Nabi Hud hidup disekitar tahun 2450 hingga 2320 SM, seorang Nabi yang diutus untuk mengingatkan Kaum ‘Ad yang tinggal di Al-Ahqaf, Rubu’Al-Khail-Yaman. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud, sehingga datang angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh menggelegar dan mereka tertimbun pasir.(Berbagi Sumber)

FKM Unhas Persiapkan Akreditasi Laboratorium

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menggelar Workshop Penerapan Sistem Manajemen Laboratorium. Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih seminggu, mulai tanggal 14 sampai 21 November 2018 di Ruangan K225. Demikian disampaikan Muhammad Rachmat, SKM., M Kes., yang bertugas di Gugus Penjaminan Mutu FKM melalui pesan WhatsApp.

FKM Unhas memiliki Laboratorium Kimia Biofisik (LKB) yang selama ini melakukan pengujian beberapa parameter. Hanya saja, LKB belum menerapkan Sistem Manajemen Laboratorium sesuai ISO. Karena itu, pihak manajemen laboratorium menargetkan akreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) sesuai dengan ISO/IEC 17025:2017.

Peserta dari kegiatan ini berjumlah 27 orang yang merupakan perwakilan dari setiap departemen, pengelola laboratorium termasuk staf dan analis yang selama ini bekerja di laboratorium. Pelatihan ini difasilitasi oleh tim Lab Mania yang diketuai oleh Ivan, ST.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan ISO/IEC 17025:2017, penyusunan dokumen sesuai SNI ISO/IEC 17025:2017, validasi dan verifikasi metode pengujian kimia, estimasi ketidakpastian pengujian kimia, dan terakhir audit internal.

Kata Muhammad Rachmat, kegiatan ini memberikan pencerahan tentang tata kelola laboratorium yang baik. “Materi di hari terakhir tadi tentang audit internal. Peserta melakukan simulasi audit, yang dengannya kita berharap manajemen laboratorium semakin baik,” tutur Rachmat.

Pada workshop ini, peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang seluk beluk ISO/IEC 17025:2017, tetapi juga mendapatkan pendampingan penyusunan dokumen. Dokumen yang harus disediakan itu terdiri dari empat level dokumen yaitu level satu panduan mutu, level dua standar operasional prosedur (sop), level tiga instruksi kerja, dan level empat formulir.

“Output dari workshop ini diharapkan ada dokumen yang siap untuk disubmit ke Komite Akreditasi Nasional (KAN),” ungkap Rachmat.

Dikutip dari situs resminya, KAN merupakan Lembaga di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia. Tugas utamanya memberikan akreditasi kepada Lembaga Penilai Kesesuaian. KAN dioperasikan sesuai dengan standar internasional ISO / IEC 17011 sebagai badan akreditasi yang profesional, independen dan tidak memihak.

Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam. Dalam sambutannya, Aminuddin sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada panitia, peserta dan fasilitator. Menurutnya, akreditasi ini akan meningkatkan kinerja FKM dan Unhas secara keseluruhan. Karena itu, pimpinan akan mendukung dan memfasilitasi segala kebutuhan terkait akreditasi ini.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada panitia, peserta dan juga pemateri sehingga workshop ini bisa terlaksana dengan baik. In syaa Allah, FKM Unhas akan memiliki laboratorium yang terakreditasi KAN di awal tahun 2019. Semoga kita yang pertama di Unhas,” tutup Aminuddin. (FP)

Mengharukan, Kisah Anak MTS Narik Bemor Demi Menghidupi Keluarga

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Remaja adalah suatu proses yang dilalui sebelum dikatakan dewasa. Pada anak remaja masa kini, biasanya mereka menghabiskan waktu dan hari-harinya dalam dunia pendidikan yaitu belajar atau sekolah untuk menuju masa depan yang lebih cerah.

Tetapi, berbeda dengan remaja yang satu ini, pada usia yang masih belia ia tak dapat bergabung bersama teman lainnya untuk bermain lantaran kondisi ekonomi keluarga yang tak memungkinkan. Meskipun begitu, ia tak malu untuk bekerja narik bemor membantu kedua orang tuanya.

Dia adalah Sulfan Ardiansyah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTS) wajo kecamatan Pitumpanua kelas IX F. Anak lelaki ini tengah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan sekarang ini . demi mencari uang buat biaya sekolahnya dan memenuhi kebutuhan keluarga.

“Udah dua tahun saya nabemor kesekolah sekaligus cari penumpang, supaya bisa membantu orang tua untuk cari uang bisa buat makan dan beli kebutuhan sehari-harilah,” ungkap Sulfan, saat ditemui, kemarin disekolahnya.

Tepat di kota siwa kecamatan pitumpanua, di sanalah Sulfan mengais rezekinya bermodalkan becak motor milik ayahnya. Melalui kemampuannya membawa becak motor tersebutlah yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban orang tuanya.

“Saya bisanya bawa becak motor (bentor) karena dari kecil sering lihat ayah kalau lagi narik.saya beranikan diri untuk bawa bemor seperti naik motor jadi gampanglah kayak aja,” ujarnya.

Ia menceritakan, bentor tersebut sebelumnya adalah milik ayahnya. Lantaran zaman yang kian modern, harga kebutuhan pokok yang serba mahal, anak semakin tumbuh dewasa dan menuntut banyaknya keperluan yang harus dipenuhi, sehingga kalau mengharapkan penghasilan ayahnya saja tak cukup untuk memenuhi itu semua.

Kondisi ini yang menjadi beban bagi Sulfan dan keluarganya. Maka, dengan inisiatifnya ia minta izin kepada orang tuanya agar diijinkan bawa bemor kesekolahnya dan dapat bekerja guna meringankan beban ekonomi keluarga.

“Saya minta sendiri sama orang tua untuk membantu cari duit . Orang tua ya mau anaknya sekolah,tapi mau kemana lagi karena himpitan ekonomi keluarga, ya beginilah, sekolah kan gak ada yang gratis. Jadi saya minta untuk narik bemor aja. Terus, ayah cari kerja lain , kalau ibu kerja juga jadi buruh tani. Dari penghasilan itulah kami dapat penuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Lelaki yang dikenal ramah oleh sesama penarik bemor di pangkalannya ini mengakui, dirinya kerap kali ditanyai penumpang tentang mengapa ia narik bemor kesekolah atau mengapa masih muda sudah narik bemor.

“Penumpang kadang nanya-nanya gitu, saya gak marah. Saya jawab aja terus terang, kalau saya mau bantu orang tua cari uang untuk beli beras,” ucapnya dengan polos, saat ditemui sedang disekolahnya, bersama teman-teman lainnya yang sedang menanti jam pelajaran dimulai.

Sehari-hari, sulvan biasanya mendapatkan uang sekitar 20 ribu rupiah karena lebih sering mengantar penumpang pada jarak 5 kilometer antara sekolah saya. paling jauh pasar siwa ,” ungkapnya.

Selama dua tahun terakhir ini, diakui Sulfan ardiansyah dirinya semakin banyak mengenal orang dan menjadikan kepribadiannya lebih ramah dari sebelumnya serta lebih tegar dan sabar menghadapi sikap penumpang yang terkadang nakal.

Ia mengatakan, penumpangnya yang baik tersebut adalah orang yang sangat menyukai bemor Juga diakuinya, di saat hujan turun lebih banyak penumpang daripada di saat hari panas.

“Kalau hujan banyak sewa, naik bemor ljadi gak basah daripada jalan kaki mungkin ya. Udah gitu, becak dayung pake sepeda ini menurut saya becak zaman, gak berisik, juga ciri khas becaknya orang Medan, jadi saya gak malu narik bemor,” ungkap Sulfan.

Sulfan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya yang kini menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Dan, Sulfan sendiri mengambil langkah untuk kerja apa adanya meringankan beban kedua orang tua. Asal kedua saudaranya dapat bersekolah, itu sudah menjadi kepuasan baginya.

Reporter: Baso Lutfi.

STIE Nobel dan Temple University Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat Jalin Kerjasama

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia dan Temple University Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat menyepakati melakukan penandatanganan MoU pada Kamis, 22 November 2018.

Acara ini dihadiri oleh Vice President Temple University, Dr Hai Lung Dai dan jajarannya; Ketua Dewan Pembina Yayasan STIE Nobel Indonesia, Ir Mubyl Handaling; dan disaksikan langsung oleh kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX Sulawesi, Prof Dr Jasruddin, M Si.

Dalam penandatanganan MoU ini, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan kerjasama program 2+2, yakni mahasiswa STIE Nobel ke depannya bisa melanjutkan kuliahnya ke Temple University untuk tahun ketiga dan keempat setelah perkuliahan di STIE Nobel untuk tahun pertama dan kedua dilalui.

Dalam kesempatan ini, Holly Meng selaku Director of Leadership Education Temple University mengatakan , Temple University akan dengan senang hati menyambut mahasiswa dari Indonesia khususnya mahasiswa dari STIE Nobel.

“Saat ini, belum banyak mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Temple University, dan pihaknya akan senang sekali dan tidak sabar lagi bisa berbagi ilmu dan budaya dengan mahasiswa dari Indonesia nantinya,” kata Holly Meng.

Penandatanganan MoU STIE Nobel Indonesia dan Temple University Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat.[Foto:/Ist]
Penandatanganan MoU STIE Nobel Indonesia dan Temple University Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat.[Foto:/Ist]
Dalam kegiatan yang sama, Ketua Dewan Pembina Yayasan STIE Nobel Indonesia juga menyampaikan apresiasinya atas terjalinnya kerja sama ini. “Senang sekali bisa terjalin kerjasama dengan Temple University, karena selain ilmu yang didapatkan, mahasiswa STIE Nobel yang mengikuti program ini nantinya akan mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa berharga selama tinggal di negeri paman sam,” tutur Ir Mubyl Handaling.

Kerjasama yang serupa akan terus dilakukan STIE Nobel Indonesia agar nantinya lulusan STIE Nobel bisa kompeten, unggul, dan memiliki daya saing tinggi untuk Indonesia menuju negara maju ke depannya.

Sesuai visinya yakni menghasilkan sumber daya manusia yang berjiwa entrepreneurship dan berwawasan global, STIE Nobel  terus berupaya untuk mewujudkan harapan mahasiswanya yang ingin memperluas wawasan dengan  berkuliah di luar negeri.(Rls)

Memperingati Maulid, Bupati Bersama Masyarakat Muslim

0

Toraja Utara, FAJARPENDIDIKAN.co.id-Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H 2018, berlangsung di Masjid Agung Rantepao, Selasa, 20/11. Kegiatan tersebut mengambil tema Tingkatkan Iman dan Tagwa serta Perkokoh Ukhuwah dan Kebersamaan.

Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan didampingi Kepala Dinas Kominfo Toraja Utara Fitra Rusdi dan Komisioner Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Toraja Utara Roy Pasalli, turut serta berbaur bersama masyarakat Muslim Toraja Utara.

Ketua Panitia, Drs Mujahidin berharap melalui kegiatan Maulid tahun ini akan menciptakan kekokohan antara umat beragama di Kabupaten Toraja Utara.
“Kami sangat membutuhkan satu unit ambulas dan pembangunan fisik Masjid,” tutur Imam Masjid Agung Rantepao, Mujahidi.

Bupati Toraja Utara Kalatiku Paembonan mengatakan ia merasa berada di tengah keluarganya, selalu tercipta kebersamaan dapat membuktikan bahwa kerukunan umat beragama hadir di Kabupaten Toraja Utara.

Melalui perayaan Maulid, Bupati berharap, rasa kesatuan dan persatuan agar selalu terjaga di Toraja Utara.

Reporter: Fit/ Ptr

FKM Unhas Jalin Riset Kerjasama Internasional dengan Universitas Ternama di Empat Negara

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam, SKM., MKes., M.Med.Ed dan Direktur Program RISE yang juga Wakil Rektor Bidang Riset Monash University Australia, Prof Rebekah Brown melakukan pengguntingan pita untuk peresmian Laboratorium Riset FKM Unhas. Rabu, 21 November 2018.

FKM Unhas mencatat kemajuan baru dalam kolaborasi riset internasional yang ditandai dengan peresmian laboratorium riset (research laboratory) yang berada di lantai tiga gedung FKM.

FKM UNHAS telah melakukan riset kerjasama ini selama setahun dan akan berlangsung sampai lima tahun dengan Monash University Australia sebagai partner utama.

Riset Revitalizing Informal Settlements and Their Environments (RISE) yang berloikasi di 12 pemukiman kumuh Kota Makassar, merupakan riset Field Trial yang mengujicobakan pendekatan baru Water Sensitive Cities (GSW) atau Kota Peka Air terhadap permasalahan sanitasi dan air bersih di lingkungan kumuh perkotaan.

Riset ini dilaksanakan di Kota Makassar dan Suva, Fiji. Melibatkan peneliti dari berbagai Universitas ternama di dunia dari berbagai negara seperti, Monash University dan Melbourne University Australia, Cambridge University, UK,  Stanford University dan Emory University dari USA, dengan biaya dari Wellcome Trust.

Dekan FKM Unhas didampingi oleh Ansariadi, PhD., Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Inovasi yang juga sekaligus RISE Focal Point di UNHAS dan Principle Investigator. Turut hadir Prof Sukri Palutturi, PhD., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan; Dr Atjo Wahyu, SKM., M Kes., Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Sumber Daya FKM Unhas dan beberapa profesor dan dosen senior FKM.

Dalam sambutannya, Dekan FKM Unhas menyampaikan bahwa peresmian laboratorium riset merupakan rangkaian dari berbagai acara menyambut Dies Natalis FKM UNHAS yang ke 36. Ia juga menyampaikan bahwa kerjasama ini merupakan bukti bahwa peneliti di FKM mampu melakukan kerjasama internasional dengan peneliti lain di universitas ternama.

Laboratorium riset ini, sambungnya, sengaja dibuat terpisah dari  laboratorium praktikum  (teaching lab) yang umumnya digunakan untuk mahasiswa, agar riset yang dilakukan oleh peneliti bisa berjalan dengan baik. “Pengembangan laboratorium riset telah menjadi prioritas FKM Unhas untuk memperkuat riset. Baik untuk dosen maupun untuk mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3) nantinya,” terang Aminuddin.

Dengan adanya laboratorium riset ini, kata Aminuddin, maka dimasa yang akan dating, diharapkan riset-riset di bidang kesehatan masyarakat, selain bisa mengidentifikasi faktor risiko kesehatan penduduk baik yang bersifat makro, maka juga akan mampu melakukan pemeriksaaan hal-hal yang bersifat mikro atau biomolokuler dengan peralatan yang paling mutakhir.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Riset juga menyampaikan bahwa hampir setiap minggunya beberapa peneliti dari berbagai negara datang dan bekerja di laboratorium dalam rangka penelitian ini. “Selain itu, mereka juga terlibat dalam kegiatan akademik di FKM seperti memberikan kuliah tamu, seminar dan training untuk peningkatkan kapasitas peneliti di FKM,” pungkasnya.(Rls)

 

Atase Pendidikan KBRI Thailand Beri Kuliah Tamu di FKM Unhas

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menggelar kuliah tamu yang berlangsung di Aula Pascasarjana Rabu, 21 November 2018. Kuliah tamu kali ini menghadirkan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Thailand, Prof Dr Mustari Mustafa, MSi.

Kuliah tamu yang dipandu oleh Nurarifah, SKM., MA., ini, memaparkan tentang Partnership in Education. Partnership untuk semua, berlaku untuk Indonesia – Thailand atau Thailand – Indonesia.

Mustari banyak mengurai bagaimana hubungan Indonesia dengan Thailand. “Bagi pemerintah Thailand, Indonesia itu dianggap seperti kakak, adik-kakak, negara ini sangat damai apalagi negara ini tidak pernah dijajah oleh negara manapun sehingga Thailand benar-benar Thailand,” katanya.

“Dari aspek budaya dan pariwisata, jumlah turist mancanegara sebanyak 35 juta di Thailand berdasarkan data pada tahun 2017. Kota Bangkok paling banyak dikunjungi dan menggeser London dan Paris. Kalau destinasi pariwisata di Indonesia itu ada Bali, maka di ASEAN adalah Bangkok Thailand,” tambahnya.

Dalam bidang pendidikan, menurut Mustari, harus banyak kerjasama dengan FKM Unhas. “Kerja samanya bias dalam bentuk short course, student exchange dan pendidikan degree,” jelasnya.

Foto bersama usai kuliah umum.[Foto:/Ist]
Foto bersama usai kuliah tamu.[Foto:/Ist]
Kuliah tamu yang dihadiri sekitar 100 an mahasiswa FKM Unhas tersebut, dibuka oleh Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam, SKM., MKes., M Med Ed.

Dalam sambutannya, Aminuddin menyampaikan bahwa student exchange ini tidak hanya mahasiswa FKM Unhas yang ke Thailand tetapi juga mahasiswa Thailand yang ke Indonesia. Demikian pula untuk pendidikan degree. “Waktu saya PD 3, FKM Unhas pernah mengutus mahasiswa FKM ke Thailand yang melakukan student exchange, kita tinggal lanjutkan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kemitraan FKM Unhas,  Prof Sukri Palutturi, PhD menambahkan bahwa dalam waktu dekat ini, tim FKM Unhas akan melakukan kunjungan di beberapa universitas di Thailand.(Rls)

Benarkah Internet Melemahkan Kemampuan Berpikir ?

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Nicholas Carr dilanda kekhawatiran akut. Selama bertahun-tahun, ia kerap merasa ada sesuatu atau sesorang yang bermain-main dengan otaknya, bahkan mengubah aliran syarafnya dan memprogram ulang memorinya.

Dalam sebuah program berjudul Is Google Making Us Stupid? Carr merinci kekalutannyha itu. Menurutnya pikirannya tidak pergi kemana-mana melainkan sedang berubah. Carr merasa dia tidak lagi berpikir sebagaimana biasanya. Ia merasakan ada yang berubah.

“Saya dapat merasakannya saat saya membaca. Sebelumnya, membaca artikel panjang rasanya sangat mudah. Saya menyelam dalam narasi atau perdebatan argumen dan pada akhirnya saya akan menghabiskan berjam-jam berjalan-jalan melalui prosa panjang yang membentang,” ujar Carr.

Namun, sekarang konsentrasi Car mulai mengambang setelah malahp dua atau tiga halaman buku. Semakin lama membaca, Carr makin mudah kehilangan benang merah. Lebih buruk lagi ia mudah berpikir mencari aktifitas lain untuk dilakukan saat sedang membaca.

” Saya merasa seolah-olah saya selalu harus menyeret otak kembali kedalam teks. Membaca secara mendalam yang biasa saya lakukan dulu. Sekarang amat sulit unruk dilakukan,” ungkapnya.

Carr lantas menduga perubahan itu sebagai akibat aktivitasnya beberapa tahun kebelakang. Salah satu aktifitas yang intens dilakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah mencari informasi, berselancar sekaligus menambahkan database melalui internet.

Keluhan yang sama juga diungkapkan oleh seorang blogger bernama Bruce Friedman.”Saya sekarang hampir kehilangan kemampuan membaca dan menyerap artikel panjang di situs web atau media cetak,” tulis Friedman dalam blognya.

Psikolog perkembangan di Tuts University, Maryanne Wolf khawatir gaya membaca yang dopormosikan/dilahirkan oleh internet memperlemah kapasitas manusia untuk memahami bacaan yang dalam.

Menurut Wolf, ketika sesorang membaca secara online, dia cebderung hanya menjadi “Dekoder informasi”. Akhirnya kemampuan untuk menafsirkan teks, serta membuat koneksi mental yang terbentuk saat membaca secara mendalam perlahan-lahan menyusut. (JvK)

Persakmi Usulkan PKK Provinsi Sulsel Inisiasi Membuka Layanan Bumil Posyandu di Mall

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Sebagai upaya untuk membantu Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Persakmi sebagai salah satu organisasi profesi di bidang kesehatan masyarakat sangat tepat mendampingi PKK Provinsi Sulawesi Selatan dalam menginisiasi pembentukan Posyandu di mall.

Kehadiran Posyandu di mall diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan layanan ANC terhadap Ibu Hamil (Bumil) dan Balita. Demikian disampaikan oleh Ketua Dewan Etik PP Persakmi yang juga sebagai Dekan FKM Unhas, Dr Aminuddin Syam, SKM., MKes., M Med Ed., dalam round table discussion yang digelar oleh Persakmi Sulsel, Rabu 20 November 2018 di Kafe Ardan Masogi Makassar.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Umum PP Persakmi, Prof Dr Ridwan Amiruddin, SKM., MKes., MSc PH; Ketua Dewan Etik PP Persakmi, Dr Aminuddin Syam, SKM., MKes., M MedEd; Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, H M Husni Thamrin, SKM., MKes; Dekan FKM UPRI, Dr Arlin Adam, SKM., MKes; Dewan Etik Persakmi Sulsel, Prof Dr Anwar Daud, SKM., MKes., dan juga Ketua Persakmi Sulsel, Prof Sukri Palutturi, SKM., MKes., MSc PH PhD.

Menurut Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, H M Husni Thamrin, SKM., MKes., Posyandu di mall merupakan layanan kesehatan model perkotaan yang akan memberikan layanan berbasis promotif dan preventif untuk menyiapkan masyarakat generasi milineal yang ditandai dengan hidup sehat dan gizi yang cukup. “Kegiatan meliputi konseling bagi ibu hamil, ibu menyusui, kesehatan ibu dan anak, usila, dan konseling gizi serta diikuti dengan layanan deteksi dini penyakit tidak menular seperti stroke, jantung DM dan sebagainya,” kata Husni.

Diusulkannya mall ini bagi Prof Ridwan, sebagai Ketua PP Persakmi, memandangnya sebagai setting. “Jadi bukan lagi desa tetapi kita menyentuh kelompok masyarakat dimana mereka memiliki aktivitas tinggi, mereka berbelanja dan liburan,” kata Ridwan.

Dekan FKM UPRI yang juga sebagai anggota dewan etik Persakmi Sulsel juga memberikan pandangannya terkait perkembangan Makassar sebagai metropolis mnghadapi sejumlah resiko kesehatan yang menuntut respon segera dan mendesak serta inovatif dari berbagai pihak.

“Persakmi sebagai OP kesehatan yang berbasis promotif dan preventif mencoba menginisiasi program inovatif sesuai dengan landscap masyarakat perkotaan yang moderen. Program ini dikemas dalam bentuk pengembangan posyandu mall. Mengingat mall bagi masyarakat kota merupakan ikon pemenuhan kebutuhannya. Dengan demikian masyarakat diharapkan mampu untuk menginternalisasi perilaku sehat sebagai tradisi, ujungnya masalah kesehatan dapat ditekan secara bermakna,” terang Arlin Adam.

Sementara itu, Ketua Persakmi Sulsel, Prof Sukri Palutturi, PhD menyampaikan terima kasih atas pemikiran-pemikiran inovatif, terutama dalam membantu pemerintah Sulawesi Selatan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta stunting.(Rls)

Editor: Ibhel

Persakmi Merancang Posyandu Digital Merespon Teknologi Generasi 4.0

0

Makassar, FajarPendidikan.co.id – Layanan kesehatan mesti berubah terutama dalam era teknologi 4.0 saat ini, termasuk layanan Posyandu. Demikian topik utama diskusi bulanan yang digelar Persakmi Sulsel, Selasa 20 November 2018 di Cafe Ardan Masogi Makassar.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum PP Persakmi, Prof Dr Ridwan Amiruddin, SKM., MKes., MSc PH; Ketua Dewan Etik PP Persakmi, Dr Aminuddin Syam, SKM, MKes., M Med Ed; Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, H M Husni Thamrin, SKM., MKes; Dekan FKM UPRI, Dr Arlin Adam, SKM., MKes; Dewan Etik Persakmi Sulsel, Prof Dr Anwar Daud, SKM., MKes. dan juga Ketua Persakmi Sulsel, Prof Sukri Palutturi, SKM., MKes., MSc PH, PhD.

Menurut Prof Ridwan, Platform digital posyandu ini merespon teknologi industri generasi  4.0.  “Tujuan utamanya memberikan layanan massive terhadap monitoring tumbuh kembang bayi balita sebagai bentuk tanggung jawab persakmi dalam pengendalian stunting di Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan,” jelas Ridwan.

Sementara itu, menurut Kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, H M Husni Thamrin, SKM., MKes., untuk aplikasi posyandu web Sangat dibutuhkan untuk masyarakat moderen di jaman sekarang. “Posyandu yang ada itu sudah ketinggalan di mata masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi pengembangan posyandu untuk masyarakat moderen,” katanya.

“Tingkat partisipasi masyarakat akan pemanfaatan posyandu hanya pada angka 54 persen, itu artinya posyandu kurang diminati,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dr Aminuddin Syam, yang juga sebagai Ketua Dewan Etik PP Persakmi dan sekaligus sebagai Dekan FKM Unhas juga memberikan pandangan bahwa di era digital saat ini,  gagasan tentang Posyandu Digital sangat relevan dengan perkembangan masyarakat. “Posyandu digital akan mampu menyelesaikan berbagai masalah kesehatan ibu dan anak tanpa harus repot-repot lagi ke Posyandu konvensional. Bahkan Posyandu digital akan mereduksi biaya dan waktu bagi ibu dan anak yang membutuhkan layanan kesehatan,” tutupnya.(Rls)

 

Editor: Ibhel