Mengharukan, Kisah Anak MTS Narik Bemor Demi Menghidupi Keluarga

Sulfan Ardiansyah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTS) Wajo saat menarik bentor [Foto: Baso Lutfi]

Makassar, FajarPendidikan.co.id– Remaja adalah suatu proses yang dilalui sebelum dikatakan dewasa. Pada anak remaja masa kini, biasanya mereka menghabiskan waktu dan hari-harinya dalam dunia pendidikan yaitu belajar atau sekolah untuk menuju masa depan yang lebih cerah.

Tetapi, berbeda dengan remaja yang satu ini, pada usia yang masih belia ia tak dapat bergabung bersama teman lainnya untuk bermain lantaran kondisi ekonomi keluarga yang tak memungkinkan. Meskipun begitu, ia tak malu untuk bekerja narik bemor membantu kedua orang tuanya.

Dia adalah Sulfan Ardiansyah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTS) wajo kecamatan Pitumpanua kelas IX F. Anak lelaki ini tengah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan sekarang ini . demi mencari uang buat biaya sekolahnya dan memenuhi kebutuhan keluarga.

“Udah dua tahun saya nabemor kesekolah sekaligus cari penumpang, supaya bisa membantu orang tua untuk cari uang bisa buat makan dan beli kebutuhan sehari-harilah,” ungkap Sulfan, saat ditemui, kemarin disekolahnya.

Tepat di kota siwa kecamatan pitumpanua, di sanalah Sulfan mengais rezekinya bermodalkan becak motor milik ayahnya. Melalui kemampuannya membawa becak motor tersebutlah yang bisa ia lakukan untuk meringankan beban orang tuanya.

Baca Juga :   Musrembang Tingkat Kabupaten Dibuka Bupati Wajo

“Saya bisanya bawa becak motor (bentor) karena dari kecil sering lihat ayah kalau lagi narik.saya beranikan diri untuk bawa bemor seperti naik motor jadi gampanglah kayak aja,” ujarnya.

Ia menceritakan, bentor tersebut sebelumnya adalah milik ayahnya. Lantaran zaman yang kian modern, harga kebutuhan pokok yang serba mahal, anak semakin tumbuh dewasa dan menuntut banyaknya keperluan yang harus dipenuhi, sehingga kalau mengharapkan penghasilan ayahnya saja tak cukup untuk memenuhi itu semua.

Kondisi ini yang menjadi beban bagi Sulfan dan keluarganya. Maka, dengan inisiatifnya ia minta izin kepada orang tuanya agar diijinkan bawa bemor kesekolahnya dan dapat bekerja guna meringankan beban ekonomi keluarga.

“Saya minta sendiri sama orang tua untuk membantu cari duit . Orang tua ya mau anaknya sekolah,tapi mau kemana lagi karena himpitan ekonomi keluarga, ya beginilah, sekolah kan gak ada yang gratis. Jadi saya minta untuk narik bemor aja. Terus, ayah cari kerja lain , kalau ibu kerja juga jadi buruh tani. Dari penghasilan itulah kami dapat penuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga :   Selamat Hari Jadi Sang Inspirator

Lelaki yang dikenal ramah oleh sesama penarik bemor di pangkalannya ini mengakui, dirinya kerap kali ditanyai penumpang tentang mengapa ia narik bemor kesekolah atau mengapa masih muda sudah narik bemor.

“Penumpang kadang nanya-nanya gitu, saya gak marah. Saya jawab aja terus terang, kalau saya mau bantu orang tua cari uang untuk beli beras,” ucapnya dengan polos, saat ditemui sedang disekolahnya, bersama teman-teman lainnya yang sedang menanti jam pelajaran dimulai.

Sehari-hari, sulvan biasanya mendapatkan uang sekitar 20 ribu rupiah karena lebih sering mengantar penumpang pada jarak 5 kilometer antara sekolah saya. paling jauh pasar siwa ,” ungkapnya.

Selama dua tahun terakhir ini, diakui Sulfan ardiansyah dirinya semakin banyak mengenal orang dan menjadikan kepribadiannya lebih ramah dari sebelumnya serta lebih tegar dan sabar menghadapi sikap penumpang yang terkadang nakal.

Ia mengatakan, penumpangnya yang baik tersebut adalah orang yang sangat menyukai bemor Juga diakuinya, di saat hujan turun lebih banyak penumpang daripada di saat hari panas.

Baca Juga :   Sambut Hari Jadi Ke-62, Kodam XIV Hasanuddin Anjangsana Panti Asuhan

“Kalau hujan banyak sewa, naik bemor ljadi gak basah daripada jalan kaki mungkin ya. Udah gitu, becak dayung pake sepeda ini menurut saya becak zaman, gak berisik, juga ciri khas becaknya orang Medan, jadi saya gak malu narik bemor,” ungkap Sulfan.

Sulfan adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya yang kini menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Dan, Sulfan sendiri mengambil langkah untuk kerja apa adanya meringankan beban kedua orang tua. Asal kedua saudaranya dapat bersekolah, itu sudah menjadi kepuasan baginya.

Reporter: Baso Lutfi.