Janji Apoi

“Lari sana! Dasar penakut, pengecut!” sengaja Gian meninggikan suara agar mereka mendengarnya.

Kelima anak itu tak mengubris Gian. Masih terlihat jelas Apoy dan teman-temannya tertahtih. Karena tak digubris Gian lagi meneriakinya.

“Dasar pengecut, anak TKW. Anak sial, ditinggal sama Ibunya. Penbawa sial, makanya Ibumu pergi jauh, kamu itu pembawa sial. ”

- Iklan -

Apoi mendengar samar suaranya. Namun, lama kelamaan naik pitam. Gian sudah kelewatan. Apoi marah besar, karena sang Ibu dibawa-bawa. Tubuh yang tadinya lemas, menjadi mendidih dan tak gentar. Apoi melepas rangkulan sabahat-sahabatnya kemudian berbalik arah.

Dengan langkah yang besar, jantung yang berdegub tak karuan, urat matanya seperti ingin keluar. Kedua tangan ia kepal sekuat mungkin. Setiap langkahnya terbayang sosok sang Ibu yang sudah dua tahun ini tak dijumpa.

Dengan jarak sepuluh meter menjadi lebih dekat karena amarahnya yang memuncak. Dia tiba di hadapan Gian. Menerkamnya seperti harimau kelaparan. Hantaman demi hantaman ia luncurkan. Sangking kuatnya balasan Apoi, Gian tak mampu berkutik.

- Iklan -

Kedua teman Gian berlari tunggung langgang. Melihat Apoi seperti kesetanan. Keempat sahabat Apoi melerainya. Menjauhkan Apoi dari Gian yang kini babak belur. Salah satu dari mereka membawa Gian, meminta bantuan dan kembali ke rumahnya. Sedang dua lainnya menenangkan Apoi.

Namun Apoi memilih tak mengubris siapapun. Ia berlari menjauhi temannya, pulang dan mengunci diri di kamar.

***

- Iklan -

Ramai-ramai suara terdengar dari luar. Pajirah dengan pelan membuka pintu, berdebar-debar melihat beberapa tetangga mendatangi rumahnya dengan wajah yang tidak bersahabat.

“Mana Apoi?” teriak Sulaiman, salah satu tetangga mereka.
“Tenang, ada apa ini? Jangan ribut-ribut, apa yang terjadi?” tangan keriput itu mengalun-alun mengisyaratkan mereka agar tenang.

Empat pria dewasa yang masih saling berhubungan keluarga. Ayah Gian, adik-adiknya, dan pamannya.

“Cucumu itu sudah melukai Gian. Sekarang Gian terbaring di rumah sakit,” teriak salah satu paman Gian.
Astagfirullah,” Pajirah menghembuskan napas berat. “Tidak mungkin, Apoi tak mungkin melakukannya tanpa alasan,” bela Pajirah pada cucu pendiamnya itu.
“Tidak mungkin bagaimana? Kalau tidak percaya tanya sama anak nakal itu!” teriak Ayah Gian.

Pajirah mulai sulit mengatur napas. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk meninggalkan rombongan, tak lama kemudian ia keluar mengibas-ibaskan sapu lidi pada mereka.

“Pergi! Pergi! Pergi dari rumah saya!”

Mendengar keributan dari luar, Apoi membuka kamarnya. Bergegas ia menemui sang Nenek yang bernapas turun naik seraya marah-marah pada keluarga Gian.

“Nenek, nenek hentikan Nek!”

Sementara Apoi menenangkan Neneknya. Ayah Gian berkesempatan menarik Apoi, Meminta pertanggung jawabannya, dan berniat membawa Apoi ke kantor berwajib.

Sementara Pajirah mulai hilang kesadaran. Riwayat penyakit jantung yang turun menurun kini ia rasakan kembali setelah lima tahun lalu saat  Ayah Apoi meninggal.

Tak sanggup melihat cucunya yang kini diseret paksa, Pajirah mulai hilang kesadaran. Kericuhan yang terjadi begitu cepat, Pajirah terduduk lesu pandangannya kini perlahan memudar, suara Apoi yang berteriak memanggilnya kian mengecil, kemudian semua hal yang ada di depannya menjadi kabur, berbayang, dan hilang.

***

Setelah pulang sekolah, Apoi melihat pintu rumah dalam keadaan terbuka. Batinnya berpikir, seseorang telah masuk ke rumah, siapa yang tahu letak kunci di bawah pot bunga selain dia dan Pajirah.

Bergegas Apoi mendekat, dan melihat ke dalam. Beberapa tas, koper, dan kardus tergeletak di samping kursi tamu.

Ia masuk dan mendengar suara wanita. Sedikit asing, tapi ia tahu itu siapa. Wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan lamanya.

“Ibu,” panggil Apoi pelan.

Mustini keluar kamar, tanpa berbasa basi memeluk Apoi, erat, dan menciumi keningnya berkali-kali. Sudah lebih dari tiga tahun, pelukan ini tak ia dapatkan. Berbeda saat Pajirah masih di sini, meski jarang memeluknya, Pajirah selalu menomor satukan cucunya itu.

“Kapan Ibu tiba?” tanya Apoi di sela-sela suasana haru itu.
“Baru saja, kamu sudah besar Poi. Emak mendidikmu dengan sangat baik,” lagi Mustini memeluknya. Kini deraian air mata antara Ibu dan anak itu deras mengucur seketika ia berkata tentang Pajirah.
“Ayo Bu, kita mengunjungi Nenek,” ajak Apoi yang kini duduk di kelas satu Sekolah Menengah Pertama itu.

***

Angin semilir membawa sejuk suasana. Sang surya yang sempat membuat gerah desa ini, menjadi teduh tertutup awan kumulus. Alam seakan menyambut baik kedatangan Ibu dan anak itu.

Apoi melangkah lebih dahulu, menelusuri tapak demi tapak jalanan. “Assalamualaikum Nek,” ucap Apoi setelah tiba di depan sebuah makam.

“Apoi, datang lagi. Hari ini, hari istimewa. Apoi datang bersama Ibu. Nenek rindu, kan? Apoi pun rindu. Tapi sekarang, sudah terobati. Ibu sudah di sini, di depan kita. Apoi tak kesepian lagi,” ucapnya lirih menyentuh gundukan tanah milik makam Pajirah.

Mustini duduk mendekati nisan yang masih berupa kayu, dan kini sedikit usang.

Ia mengelus lembut nama sang Ibu yang melekat di kayu itu. Setetes demi setetes air matanya tak tertahan. Apalagi mendengar ucapan Apoi barusan. Begitu lama ia tinggalkan kedua orang tersayang ini. Hingga sampai ia pulang, hanya tinggal nama di atas makam yang bisa ia peluk.

“Assalamualaikum Mak, iya ini aku Mak, Mustini …” rasanya tak sanggup Mustini meneruskan. Banyak hal yang ia ingin ceritakan, tapi sudah tak ada gunanya. Saat sang Ibu sudah berpulang.

“Maafkan Mustini, Mak,” perempuan bertudung putih itu terus meminta maaf, menahan sesak dalam hati. Berusaha untuk tidak meratap. Namun, air matanya tetap saja mengalir deras.

“Terima kasih, sudah mendidik Apoi dengan sebaik-baiknya. Mustini, tidak tahu harus bilang apalagi. Maafkan Mustini, Mak! Maafkan anakmu ini!”

Mustini menunduk merasa bersalah yang teramat dalam. Melihat sang Ibu sangat terpukul, Apoi menenangkan. Mengelus halus pundak Ibunya, kemudian mengajaknya menadahkan kedua tangan.

“Ayo kita doakan Nenek, Bu!” ajaknya pelan.

Mustini berusaha mengusap wajahnya yang basah. Kemudian mendengarkan, mengaminkan lantunan doa yang di lafadzkan oleh anak laki-lakinya itu.

***

“Nenek!” jeritnya saat melihat Pajirah terjatuh dan tak sadarkan diri. Berlari Apoi melepaskan diri kemudian menemui Pajirah. Seraya memanggil-manggil namanya, beberapa orang yang lewat mendekat dan memberikan tumpangan untuk segera ke rumah sakit terdekat.

setibanya di rumah sakit, Apoi menuntun Pajirah sampai mendapat penangan tim medis.

Salah satu dokter meminta Apoi menunggu di luar, sementara mereka berusaha menangani Pajirah yang kini dinyatakan koma.

Selang tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dengan wajah suram. Dia duduk mendekati Apoi. Membuka kacamatanya, kemudian mulai bicara pelan.

“Nak, dimana orang tuamu?” tanyanya pelan.
“Ibu saya di Jerman, Pak. Bekerja jadi TKW,” jawab Apoi gemetaran. “Siapa lagi keluarga yang bisa kami temui selain Ibumu?”

Apoi terdiam, tak ada yang bisa ia pikirkan kecuali, Ibu dan Nenek. Karena mereka memang tinggal sebatang kara, tanpa kerabat dekat, karena semuanya berbeda provinsi, dan merekapun jarang berkomunikasi dengan adik beradik menengah ke atas.

“Tidak ada, Pak! Kami hanya tiga orang dalam keluarga, Ibu, Nenek, dan aku” jawab Apoi polos.

Sempat bingung harus bicara apa. Seketika kepala desa tiba.

Kepala desa menjelaskan bahwa memang tak ada keluarga lain, di desa mereka hanya bertiga.

Dokter menjelaskan keadaan Pajirah kepada Kepala Desa, berharap warga desa dapat mengurus Pajirah dan Apoi dengan baik.

“Nak, sini Bapak mau bicara,” panggil Kepala desa pada Apoi. “Bagaimana keadaan Nenek, Pak?” tanya Apoi penuh kegelisahan.

“Nak, Nenekmu terkena serangan jantung. Para dokter sudah melakukan pertolongan sebaik-baiknya. Namun, Allah berkehendak lain, Dia lebih sayang dengan Nenek,” ucap Pak Kades berusaha menenangkan Apoi.
“Nenek dimana, Pak? Apoi mau ketemu,” kini Apoi meninggikan suara, seakan tak percaya ucapan pria nomor satu di desanya itu.
“Nenek sudah tenang, Nak. Kamu yang sabar, kita akan bawa jenazahnya pulang dan Bapak bersama warga akan urus pemakamannya,”

Masih tak percaya, Apoi, memaksa masuk. Mau tidak mau, dokter dan pak kades memperlihatkan almarhuma Neneknya.

Berapa kali Apoi meminta maaf pada sang nenek. Dia memeluk wanita rentah itu, menangis dan terus meminta maaf.

“Maafin Apoi, Nek! Ayo bangun! Apoi janji nggak bakal berantem lagi, Apoi janji! Siapa yang akan menemani Apoi, Nek. Bangunlah, Apoi mohon! Kali ini Apoi berjanji tidak akan berkelahi lagi, tidak lagi!”

Apapun yang ia lakukan, wanita tua yang selalu membuatnya hangat, nyaman, dan selalu ada untuknya itu, sekarang telah tiada.

Sebuah karya cerpen berjudul ‘Janji Apoi’ oleh Hesty Purnamasari 

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU