Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Strict Parents? Ini Pemicunya

FAJAR Pendidikan

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Strict Parents? Mengapa orang tua ada yang memiliki gaya pengasuhan ototriter dan menjadi sosok strict parents?

Dalam ilmu psikologi, strict parents adalah orang tua yang memiliki standar tinggi serta sering kali menuntut anaknya.

Sebagian orang tua, mungkin masih percaya bahwa cara pengasuhan yang ketat, dapat membuat anaknya menjadi sosok yang lebih hebat kelak. Akan tetapi, memberikan pengasuhan dengan cara strict parents, justru dapat berdampak negatif pada anak.

Ketika orang tua memberikan standar tinggi kepada anak dan memberi dukungan diserta dengan kasih sayang, maka tandanya orang tua tersebut memiliki gaya asuh yang otoritatif.

Gaya asuh tersebut, umumnya akan membuat anak menjadi sosok yang lebih baik. Namun, berbeda dengan gaya pengasuhan otoritatif tadi, gaya asuh strict parents umumnya tidak memiliki sifat otoritatif, akan tetapi cenderung otoriter.

Sosok strict parents dengan sifat otoriter dapat ditandai dengan perilaku yang dingin, tidak responsif serta cenderung tidak suportif kepada anaknya. Peraturan yang dibuat oleh strict parents pun dibuat dengan sewenang-wenang serta sangat ketat.

BACA JUGA :   4 Negara di Dunia Ini yang Memiliki Hari Libur Terbanyak

Perlu diketahui, bahwa gaya asuh strict parents bukanlah sesuatu hal yang tidak sengaja terjadi. Akan tetapi orang tua memang telah menetapkan bahwa ia melakukan pengasuhan pada anak dengan gaya strict parents.

Ada beberapa hal yang menjadi pemicu sebelum seorang orang tua menerapkan gaya asuh strict parents yang otoriter.

1. Memiliki pengalaman yang sama

Sebuah studi menjelaskan, bahwa pemicu utama seseorang menjadi sosok strict parents ialah karena ia memiliki pengalaman yang sama. Artinya, ia diasuh oleh orang tua dengan pola asuh ototriter.

Sehingga, ketika anak-anak tersebut dewasa, maka mereka pun menerapkan pola asuh yang sama, seperti ketika orang tua mereka mengasuhnya semasa kecil.

Orang tua dengan pengalaman yang sama, merasa lebih menyukai cara membesarkan anak dengan cara mereka sendiri serta pola dan sikap yang sama seperti orang tuanya. Mereka beranggapan, bahwa menjadi strict parents, merupakan cara yang tepat untuk membuat anak menjadi lebih disiplin.

BACA JUGA :   4 Negara di Dunia Ini yang Memiliki Hari Libur Terbanyak

2. Memiliki kepribadian atau sifat yang kurang menyenangkan

Setiap orang memiliki kepribadian yang unik dan berbeda-beda. Ada beberapa orang yang memiliki kepribadian ramah serta menyenangkan dan ada pula orang yang memiliki kepribadian sebaliknya.

Orang-orang dengan kepribadian yang kurang menyenangkan tersebut cenderung sulit untuk berempati pada orang lain serta sering memiliki pikiran yang negatif.

Sehingga, kemungkinan untuk menjadi sosok strict parents dinilai lebih besar. Hal ini dikarenakan mereka akan merasa kesulitan untuk membangun hubungan yang dekat dengan orang lain, bahkan dengan anak-anaknya sendiri.

3. Memiliki neurotisme tinggi

Menurut sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2018 di Iranian Journal of Psychiatry, menunjukan bahwa strict parents memiliki kecenderungan untuk memiliki tingkat neurotisme yang cukup tinggi.

Neurotisme ialah suatu dimensi kepribadian yang menyangkut kestabilan dari emosi yang dimiliki oleh seseorang. Neurotisme tersebut ditandai oleh kecemasan, keraguan, memiliki perasaan negatif pada beragam hal, hingga depresi.

Bagikan:

Maaf komentar belum bisa digunakan

BERITA DAERAH

BACA JUGA

- ADV D1 -
- ADV D2 -

TERKINI