Perihal Mentari dan Pandangannya

“Aku bisa mengendusnya, Ares. Aroma aneka parfum dari kemeja atau jas Fajar,” senyum Mentari merekah, namun ia tertunduk lesu. “Aku sudah tahu.”

Ares tak habis pikir. “Lalu kenapa—?

“Harapan.”

- Iklan -

Ares mengernyit.

“Meski kita semua tahu lelaki seperti apa Fajar itu, tapi aku masih tetap kekasihnya, dan kau pun tetap sahabatnya. Dia masih menganggapku kekasihnya pula. Semuanya karena harapan. Lagipula, begitulah hidup: kadang kita harus terus rekat pada pihak yang kita anggap merugikan sampai ia membawa keuntungan bagi kita,” Mentari diam sejenak untuk meraba cangkir tehnya dan menghirupnya.

“Kehidupan ini, katanya, sangat rumit. Mataku ini membuatnya jadi lebih sederhana. Aku cukupkan saja, Ares, kehidupanku yang sederhana ini. Bagaimana orang-orang-orang memperlakukanku, biarlah itu jadi urusan mereka. Sekadar bernapas dan berpikir—mungkin sesekali membaca—sudah cukup bagiku. Lain-lainnya adalah penunjang untuk aktivitas utama itu.”

- Iklan -

Ares menghela napas lesu sembari memandangi seluruh ruang tamu itu. Luas, sangat bersih, dan banyak perabot berkelas. Keluarga Mentari jelas memiliki hampir semuanya kecuali kemiskinan. Ruang tamu ini menjadi saksi bagaimana Ares berusaha membuat Mentari tertarik untuk bisa melihat.

Tanpa Ares pernah menyangka, ruang tamu yang sama menjadi saksi bagaimana akhirnya Mentari memamerkan kemampuan melihatnya, tiga bulan setelah kematian Fajar, setahun setelah percakapan ini diakhiri. Di saat itu, Ares tahu, bahwa tak akan pernah ada kehidupan yang sederhana—dengan atau tanpa mata.

“Tak kusangka, betapa mudah kita dapat melegakan napas atas kepergian seseorang ya,” kata Mentari dengan senyum dan pandangan tajam.

- Iklan -

Ares mengernyit. “Bila aku ditinggal mati istriku, aku akan bersedih sepanjang sisa usia. Kecuali bila aku yang membunuhnya…”

“Dan aku adalah pengecualian itu,” Mentari tersenyum ramah pada Ares.

“Ahahahahaha!” Ares memaksa tawanya.

Mentari masih tersenyum.

Ares terkesiap.


Penulis: Gilang Satria Perdana


BACA CERPEN LAINNYA DISINI

- Iklan -

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU